Zakaria Hatta
Universitas YAPIS Papua

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perusaiiaan Melakukan Right Issue Di Bursa Efek Indonesia Zakaria Hatta
Jurnal Manajemen Perbankan Keuangan Nitro Vol. 1 No. 2 (2018): Juli 2018
Publisher : LP2M IBK Nitro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.332 KB)

Abstract

Right Issue merupakan cara yang disukai emiten dalam menghimpun dana, karena Right Issue memberikan kesempatan bagi pemilik saham lama untuk mempertahankan proporsi saham mereka. Penerbitan Right Issue biasanya ditujukan untuk memperoleh dana tambahan dari investor atau masyarakat baik untuk kepentingan pembayaran utang, ekspansi usaha, dan lainnya. Kebijakan perusahaan melakukan Right Issue merupakan upaya untuk menghemat biaya emisi serta menambah jumlah saham, beredar. Dari sisi emiten, Right Issue merupakan upaya penambahan modal dengan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan IPO (Initial Publik Offering) sebab Right Issue tidak memerlukan banyak jasa, seperti penjamin emisi, penilai, konsultan hukum dan jasa lainnya. Secara teoritis, terdapat 7 (tujuh) alasan (motif) perusahaan melakukan right issue yakni : untuk ekspansi usaha melalui merger, akuisisi, take over, dan leverage buyout, untuk membayar kewajiban jatuh tempo, untuk meningkatkan likuiditas saham, untuk restrukturisasi, untuk modal kerja, untuk meningkatkan jumlah saham beredar, dan untuk meningkatkan porsi kepemilikan saham. Dengan melakukan pengamatan terhadap 70 (tujuh puluh) perusahaan yang melakukan right issue pada tahun 2010-2015, hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya 5 (lima) motif perusahaan melakukan right issue yakni: untuk ekspansi usaha, restrukturisasi, modal kerja, bayar kewajiban jatuh tempo, dan meningkatkan jumlah saham beredar. Selain itu, diperoleh motif baru dalam melakukan right issue di Indonesia yakni: untuk penyaluran kredit korporasi pada sektor perbankan.
PUBLIC PERCEPTIONS OF THE GREAT SEA WALL: A NETNOGRAPHIC STUDY ON PUBLIC BUDGETING, TRUST, AND RESISTANCE Fahrudin Pasolo; Muhammad Ridhwansyah Pasolo; Zakaria Hatta; Abdul Rasyid
Jurnal Riset Akuntansi Dan Bisnis Airlangga Vol 11 No 1 (2026): Jurnal Riset Akuntansi dan Bisnis Airlangga (JRABA)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jraba.v11i1.77875

Abstract

The Great Sea Wall (GSW), valued at USD 80 billion and announced in 2025, sparked debate in Indonesia during fiscal austerity. This study fills a gap by examining TikTok citizen discourse on fiscal governance and legitimacy, areas rarely explored in accounting and public budgeting research. Data were collected from 1,568 comments on President Prabowo Subianto’s viral speech and filtered by likes and replies to capture the most resonant voices. Using manual thematic coding and NVivo visualization, four dominant themes emerged: concerns over budget efficiency, corruption, cynicism about policy continuity, and critiques of Java-centric development, with limited support framed around national pride and security considerations. Word-frequency analysis confirmed the centrality of fiscal terms such as “budget,” “corruption,” and “government.” Findings show that citizens evaluate megaprojects mainly through transparency, accountability, and distributive justice. This study contributes to public sector accounting and public budgeting literature by demonstrating how digital discourse functions as an informal arena of fiscal accountability and legitimacy assessment. The study concludes that integrating digital sentiment with performance-based budgeting, e-budgeting, and participatory oversight can strengthen fiscal legitimacy and restore citizen trust.