Effrata Effrata
Universitas PGRI Palangka Raya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERAN PEMERINTAH DALAM MELESTARIKAN RITUAL MIWIT ABEH DI DESA DAYU KECAMATAN KARUSEN JANANG KABUPATEN BARITO TIMUR Effrata Effrata; Firdaus Firdaus
JURNAL SOCIOPOLITICO Vol 2 No 2 (2020): JURNAL SOCIOPOLITICO
Publisher : FISIPOL Universitas PGRI Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.635 KB) | DOI: 10.54683/sociopolitico.v2i2.28

Abstract

Kebudayaan adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama, politik, adat istiadat, bahasa, pakaian, bangunan dan karya seni. Desa Dayu yang memiliki ciri khas upacara ritual yang dikenal dengan Miwit Abeh. Dalam upaya masyarakat tentu perlu dukungan dari pemerintah khususnya pemerintah desa dalam melestarikan ritual Miwit Abeh ini agar tidak musnah di tengah perkembangan zaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peran pemerintah desa dalam melestarikan ritual Miwit Abeh di desa Dayu, Kecamatan Karusen Janang, Kabupaten Barito Timur serta mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian yaitu menggunakan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa Salah satu bentuk dari dukungan dari pemerintah Desa Dayu terhadap tradisi ritual Miwit Abeh yaitu, menyediakan sarana dan prasarana berupa rumah adat dan ikut berpartisipasi melibatkan diri dalam pelaksanaan tersebut. Faktor pendukung dalam melestarikan ritual Miwit Abeh yaitu selain dari peran pemerintah khususnya pemerintah desa juga dari masyarakat desa yang ikut mempromosikan melalui media masa. Faktor penghambat internal yang menjadi penghambat yaitu sikap individu di dalam masyarakat untuk lebih mencintai tradisi sendiri masih sangat rendah, adapun faktor eksternalnya adalah munculnya acara-acara modern seiring perkembangan zaman yang menarik perhatian kaum muda khususnya, sehingga mengurangi minat mereka akan ritual-ritual tradisional yang mereka anggap kuno. Dapat disimpulkan bahwa peran pemerintah khususnya pemerintah desa sangat mempengaruhi dalam pelestarian budaya-budaya khususnya ritual Miwit Abah yang sudah ada sejak turun temurun. Menjadi tantangan semua pihak baik pemerintah amaupun masyarakat agar bisa menumbuhkan sikap peduli budaya kepada generasi selanjutnya agar ritual seperti Miwit Abeh ini tidak musnah.
JEJAK NANSARUNAI DAN TANTANGAN GLOBALISASI Effrata Effrata
JURNAL SOCIOPOLITICO Vol 3 No 1 (2021): JURNAL SOCIOPOLITICO
Publisher : FISIPOL Universitas PGRI Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.653 KB) | DOI: 10.54683/sociopolitico.v3i1.38

Abstract

Nansarunai disebut dalam sebuah nyanyian (wadian) dari masyarakat asli, yaitu masyarakat dayak maanyan. Menurut Sutopo Ukip Bae, dkk. (2000: tanpa halaman) nansarunai yang terdiri dari masyarakat maanyan sudah mendiami DAS Barito jauh sebelum muncul kerajaan Dipa, sebagai hasil penaklukan Majapahit. Wilayah kekuasaan nansarunai diyakini berada diwilayah sekitar sungai tabalong. Nansarunai adalah sebuah kerajaan yang makmur pada masanya, banyak pendapat dan temuan-temuan yang memperlihatkan hasil yang berbeda tentang nansarunai, akan tetapi suku dayak maanyan tetap percaya pada cerita turun-temurun yang diwariskan oleh nenek moyang utus nansarunai. Oleh sebab itu tulisan ini akan membahas tentang bagaimana cara generasi dayak maanyan mempertahankan eksistensi dan sejarah nansarunai di tengah tantangan globalisasi. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriftif karena data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar dan bukan berupa angka. Metode penelitian deskriptif yaitu mengupayakan suatu penelitian dengan cara menggambarkan secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dari suatu peristiwa serta sifat-sifat dari individu dan keadaan masyarakat. Pendekatan penelitian yang digunakan ialah pendekatan kualitatif. Menurut Bogdan dan Guba, metode penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Orang-orang nansarunai zaman dahulu menyimpan sesuatu lewat bunyi dan gambar, sehingga yang sampai pada generasi-generasi selanjutnya adalah berupa perkataan dan pemahaman yang hanya dipahami oleh orang-orang dayak maanyan karna memang mereka telah diajarkan dari turun temurun. Sebagai contoh pada saat upacara-upacara yang mengunakan bahasa-bahasa yang hanya mereka yang paham. Semula semuanya didengarkan dihapalkan, baru kemudian dituliskan dalam bentuk aksara. Budaya nansarunai adalah tahap awal dari peradaban bunyi dan gambar, belum menuju aksara. Di tengah tantangan globalisasi cara menjaga eksistensi budaya nansarunai adalah dengan memperkaya pengetahuan tiap individu untuk mempelajari dan melestarikian budaya agar tidak punah.
Efektivitas Intervensi Peer Education sebagai Strategi Pencegahan Pergaulan Bebas pada Mahasiswa di Perguruan Tinggi Sriyana Sriyana; Effrata Effrata; Silvia Arianti; Resviya Resviya; Rosmawiah Rosmawiah
Takuana: Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Vol. 5 No. 1 (2026): Takuana (April-June)
Publisher : MAN 4 Kota Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56113/takuana.v5i1.471

Abstract

This study aims to examine the effectiveness of peer education-based counseling in preventing risky social behavior among university students at Universitas PGRI Palangka Raya. A quantitative approach with a pre-experimental one-group pretest–posttest design was employed, involving 50 students selected through purposive sampling. Data were collected using questionnaires, observation, and documentation, and analyzed using descriptive statistics. The findings revealed a significant improvement in students’ knowledge and attitudes after the intervention. The mean score increased from 59.86 (pre-test) to 81.74 (post-test), indicating an overall improvement of approximately 36.6%. In addition, knowledge increased by 24% and attitudes by 22%. These results demonstrate that peer education is highly effective due to social proximity, interactive learning methods, and peer influence. However, several challenges were identified, including limited time, varying levels of participant understanding, and limited learning facilities. Overall, this study highlights the potential of peer education as a sustainable and participatory strategy for preventing risky behavior in higher education settings.