Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Analisis Sumber Daya Manusia Pendidikan Tinggi Ida Kintamani DH
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 4 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i4.37

Abstract

The purpose of this analysis is to understand the Higher Education (HE) Human Resources profile and quality, and determine the quality of HE by using the 2009/2010 data. The method used in this analysis is the documentation study and the survey. In addition, the use of key performance indicators from Education Strategic Plan 2010-2014 to assess the quality of HE. Results showed that although private institutions have reached 97.24% of HE, it only has 58.39% of the students and 71.83% lecturers. Based on 7 indicators, feasibility of lecturers to teach only 37.65%, full-time professors 67.82%, lecturers professors 3.59%, senior lecturer 19.84%, and most education personnel are high school graduated which is 34.82%. Based on the selected five composite indicators, the quality of PT is only 49.85 means that less than half. By looking at the results, they are advised to conduct further research regarding collection of data about the HE, especially teachers with all the details and whether the composite indicators used are appropriate to measure the quality of HE. ABSTRAKTujuan analisis SDM PT adalah untuk memahami profil SDM PT, mutu SDM PT, dan menentukan mutu PT dengan menggunakan data tahun 2009/2010. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah studi dokumentasi dan survai. Selain itu, digunakan indikator kinerja utama (IKU) dari Rencana Strategi Pendidikan tahun 2010-2014 untuk menilai mutu PT. Hasilnya menunjukkan bahwa walaupun lembaga PT Swasta sebesar 97,24% dari lembaga PT yang ada, namun mahasiswanya hanya sebesar 58,39% dan dosennya sebesar 71,83%. Berdasarkan 7 indikator, kelayakan dosen mengajar hanya 37,65%, dosen tetap sebesar 67,82%, dosen jabatan guru besar sebesar 3,59%, dosen senior sebesar 19,84%, dan tenaga kependidikan kebanyakan lulusan SM sebesar 34,82%. Berdasarkan 5 indikator komposit yang dipilih maka mutu PT hanya sebesar 49,85 berarti kurang dari separuh. Dengan melihat hasil seperti ini maka disarankan agar dilakukan penelitian lanjutan mengenai pendataan PT khususnya dosen dengan semua rinciannya dan apakah indikator komposit yang digunakan telah sesuai untuk mengukur mutu PT
Evaluasi Program SMP Standar Nasional Berdasarkan Standar Nasional Pendidikan Ida Kintamani DH
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 17 No. 6 (2011)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v17i6.54

Abstract

The purpose of this study was to evaluate the national standard of junior secondary school (JSS) program based on the level of achievement of Educational National Standards (ENS). The method used was a survey with a population of all the national standards of JSS, while the sampling method used was simple random sampling with a descriptive analysis technique. The results showed that the samples at 91.3 percent is a public JSS, and the remainder in private JSS. The schools vary from 250 to 1250 children. Of the eight ENSs, only seven ENSs that can be analyzed, while the financing could not be analyzed he data were not accurate. Of the seven ENSs, the maximum value should be obtained at 289, but actually the highest score is only 241 (83.39%) and lowest value of 170 (58.82%). Of the 7 ENSs, the highest achievement of Standard Process for 32 schools (72.73%) and lowest Graduates Competency Standards for the 22 schools (50.0%). When the average value of 208 ENSs have been achieved then assumed that only 23 schools (52.27%) who have reached the ENS, while 21 schools (47.73%), others are not achieved. Thus, it can be said that the 7 ENSs reached more than half. Therefore, competency standards lowest ‘needs to be achieved so that schools can improve attainment NSS value. For financing standard should take its own research. ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi progam SMP Standar Nasional berdasarkan tingkat pencapaian Standar Nasional Pendidikan (SNP).  Metode yang digunakan adalah survai dengan populasi semua SMP Standar Nasional sedangkan metode pengambilan sampel yang digunakan adalah simple random samplingdengan teknik analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sampel yang diambil sebesar 91,3% adalah SMP Negeri dan sisanya SMP Swasta dengan jumlah siswa berkisar antara 250—1.250 anak. Dari delapan SNP hanya tujuh SNP yang bisa dilakukan analisis, sedangkan pembiayaan tidak dapat dilakukan analisis karena data tidak akurat. Dari tujuh SNP nilai maksimal yang harusnya diperoleh sebesar 289, namun kenyataannya nilai tertinggi hanya 241 (83,39%) dan nilai terendah sebesar 170 (58,82%). Dari tujuh SNP pencapaian Standar Proses yang tertinggi sebesar 32 sekolah (72,73%) dan Standar Kompetensi Lulusan terendah sebesar 22 sekolah (50,0%). Bila rata-rata nilai sebesar 208 diasumsikan SNP telah tercapai maka hanya 23 sekolah (52,27%) yang telah mencapai SNP sedangkan 21 sekolah (47,73%) lainnya belum mencapai. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa 7 SNP hanya dicapai lebih dari separuh. Karena itu, Standar Kompetensi Lulusan yang terendah perlu ditingkatkan pencapaiannya sehingga pencapaian nilai SNP dapat ditingkatkan. Untuk standar pembiayaan perlu dilakukan penelitian tersendiri.
Ketercapaian Pendidikan Dasar dan Menengah Berdasarkan Misi Pendidikan 5K: Kasus Kabupaten Nabire, Provinsi Papua Tahun 2010/2011 Ida Kintamani DH
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 1 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i1.112

