Perkerasan lentur pada jalan tol memiliki peran penting dalam mendukung mobilitas dan distribusi logistik nasional, terutama pada ruas dengan volume lalu lintas tinggi. Ruas Subang–Cikedung pada Jalan Tol Cikopo–Palimanan mengalami beban lalu lintas berat yang mempercepat kerusakan perkerasan sehingga memerlukan pemeliharaan rutin melalui metode patching. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan efektivitas serta efisiensi metode patching cold mix dan hot mix berdasarkan data pemeliharaan tahun 2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif–komparatif dengan metode studi kasus. Data sekunder meliputi catatan kerusakan perkerasan, volume pekerjaan, frekuensi kerusakan berulang, durasi perbaikan efektif, waktu respons Service Level Agreement (SLA), dan biaya pemeliharaan. Analisis dilakukan menggunakan indikator teknis dan ekonomis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode hot mix lebih efektif dengan frekuensi kerusakan berulang lebih rendah serta durasi efektif rata-rata sekitar 21 hari, dibandingkan cold mix yang hanya 2–3 hari. Meskipun cold mix unggul pada respon awal (59,68% hari ke-0), hot mix menunjukkan kinerja lebih stabil dan berkelanjutan. Dari sisi biaya, hot mix lebih efisien dengan tingkat efisiensi 92,97% serta mampu menurunkan biaya pemeliharaan jangka panjang. Disimpulkan bahwa hot mix merupakan metode paling optimal untuk pemeliharaan rutin karena keseimbangan antara kinerja teknis dan efisiensi biaya. Cold mix direkomendasikan hanya untuk perbaikan darurat, sedangkan hot mix diprioritaskan untuk strategi pemeliharaan jangka panjang. Implikasi penelitian ini menunjukkan perlunya optimalisasi strategi pemeliharaan berbasis efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan jalan tol.