Nurjanna Joko Trilaksono
Institut Teknologi Bandung

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

EFEK PARAMETERISASI LAPISAN BATAS ATMOSFER TERHADAP PEMBENTUKAN GELOMBANG GRAVITAS DI SUMATERA BARAT [THE EFFECT OF ATMOSPHERIC BOUNDARY LAYER PARAMETERIZATION TO THE GENERATION OF GRAVITY WAVES OVER WEST SUMATERA] Dyah Ayu Putriningrum; Nurjanna Joko Trilaksono; - Noersomadi
Jurnal Sains Dirgantara Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1148.083 KB)

Abstract

Gelombang gravitas berperan dalam sirkulasi dinamika atmosfer dan mempengaruhi proses-proses di Lapisan Batas Atmosfer (LBA). Gelombang gravitas telah diidentifikasi dengan simulasi temperatur potensial dan kecepatan angin menggunakan model Weather Research and Forecasting–Advance Research WRF (WRF-ARW) dengan kondisi inisial dan kondisi batas model dari data final analyses (FNL) tanggal 16–17 Maret 2008. Simulasi dilakukan dalam tiga domain nested (bersarang) dengan resolusi horizontal paling tinggi sebesar 3 km. Metode simulasi dilakukan dengan membandingkan dua skema parameterisasi LBA yang berbeda yakni Medium Range Forecast (MRF) dan Yonsei University (YSU). Metode analisis menggunakan transformasi Fourier dan wavelet. Dari hasil simulasi, gelombang gravitas berhasil diidentifikasi dengan baik menggunakan skema MRF di atas Sumatera Barat saat aktivitas konveksi sedang terjadi dengan nilai Cloud Water Mixing Ratio (CWMR) sekitar 0,1-2,1 g/kg. Ciri-ciri gelombang gravitas yang terdeteksi merupakan gelombang gravitas berperiode singkat (~2 jam) dengan panjang gelombang horizontalnya 5–50 km. Perbedaan karakter gelombang gravitas yang dihasilkan simulasi, berhubungan dengan sensitivitas skema parameterisasi LBA dan resolusi grid horizontal. Gelombang gravitas dapat disimulasikan oleh skema MRF dengan resolusi horizontal 3 km yang dapat menghasilkan panjang gelombang yang lebih pendek.Kata kunci: Gelombang gravitas, Lapisan Batas Atmosfer, WRF-ARW, Parameterisasi
Turbulence analysis on the flight of Etihad airways in Bangka Island using the WRF case study May 4, 2016 Bayu Retna Tri Andari; Nurjanna Joko Trilaksono; Muhammad Arif Munandar
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 23, No 3 (2022): Special Issue
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v23i3.912

Abstract

Accurate weather forecasts should support the increase in safety of aviation operations in Indonesia. This weather forecast is needed, especially in detecting turbulence, considering that geographically Indonesia has effective solar radiation resulting in convective cloud formation. Convective clouds can trigger turbulence then produce disruption and even accidents on flights. This research uses a case study on the Etihad Airways flight on Bangka Island on May 4, 2016. At the time of the incident, there was turbulence at 39,000 feet altitude, and the aircraft did not enter the cloudy area. The Weather Research and Forecasting (WRF) model is used to simulate the turbulence in this study, which is downscaled up to 3 km with a microphysics parameterization of WRF Single Moment 6 Class (WSM6). The results were then verified using correlation and linear regression for temperature, wind direction, wind speed, and pattern resemblance between cloud fraction and the convective nuclei distribution. The turbulence is analyzed from the south-north and west-east vertical airflow. The turbulence spotted at 06.40 UTC when there is a quite strong updraft which can cause turbulence. The turbulence parameters used, such as the eddy dissipation rate (EDR) parameter, which has a value of 0.05 , Richardson number with a value of less than 0.25, and turbulence index (TI 1) with a maximum value of 4 x 10-7 s-2 found that turbulence was in a strong category. The turbulence that occurs in this study is identified as near cloud turbulence (NCT) event due to cloud formation observed in the west of the turbulence and intense updraft activity at the location of turbulence.
PEMISAHAN AWAN KONVEKTIF DAN STRATIFORM DALAM MENGKAJI SIKLUS DIURNAL DAN MIGRASINYA DI PEGUNUNGAN BAWAKARAENG SULAWESI SELATAN BERDASARKAN DATA RADAR CUACA Syamsul Bahri; Nurjanna Joko Trilaksono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol 20, No 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v20i2.424

