Sutjipto --
Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemdikbud

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Dampak Pengimplementasian Kurikulum 2013 terhadap Performa Siswa Sekolah Menengah Pertama Sutjipto --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v20i2.137

Abstract

The purpose of this study is to determine the contribution of principal transformational leadership, teaching performance of teachers, and the learning culture towards achievement of madrasah aliyah. Correlational survey is used as the method of the research with 274 sample of teachers .The sampling techniques used are area sampling, proportional sampling and random sampling. Questionnaire used as the instrument to be analyzed by using descriptive and inferential statistics. The results of this study indicate: 1) the level of achievement of the madrasah, principal transformational leadership, teaching performance of teachers and learning culture is good; 2) transformational principal leadership contributes positively and significantly towards achievement of madrasah aliyah; 3) teacher performance in teaching contributes positively and significantly towards achievement of madrasah aliyah; 4) learning culture contributes positively and significantly towards achievement of madrasah aliyah: 5) transformational principal leadership, teacher performance in teaching and learning culture contribute positively and significantly towards achievement of madrasah aliyah. Accordingly, increasing the principal transformational leadership, teaching performance of teachers and the culture of learning leads to the improvement of madrasah achievement.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan informasi empirik tentang seberapa kuat dampak implementasi Kurikulum 2013 terhadap performa siswa SMP. Daerah penelitian mencakup 44 kabupaten/kota dengan sampel sebanyak 82 sekolah yang melibatkan responden sebanyak 1804 siswa. Teknik penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa implementasi Kurikulum 2013 di SMP berdampak positif terhadap performa siswa ditandai dengan dampak sikap spiritual dan sikap sosial yang dimiliki siswa seperti senang melaksanakan ibadah agama, pendidikan akal budi, berinteraksi dalam keragaman, kebersamaan, kerukunan, senang berkata benar, berani mengakui kesalahan, dan senang menjaga kebersihan juga senang membantu teman yang menghadapi kesulitan nampak makin berkembang. Selain itu, transformasi pengetahuan dan keterampilan siswa untuk menjadi bangsa yang cerdas, produktif, kreatif, dan inovatif untuk mengantisipasi dan memperoleh solusi yang tepat dalam rangka pemecahan masalah, beradab, dan terhormat mengindikasikan semakin berkembang.
Pendidikan Budi Pekerti pada Kurikulum Sekolah Dasar Sutjipto --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 20 No. 4 (2014)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v20i4.161

Abstract

This article analysed the position of character education within primary school curriculum in Indonesia based on philosophical critical review. The analysis wa carried out using the method of documentation. The results showed that since the post-independence moral education has been strategically placed on the curriculum in Indonesia in three ways, namely stand alone as a subject, combined with relevant subjects, and integrated into other subjects. The domain of character education to fulfill the learners with moral life and character in order to behave well, is considered important to be applied into the primary school curriculum. It is important that implementation efforts to explore habituation, practice, and exemplary environmental conditioning.ABSTRAK Artikel ini mengkaji posisi pendidikan budi pekerti pada kurikulum sekolah dasar di Indonesia didasarkan tinjauan kritis filosofis. Kajian yang dilakukan menggunakan metode studi dokumentasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa sejak masa pasca kemerdekaan, pendidikan budi pekerti ditempatkan secara strategis pada kurikulum pendidikan di Indonesia dalam tiga hal, yakni berdiri sendiri sebagai mata pelajaran, digabung dengan mata pelajaran yang relevan, dan terintegrasi ke dalam mata pelajaran lain. Domain pendidikan budi pekerti yang mengisi jiwa peserta didik dengan moral dan akhlak agar bertingkah laku yang baik, penting untuk diwujudkan ke dalam kurikulum sekolah dasar. Yang perlu diperhatikan dalam implementasinya adalah upaya pembiasaan, pengamalan, pengkondisian lingkungan, dan keteladanan.
Persepsi Masyarakat terhadap Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini Sutjipto --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 21 No. 1 (2015)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v21i1.172

