Buldan Muslim
LAPAN

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFEK CME HALO PENUH PADA IONOSFER LINTANG RENDAH DARI DATA GPS BAKO DI CIBINONG [EFFECT OF FULL HALO CME ON LOW LATITUDE IONOSPHERE FROM BAKO GPS DATA IN CIBINONG] Fakhrizal Muttaqien; Buldan Muslim
Jurnal Sains Dirgantara Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.159 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2017.v15.a2735

Abstract

A full halo coronal mass ejections (CMEs) are most energetic solar events that eject huge amount of mass and magnetic fields into heliosphere with 360o angular angle. The full halo CME effect on the ionosphere can be determined from the ionospheric total electron content (TEC) derived from GPS data. GPS data from BAKO station in Cibinong, satellite orbital data (brcd files) and intrumental bias data (DCB files) have been used to obtain TEC using GOPI software. Analysis of  the full halo CME data, Dst index, and TEC during October 2003 and February 2014 showed that the full halo CME could cause ionospheric disturbances called ionospheric storms. Magnitude and time delay of the ionospheric storms  depended on the full halo CME speed. For the high-speed full halo CME, the negative ionospheric storm generally occured during recovery phase of the geomagnetic storm. When the initial phase of geomagnetic disturbance with increasing Dst index more than +30 nT, the ionospheric storm occured during main phase of geomagnetic disturbance although the main phase of geomagnetic disturbance did not reach geomagnetic storm condition. ABSTRAKCoronal mass ejection  (CME) halo penuh merupakan peristiwa matahari  berenergi tinggi, yang menyemburkan massa dan medan magnet ke heliosfer dengan sudut angular sebesar 360º. Efek  CME halo penuh pada ionosfer dapat diketahui dari Total Electron Content (TEC). Data GPS BAKO di Cibinong, data orbit satelit (file brcd) dan data bias instrumental (file DCB) dapat digunakan untuk penentuan TEC menggunakan software GOPI. Analisis data CME halo penuh, indeks Dst, dan TEC selama bulan Oktober 2003 dan Februari 2014 menunjukkan bahwa CME halo penuh dapat menimbulkan gangguan ionosfer yang disebut badai ionosfer. Besar dan selang waktu badai ionosfer setelah terjadinya CME, tergantung pada kelajuan CME halo penuh. Untuk CME halo penuh berkelajuan tinggi, badai ionosfer negatif umumnya terjadi pada fase pemulihan badai geomagnet. Jika fase awal gangguan geomagnet diawali dengan peningkatan indeks Dst melebihi +30 nT, maka badai ionosfer dapat terjadi pada fase utama gangguan geomagnet walau gangguan geomagnet setelah  fase awal tidak mencapai kondisi badai geomagnet. 
PERFORMA METODE PRECISE POINT POSITIONING (PPP) DENGAN KOREKSI IONOSFER ORDE 1 Dadang Handoko; Nurrohmat Widjadjanti; Buldan Muslim
Elipsoida : Jurnal Geodesi dan Geomatika Vol 2, No 02 (2019): Volume 02 Issue 02 Year 2019
Publisher : Department of Geodesy Engineering, Faculty of Engineering, Diponegoro University,Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/elipsoida.2019.4925

Abstract

Global Positioning System (GPS) merupakan salah satu dari teknologi Global Navigational Satelite System (GNSS), yang digunakan untuk menentukan posisi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan bernavigasi, pemantauan struktur bangunan, landslide, gempa bumi maupun tsunami. Penentuan posisi secara aboslut atau Precise Point Positioning saat ini berkembang dengan cepat seiring dengan meningkatnya akurasi posisi yang dihasilkan. PPP merupakan alternatif penentuan posisi dengan menggunakan metode absolut yang dapat mecapai akurasi dalam skala sentimeter maupun desimeter atau bahkan hingga milimeter. Pada penelitian ini menggunakan data pengamatan dual frekuensi dari CORS CBAL, CPAL, CAMP, CMLI, CRAU yang kemudian diolah menggunakan software GoGPS metode PPP dengan menggunakan koreksi ionosfer orde 1. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini yaitu pada stasiun CORS CAMP, CBAL, CPAL, CRAU dan CMLI diperoleh hasil standar deviasi berkisar antara dm hingga cm. Waktu konvergensi yang diperlukan mencapai 3,3jam untuk mendapatkan solusi dengan level mm. Nilai standar deviasi yang paling kecil terdapat pada hasil penentuan posisi stasiun CORS CAMP dan CBAL.