Hadiyanto Hadiyanto
Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Daya Lampu Terhadap Proses Pengeringan Jamur Tiram Berbasis Lampu Infrared Titik Nurmawati; Hadiyanto Hadiyanto; Cahyadi Cahyadi; Noor Fachrizal
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.14627

Abstract

Pengeringan merupakan salah satu proses untuk memperpanjang masa simpan dari bahan yang dikeringkan. Jamur tiram merupakan suatu komoditas yang mempunyai masa simpan yang cukup singkat karena mempunyai kadar air yang cukup tinggi. Untuk memperpanjang masa simpan perlu dilakukan proses pengeringan. Banyak metode pengeringan yang dapat dilakukan untuk mengeringkan jamur tiram. Metode pengeringan dengan memanfaatkan sinar infrared dianggap sebagai metode yang cukup menjanjikan baik dari segi lama proses pengeringan, jumlah energi yang digunakan maupun biaya. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan proses pengeringan jamur tiram dengan menggunakan lampu infra dengan menggunakan 3 level daya lampu. Adapun variasi level daya lampu (432 W, 504 W dan 624 W) dan berat bahan yang dikeringkan sebesar 500 gram. Parameter yang diamati meliputi penurunan kadar air terhadap waktu, perubahan temperatur dalam ruang pengering terhadap waktu dan specific energy consumption/SEC (kWh/kg). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan kadar air tercepat terjadi pada penggunaan level daya 624 W dimana kadar air tercapai sebesar 7,1% dalam waktu 130 menit. Level daya 624 W juga mencapai temperatur tertinggi sebesar 84°C dalam ruang pengering. Sedangkan specific energy consumption/SEC tertinggi yaitu 3,598 kWh/kg pada penggunaan level daya 432 W. Pengeringan jamur tiram menggunakan lampu infrared dengan daya 624 W lebih baik dibandingkan dengan level daya yang lainnya jika dilihat dari segi SEC paling rendah, kecepatan penurunan kadar air dan pencapaian temperatur dalam ruang pengering.
Analisis Perkiraan Kebutuhan Energi Sektor Rumah Tangga dengan Skenario BAU (Business As Usual) Menggunakan Perangkat Lunak LEAP (Low Emission Analysis Platform) di Provinsi Sumatera Selatan Wais Alqurni; Hadiyanto Hadiyanto
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 4, No 1 (2023): Maret 2023
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2023.16908

Abstract

Berdasarkan kebutuhan energi final pertahun yang mengalami peningkatan pada sektor rumah tangga perlu dikaji lebih dalam. Pengkajian ini bertujuan untuk memastikan pasokan energi primer aman dalam jangka panjang selama periode 2022-2040, dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,32 %  per tahun. Dampak dari pertumbuhan penduduk mengakibatkan total kebutuhan energi final dan primer dalam skenario BAU meningkat. Total kebutuhan energi final sektor rumah tangga meningkat dari 3,8 Juta SBM pada tahun 2021 menjadi 4,9 Juta SBM pada tahun 2040 atau meningkat rata-rata sebesar 5% per tahun. Sedangkan total kebutuhan energi primer yang dibutuhkan di tahun 2022 sebesar 6,1 Juta SBM dan di tahun 2040 sebesar 7,7 Juta SBM atau meningkat rata-rata sebesar 8,42% per tahun. Dalam sektor rumah tangga, energi final meliputi energi listrik dan LPG sedangkan energi primer merupakan energi yang ditransformasikan menjadi energi final ialah berupa gas sumber untuk LPG dan diesel sumber untuk pembangkit listrik tenaga diesel. Dengan demikian, apabila tidak ada kebijakan energi maka sesuai dengan hasil modeling yang dilakukan menggunakan model LEAP untuk skenario BAU dibutuhkan energi final berupa energi listrik dan LPG berturut-turut sebesar 2,5 dan 2,3 juta SBM pada tahun 2040. Sedangkan untuk kebutuhan energi primer gas dan diesel pada tahun yang sama ialah berturut-turut sebesar 2,3 dan 5,4 juta SBM.