Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH TEMPERATUR TERHADAP PERILAKU DAN KEKUATAN KOLOM TERKEKANG Deni Teras
Jurnal Teknologi Berkelanjutan Vol 2 No 02 (2013): Vol 02 No. 02
Publisher : Lambung Mangkurat University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1170.022 KB)

Abstract

Salah satu penggunaan beton mutu tinggi sebagai elemen struktur beton bertulang yang berfungsi sebagai daya dukung dan pengaku adalah kolom. Perilaku struktur kolom beton bertulang dengan pengekangan akibat temperatur tinggi perlu dipahami untuk menentukan apakah struktur kolom itu akan diganti atau hanya diperbaiki saja. Model yang digunakan sebagai validasi adalah hasil eksperimental (Faris Ali, 2010), dengan dimensi 127 x 127 mm² dengan tinggi 1800 mm, tulangan longitudinal 4Ø12 dengan mutu baja fy = 400 MPa, tulangan tranversal Ø6-120 dengan mutu baja fy = 240 MPa, sedangkan mutu beton tinggi fc’ = 104,5 MPa dan temperatur 867°C. Selanjutnya dibuat model implementasi pada ANSYS dengan dimensi, mutu baja dan mutu beton yang sama tetapi menggunakan tulangan tranversal Ø10-50. Untuk model DT.01 menggunakan tulangan longitudinal 4Ø12, model DT.02 menggunakan tulangan longitudinal 8Ø12, model DT.03 dan model DT.04 menggunakan tulangan longitudinal 8Ø12 tetapi dengan variasi pengekangan. Variasi temperatur yang digunakan adalah 20°C, 200°C, 500°C dan 1000°C Berdasarkan FEA, didapatkan momen ultimit terbesar adalah model DT.03 sebesar 303,2244 kNm. Nilai tegangan puncak dipengaruhi jumlah tulangan longitudinal dan akan menurun dengan bertambahnya rasio tulangan geser pada temperatur 20°C untuk DT.03 dan DT.04. Sedangkan kenaikan temperatur akan menyebabkan menurunnya tegangan puncak pada kolom dan bertambahnya rasio tulangan geser akan meningkatkan regangan pada tegangan puncak. Nilai regangan pada tegangan puncak dipengaruhi oleh rasio tulangan geser, semakin besar rasio tulangan geser, maka nilai regangan pada tegangan puncak akan semakin meningkat hal ini karena nilai daktilitas meningkat. Selanjutnya semakin meningkat temperatur pada kolom, maka nilai regangan pada tegangan puncak akan semakin meningkat sampai temperatur 500°C dan akan menurun pada temperatur 1000°C. Nilai beban ultimit sangat dipengaruhi oleh tulangan longitudinal dan akan mengalami penurunan dengan bertambahnya rasio tulangan geser. Sedangkan pertambahan temperatur akan menyebabkan berkurangnya nilai beban ultimit. Pengaruh pengekangan, kenaikan temperatur dan penambahan tulangan longitudinal pada kolom menyebabkan nilai deformasi semakin meningkat, kecuali untuk temperatur 1000°C. Nilai daktilitas dipengaruhi oleh pengekangan dan temperatur. Semakin banyak pengekangan maka nilai daktilitas akan semakin meningkat dan semakin tinggi temperatur nilai daktilitas akan menurun. Perilaku ratak dari retak pertama yang terjadi pada bagian atas dan bawah kolom dan retak ultimit yang terjadi pada seluruh bagian kolom yang mana pola retak paling dominan terjadi yaitu retak lentur.
ANALISIS FUNGSI MANAJEMEN KONSTRUKSI DALAM PROYEK PEMBANGUNAN GEDUNG SAT INTELKAM POLRES SERUYAN Deni Teras; Budi Tjahjono; Muhammad Rafli Islamy
Jurnal Penelitian Jalan dan Jembatan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Penelitian Jalan dan Jembatan
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (UP2M) Politeknik Seruyan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59900/ptrkjj.v4i2.211

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi manajemen konstruksi dalam proyek pembangunan Gedung Sat Intelkam Polres Seruyan dan bagaimana pengaruhnya terhadap kelancaran proyek. Fokus kajian meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian proyek oleh manajemen konstruksi untuk mencapai efisiensi dan efektivitas proyek. Cara penelitian menggunakan pendekatan kualitatif yang mencakup analisis data deskriptif serta regresi linier berganda. Data dikumpulkan melalui kegiatan lapangan dan dianalisis dengan aplikasi SPSS. Hasil analisis regresi linier berganda menunjukkan hubungan linear moderat antara variabel-variabel independen (perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan) dan kelancaran proyek dengan nilai R sebesar 0.571. Nilai R Square sebesar 0.326 memperlihatkan bahwasanya sekitar 32.6% variasi dalam kelancaran proyek mampu dijelaskan variabel-variabel tersebut, sedangkan Adjusted R Square sebesar 0.146 menunjukkan model regresi ini hanya dapat menjelaskan sekitar 14.6% variasi kelancaran proyek. Uji T (parsial) menunjukkan bahwa tidak terdapat variabel manajemen yang memiliki pengaruh berarti penting bagi kelancaran proyek pada tingkat signifikansi 0.05. Uji F (simultan) mengindikasikan bahwa model regresi tidak signifikan secara statistik ketika menjelaskan dampak variabel-variabel manajemen pada kelancaran proyek dengan p-value 0.179.Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap kelancaran proyek secara individual maupun kolektif. Untuk riset berikutnya, diharapkan supaya memperluas jumlah sampel dan variabel yang diteliti guna memperoleh hasil yang lebih representatif dan komprehensif mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proyek konstruksi.