Abstract

Aktivitas konvektif diurnal merupakan mode paling dominan di Benua Maritim Indonesia (BMI). Namun kajian yang telah dilakukan sebelumnya tidak memisahkan periode analisis berdasarkan musim sekaligus pemisahan awan konvektif dan stratiform. Selain itu, data yang digunakan terbatas baik resolusi temporal maupun horizontalnya. Adapun tujuan dari kajian ini untuk mengetahui siklus dan migrasi diurnal awan konvektif dan stratiform pada musim berbeda. Kajian migrasi sistem awan hujan dilakukan dengan menggunakan radar cuaca C-Band polarisasi tunggal yang berlokasi di Maros (4.997733o LS, 119.572014o BT) dan terletak pada bagian barat Pegunungan Bawakaraeng (PB) Sulawesi Selatan. Metode Steiner dkk., digunakan untuk mengklasifikasikan awan hujan menjadi dua yaitu awan konvektif dan stratiform. Pada bulan Desember-Januri-Februari (DJF) terdapat aktifitas awan hujan yang bermigrasi secara zonal (timur-barat) yaitu awan konvektif di laut yang bergerak ke darat mulai pagi hari hingga siang dan awan stratiform di darat (gunung) bergerak menuju laut. Selain itu awan hujan juga tampak bermigrasi secara meridional (utara-selatan) yang didominasi oleh awan konvektif. Hasil analisis temporal siklus diurnal menunjukkan bahwa awan stratiform terjadi setelah satu jam puncak awan konvektif. Pada bulan Maret-April-Mei (MAM) aktifitas awan konvektif hanya terdapat di darat (gunung) dan tidak tampak adanya migrasi, berbeda halnya dengan awan stratiform yang tampak bermigrasi ke laut yang sangat jelas terlihat pada wilayah PB bagian utara. Adapun siklus diurnal awan konvektif di pesisir dan gunung maksimum terjadi pada sore hari berbeda dengan awan stratiform yang terjadi dua kali yaitu pada sore hari dan awal pagi. Puncak siklus awan stratiform terjadi setelah dua jam puncak awan konvektif
PEMISAHAN AWAN KONVEKTIF DAN STRATIFORM DALAM MENGKAJI SIKLUS DIURNAL DAN MIGRASINYA DI PEGUNUNGAN BAWAKARAENG SULAWESI SELATAN BERDASARKAN DATA RADAR CUACA Syamsul Bahri; Nurjanna Joko Trilaksono
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 20 No. 2 (2019)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v20i2.424

Abstract

Aktivitas konvektif diurnal merupakan mode paling dominan di Benua Maritim Indonesia (BMI). Namun kajian yang telah dilakukan sebelumnya tidak memisahkan periode analisis berdasarkan musim sekaligus pemisahan awan konvektif dan stratiform. Selain itu, data yang digunakan terbatas baik resolusi temporal maupun horizontalnya. Adapun tujuan dari kajian ini untuk mengetahui siklus dan migrasi diurnal awan konvektif dan stratiform pada musim berbeda. Kajian migrasi sistem awan hujan dilakukan dengan menggunakan radar cuaca C-Band polarisasi tunggal yang berlokasi di Maros (4.997733o LS, 119.572014o BT) dan terletak pada bagian barat Pegunungan Bawakaraeng (PB) Sulawesi Selatan. Metode Steiner dkk., digunakan untuk mengklasifikasikan awan hujan menjadi dua yaitu awan konvektif dan stratiform. Pada bulan Desember-Januri-Februari (DJF) terdapat aktifitas awan hujan yang bermigrasi secara zonal (timur-barat) yaitu awan konvektif di laut yang bergerak ke darat mulai pagi hari hingga siang dan awan stratiform di darat (gunung) bergerak menuju laut. Selain itu awan hujan juga tampak bermigrasi secara meridional (utara-selatan) yang didominasi oleh awan konvektif. Hasil analisis temporal siklus diurnal menunjukkan bahwa awan stratiform terjadi setelah satu jam puncak awan konvektif. Pada bulan Maret-April-Mei (MAM) aktifitas awan konvektif hanya terdapat di darat (gunung) dan tidak tampak adanya migrasi, berbeda halnya dengan awan stratiform yang tampak bermigrasi ke laut yang sangat jelas terlihat pada wilayah PB bagian utara. Adapun siklus diurnal awan konvektif di pesisir dan gunung maksimum terjadi pada sore hari berbeda dengan awan stratiform yang terjadi dua kali yaitu pada sore hari dan awal pagi. Puncak siklus awan stratiform terjadi setelah dua jam puncak awan konvektif
Turbulence analysis on the flight of Etihad airways in Bangka Island using the WRF case study May 4, 2016 Bayu Retna Tri Andari; Nurjanna Joko Trilaksono; Muhammad Arif Munandar
Jurnal Meteorologi dan Geofisika Vol. 23 No. 3 (2022): Special Issue
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31172/jmg.v23i3.912

Abstract

Accurate weather forecasts should support the increase in safety of aviation operations in Indonesia. This weather forecast is needed, especially in detecting turbulence, considering that geographically Indonesia has effective solar radiation resulting in convective cloud formation. Convective clouds can trigger turbulence then produce disruption and even accidents on flights. This research uses a case study on the Etihad Airways flight on Bangka Island on May 4, 2016. At the time of the incident, there was turbulence at 39,000 feet altitude, and the aircraft did not enter the cloudy area. The Weather Research and Forecasting (WRF) model is used to simulate the turbulence in this study, which is downscaled up to 3 km with a microphysics parameterization of WRF Single Moment 6 Class (WSM6). The results were then verified using correlation and linear regression for temperature, wind direction, wind speed, and pattern resemblance between cloud fraction and the convective nuclei distribution. The turbulence is analyzed from the south-north and west-east vertical airflow. The turbulence spotted at 06.40 UTC when there is a quite strong updraft which can cause turbulence. The turbulence parameters used, such as the eddy dissipation rate (EDR) parameter, which has a value of 0.05 , Richardson number with a value of less than 0.25, and turbulence index (TI 1) with a maximum value of 4 x 10-7 s-2 found that turbulence was in a strong category. The turbulence that occurs in this study is identified as near cloud turbulence (NCT) event due to cloud formation observed in the west of the turbulence and intense updraft activity at the location of turbulence.