Abstract

The purpose of this analysis is to analyse the results of educational indicators and the extent of achievement of primary and secondary education in Nabire District, Papua Province based on education mission “5K”. These are availability; affordability; quality; equivalency; and obtain educational services. The results show that the mission availability is achieved by 90.73 as a main category; mission affordability is achieved by 89.94 as a medium category; mission quality is achieved by 64.95 as a less category; mission equivalency is achieved by 90,51 as a main category; and obtain educational services is achieved by 98,13 as a perfect category. However, when viewed according to the level of education of the primary, junior, and senior secondary schools are achieved of 88.61, 86.28, and 85.25 respectively as medium category. Thus, it can be said Nabire District is achieved on basic and secondary education as a medium categories. However, the necessary improvements are in mission quality in primary, junior and senior secondary school due to only achieved 64.95 as a less category. Primary school needs to be improved in teacher quality, good classrooms, and library, junior secondary school in teacher qualities, graduate rates, libraries, and senior secondary school in graduate rates, good classrooms, computer rooms, and laboratories. ABSTRAK Tujuan analisis ini, yaitu untuk mengkaji hasil indikator pendidikan dan sejauh mana ketercapaian pendidikan dasar dan menengah di Kabupaten Nabire, Papua berdasarkan misi pendidikan, yaitu: ketersediaan: keterjangkauan; kualitas; kesetaraan; dan kepastian memperoleh layanan pendidikan (5K). Hasilnya menunjukkan bahwa misi ketersediaan mencapai sebesar 90,73, termasuk kategori utama; misi keterjangkauan mencapai sebesar 89,94, termasuk kategori madya; misi kualitas mencapai sebesar 64,95 termasuk kategori kurang, misi kesetaraan mencapai sebesar 90,51 termasuk kategori utama; sedangkan misi kepastian memperoleh layanan pendidikan mencapai sebesar 98,13, termasuk kategori paripurna. Namun, bila dilihat menurut satuan pendidikan SD, SMP, dan SM tercapai masing-masing sebesar 88,61,86,28, dan 85,25 termasuk kategori madya. Dapat dikatakan bahwa ketercapaian dikdasmen Kabupaten Nabire mencapai 86,85, termasuk kategori madya. Sekalipun demikian, perlu dilakukan pembenahan pada misi kualitas, karena hasil SD, SMP, dan SM sebesar 64,95 termasuk kurang. Untuk SD, perlu ditingkatkan persentase guru yang layak, ruang kelas baik, dan ketersediaan perpustakaan. Untuk SMP, perlu ditingkatkan persentase guru layak mengajar, angka lulusan, persentase ketersediaan perpustakaan, ruang komputer, dan laboratorium, sedangkan untuk SMA perlu ditingkatkan angka lulusan, persentase ketersediaan ruang kelas baik, ruang komputer, dan laboratorium.