Rhorom Priyatikanto
Space Science Center, National Institute for Aeronautics and Space (LAPAN)

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

USIA DAN KEGANDAAN OGLE-LMC 316/317 (THE AGE AND BINARITY OF OGLE-LMC 316/317) Rhorom Priyatikanto
Jurnal Sains Dirgantara Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.085 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2017.v15.a2423

Abstract

Large Magellanic Cloud (LMC) is a home of thousands of star clusters with various ages and metallicities. This galaxy also becomes the ideal laboratory for understanding binary cluster population which is large in number. One of the binary cluster candidates within the galaxy is OGLE-LMC 316/317 which is located near the bar of LMC. The age of OGLE-LMC 317 had not been determined, while the age of OGLE-LMC 316 was doubted. Whereas, age is an important parameter in the study of system binarity. In this study, photometry data from Optical Gravitational Lensing Experiment (OGLE) was used to construct color magnitude diagram and to estimate the age of OGLE-LMC 316/317. The results were the estimated ages of OGLE-LMC 316 and OGLE-LMC 317 which were 63 and 160 million years respectively. Based on these results, OGLE-LMC 316/317 system which has projected separation of 5 pc can be considered as primordial and coeval binary star cluster. ABSTRAK Large Magellanic Cloud (LMC) merupakan rumah bagi ribuan gugus bintang dengan beragam usia dan metalisitas. Galaksi ini juga menjadi laboratorium ideal untuk memahami populasi gugus ganda yang melimpah jumlahnya. Salah satu kandidat gugus ganda di dalamnya adalah OGLE-LMC 316/317 yang terletak di dekat batang LMC. Usia OGLE-LMC 317 belum diketahui, sementara usia OGLE-LMC 316 masih disangsikan. Padahal usia adalah parameter penting untuk mempelajari kegandaan dari sistem ini. Pada studi ini, data fotometri Optical Gravitational Lensing Experiment (OGLE) digunakan untuk membangun diagram warna magnitudo dan memperkirakan usia OGLE-LMC 316/317. Hasilnya, OGLE-LMC 316 diperkirakan berusia 63 juta tahun sementara OGLE-LMC 317 setidaknya berusia 160 juta tahun. Berdasarkan hasil ini, sistem OGLE-LMC 316/317 yang memiliki jarak pisah di bidang langit sebesar 5 pc dapat dianggap sebagai gugus ganda primordial dan coeval.
DAMPAK HUJAN METEOR PADA KEMUNCULAN LAPISAN E-SPORADIS DI ATAS SUMEDANG (THE IMPACT OF METEOR SHOWERS ON THE OCCURRENCE OF E-SPORADIC LAYER OVER SUMEDANG) Rhorom Priyatikanto; Farahhati Mumtahana; Mumen Tarigan
Jurnal Sains Dirgantara Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.89 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2017.v14.a2533

Abstract

Meteor showers have been believed as one important source of metalic ion which is accumulated at ~100 km altitude and triggering the emergence of E-Sporadic layer. In this study, meteor showers catalogue derived from the observations in visual and radio windows were used to establish a model and temporal map of annual meteor showers expected to be observed in Sumedang, West Java. The map was compared to ionospheric observation data acquired in Sumedang throughout 2014-2015 in order to understand the relation between the showers of various fluxes to the occurrence of E-Sporadic layer. The analysis revealed that several meteor showers with geocentric speed of vG < 50 km/s possibly influence the occurrence of E-Sporadic layer, while the showers with vG > 50 km/s impact insignificantly. However, the seasonal variation of the percentage of E-Sporadic occurrence is far more dominant compared to its fluctuation during meteor showers.Abstrak Hujan meteor dengan fluks tinggi telah dipercaya sebagai salah satu sumber penting ion logam yang terkumpul pada ketinggian ~100 km dan memicu kemunculan lapisan E-Sporadis. Pada studi ini, katalog hujan meteor hasil pengamatan pada jendela visual dan radio digunakan untuk membangun model dan peta temporal hujan meteor tahunan yang diharapkan teramati di Sumedang, Jawa Barat. Peta tersebut dibandingkan dengan data pengamatan ionosfer di Sumedang sepanjang 2014-2015 untuk mengetahui keterkaitan antara hujan meteor dengan beragam fluks serta kemunculan lapisan E-Sporadis. Hasil analisis menunjukkan bahwa beberapa hujan meteor dengan kelajuan geosentris vG < 50 km/s memiliki indikasi berpengaruh pada kemunculan E-Sporadis, sementara hujan meteor dengan vG > 50 km/s tidak berdampak signifikan. Namun, variasi musiman dari persentasi kemunculan E-Sporadis jauh lebih dominan dibandingkan fluktuasinya saat hujan meteor.