Ninawati Syahrul
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

BIAS GENDER DALAM DONGENG ANALISIS NARATIF TERHADAP CERITA RAKYAT “MALIN DEMANG DAN PUTI BUNGSU” Ninawati Syahrul
Prosiding Seminar Nasional Sasindo Vol 1, No 1 (2020): Prosiding Seminar Nasional Sasindo Unpam Vol.1 No.1 November 2020
Publisher : fakultas sastra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32493/sns.v1i1.7869

Abstract

Status perempuan dalam keluarga dan dalam relasi sosial budaya seakan tidak habis-habisnya menjadi topik perbincangan dalam fiksi modern, termasuk fiksi lawas semisal cerita rakyat atau dongeng. Cerita rakyat bagi leluhur kita acap digunakan sebagai sarana suara hati untuk mengekspresikan fenomena sosial yang berkaitan dengan kedudukan istri/perempuan dalam suatu keluarga. Sesungguhnya masa silam merupakan suatu keniscayaan sebagai cermin asupan untuk membenahi kehidupan  masa kini. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimanakah posisi perempuan yang dihadirkan dalam cerita rakyat “Malin Deman dan Puti Bungsu”? Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menjelaskan posisi perempuan yang dihadirkan dalam cerita rakyat “Malin Deman dan Puti Bungsu”. Penggambaran bias gender dalam ulasan ini dilakukan  dengan  menggunakan metode kualitatif dan model analisis wacana. Data diperoleh melalui studi pustaka dengan teknik analisis naratif dengan penekanan feminisme. Setidaknya terdapat tiga temuan yang diperoleh dalam penelitian ini. Pertama, sikap perempuan yang pasif, pemaaf, tidak agresif, dan menampilan sosok perempuan yang baik sesuai dengan kodratnya. Kedua, perempuan yang baik memperlihatkan sikap yang tidak mampu mengubah nasib mereka sendiri tanpa dukungan laki-laki yang mejadi suaminya. Ketiga, perempuan sebagai korban kesewenangan, kekuasaan, dan kepemilikan laki-laki. Simpulan atau hasil penelitian ini mengukuhkan stereotip gender bahwa perempuan yang layak menjadi istri  idaman adalah perempuan yang cantik, bertubuh gemulai sempurna, lemah tanpa daya, dan tidak mampu menolong dirinya sendiri tanpa dukungan pria atau pasangan hidupnya. Hal ini tentu saja  mengganjal “roh”  perjuangan  feminisme tentang  kesataraan antara perempuan dan kaum pria di negeri tercinta ini.