Anton Winarko
LAPAN

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISTIK CO-ROTATING INTERACTION REGION GEOEFEKTIF Anton Winarko; Fitri Nuraeni
Jurnal Sains Dirgantara Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30536/j.jsd.2021.v18.a3512

Abstract

Co-rotating Interaction Region (CIR) dipicu oleh interaksi angin matahari berkecepatan tinggi dengan angin Matahari yang lebih lambat. Diketahui bahwa CIR merupakan salah satu penyebab terjadinya badai geomagnet. Pada studi ini diidentifikasi dan dianalisis badai geomagnet yang dipicu CIR pada periode tahun 2008 – 2019 (Solar Cycle, SC 24). Diperoleh distribusi statistik badai geomagnet CIR dan parameter-parameter CIR pada angin Matahari. Analisis korelasi dilakukan untuk melihat hubungan antarparameter. Hasil studi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dari 176 kejadian badai geomagnet pada SC ke-24, sebanyak 48 (sekitar 27%) badai geomagnet diakibatkan oleh CIR. Kebanyakan badai geomagnet yang dipicu CIR ini berada pada level badai lemah. Meskipun plasma cepat (high speed streamer, HSS) adalah pemicu utama CIR, parameter komponen selatan medan magnet antarplanet dan medan listrik memegang peranan yang lebih krusial dibandingkan kecepatan angin Matahari pada tingkat gangguan badai geomagnet CIR.
PENGARUH ORIENTASI MEDAN MAGNET ANTARPLANET PADA GANGGUAN GEOMAGNET DI LINTANG RENDAH (THE EFFECT OF INTERPLANETARY MAGNETIC FIELD ORIENTATION ON LOW LATITUDE GEOMAGNETIC DISTURBANCES) Anton Winarko; Anwar Santoso
Jurnal Sains Dirgantara Vol 13, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1657.824 KB) | DOI: 10.30536/j.jsd.2016.v13.a2938

Abstract

Interplanetary Magnetic Field (IMF) is a part of the Solar magnetic field that is carried into interplanetary space by the solar wind. Based on previous study it is known that solar wind condition when reconnection occurs has important role on geomagnetic disturbance. This paper discusses lowlatitude geomagnetic field responses to various condition of reconnection, i.e. when north-south component of Interplanetary Magnetic Field (IMF Bz) was south-directed (<0) in long duration, IMF Bz switch to opposite direction after reconnection, and neutral IMF Bz (~0). Case studies show that precondition which IMF Bz<0 prompt more intense geomagnetic storm compared to IMF Bz ~0. At low latitude, precondition of IMF Bz <0 tend to trigger disturbance in the form of geomagnetic storm, while the IMF Bz~0 one could trigger Sudden Impulse. Change of IMF Bz direction after reconnection affected recovery phase acceleration, that was on IMF Bz>0, recovery phase took less time compared to IMF Bz<0. ABSTRAKMedan magnet antarplanet (Interplanetary Magnetic Field/IMF) adalah medan magnet matahari yang dibawa oleh angin surya dan menjalar dalam ruang antarplanet. Berdasarkan studi sebelumnya diketahui bahwa kondisi angin surya saat terjadi rekoneksi amat berpengaruh terhadap gangguan geomagnet yang terjadi. Pada makalah ini dibahas respons medan geomagnet di lintang rendah pada berbagai kondisi rekoneksi yaitu pada saat komponen utara-selatan medan magnet antarplanet (IMF Bz) dominan selatan (IMF Bz<0) dalam durasi panjang, IMF Bz berbalik arah setelah rekoneksi, dan IMF Bz cenderung netral (IMF Bz~0). Dari studi kasus menunjukkan bahwa prakondisi IMF Bz <0 mengakibatkan badai geomagnet yang lebih intens dibandingkan IMF Bz~0. Di lintang rendah, prakondisi IMF Bz<0 cenderung mengakibatkan gangguan berupa badai geomagnet sedangkan IMF Bz~0 dapat memicu Sudden Impulse. Perubahan arah IMF Bz yang terjadi setelah rekoneksi mempengaruhi laju fase pemulihan (recovery phase), yaitu pada IMF Bz>0, fase pemulihannya cenderung berlangsung lebih cepat dibandingkan saat IMF Bz<0.