Abstract

The purpose of this study is to obtain public perceptions of early childhood education curriculum. The study used a case study approach with positivistic research paradigm and conducted from September to November 2014. Data analysis was performed using simple descriptive analysis in the form of a narrative. The results shows that the issue of curriculum and its implementation is not just the domain of curriculum developers, but also other aspects perceived as significant issues by the community. First, public perceives the importance of the rational of development, the cornerstone of development, strategy and procedure of development, structure and content of the curriculum, implementation strategies, and the existence of books and equipment in the context of curriculum design. Second, regarding the presence of the developed early childhood education curriculum, society strongly perceives that the document has been considering various aspects to the growing of interest for early childhood in practice of reading, writing, speaking, socializing/making friends, eating and drinking together, discipline, manners , faith, and playing activities, singing, marching, and exercise. Third, the implementation of the curriculum is perceived by society as an in need of harmonies cooperation among educational institutions, public, and educational supervisors in the region, especially in terms of teaching staff, procurement of books and equipment and other support resources.ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh persepsi masyarakat terhadap kurikulum pendidikan anak usia dini. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus dengan paradigma penelitian positivistik, dan dilakukan pada bulan September sampai November 2014. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif sederhana dalam bentuk naratif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isu kurikulum dan penerapannya tidak hanya ranah pengembang kurikulum melainkan juga beberapa hal dipersepsikan secara cukup signifikan oleh masyarakat. Pertama, masyarakat mempersepsi penting terhadap rasional pengembangan, landasan pengembangan, strategi dan prosedur pengembangan, struktur dan isi kurikulum, strategi implementasi, dan keberadaan buku dan peralatan dalam konteks desain kurikulum. Kedua, berkaitan dengan kurikulum pendidikan anak usia dini yang dikembangkan, masyarakat mempersepsi secara kuat bahwa dokumen tersebut telah mempertimbangkan berbagai aspek kepentingan untuk tumbuh kembangnya anak usia dini dalam berlatih membaca, menulis, berbahasa, bersosialisasi/berteman, makan dan minum bersama, berdisiplin, bertata krama, sopan santun, aqidah keimanan, kegiatan bermain, bernyanyi, baris-berbaris, dan berolahraga. Ketiga, pengimplementasian kurikulum dipersepsi oleh masyarakat sangat memerlukan kerja sama yang harmonis antara lembaga pendidikan, masyarakat dan pembina pendidikan di daerah terutama dalam hal tenaga pendidik, pengadaan buku dan peralatan serta sumber daya pendukung lainnya.
Diversifikasi Kurikulum dalam Kerangka Desentralisasi Pendidikan Sutjipto --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 21 No. 3 (2015)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v21i3.193

Abstract

The purpose of this article is to examine curriculum development in the context of decentralized education governance. The results of the study show that, firstly, the legislation in effect contains provisions that make it possible for each district/region to play a role in developing curriculum tailored to the characteristics, needs and potential of each district/region. Second, diversifying and customizing curriculum content can begin with the formation of ideas and designs as well as the implementation and evaluation of the existing curriculum. Alterations made to curriculum content can range in scope from the structuring of the curriculum, the selection of essential study materials or the elaboration upon the existing standard. Third, there needs to be a change in the understanding of curriculum diversification and development. Such development should be understood as intricate work that requires professionals and experts to work together as a team to be more adequate, efficient and effective. Fourth, in terms of human resources, regional areas in Indonesia are considered to have people who are experienced in developing and customizing curriculum. Fifth, diversification of the curriculum still requires a variety of regulations to form a basis from which the development team can carry out its duties. It can be concluded that policy that facilitates the customization of the curriculum has been enacted to encourage diversity, which evolves continuously without disregarding national education goals.ABSTRAK Tujuan artikel ini untuk mengkaji khasanah pengembangan diversifikasi kurikulum ditinjau dari domain desentralisasi pendidikan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pertama, dari sisi peraturan perundang-undangan yang berlaku terdapat ketentuan yang mengikat semua pihak bahwa daerah dimungkinkan dapat berperan dalam pengembangan diversifikasi kurikulum yang disesuaikan dengan karakteristik, kebutuhan dan potensinya. Kedua, konten diversifikasi kurikulum dapat dimulai dari ide, perancangan, implementasi dan evaluasi kurikulum yang cakupannya mulai dari penataan struktur, pemilihan bahan kajian yang esensial baik secara utuh maupun merupakan penjabaran dari standar yang ada. Ketiga, dengan memandang bidang pekerjaan pengembangan diversifikasi kurikulum sebagai wilayah garapan yang tidak sederhana diperlukan tenaga pengembang yang profesional, yang berarti tim tidak mungkin bekerja sendiri agar tugas-tugas tim menjadi lebih memadai, efisien, dan efektif. Keempat, dari kesiapan sumber daya manusia daerah dianggap cukup berpengalaman dalam mengembangkan diversifikasi kurikulum. Kelima, bahwa diversifikasi kurikulum masih memerlukan beragam regulasi sebagai dasar bagi tim pengembang untuk melaksanakan tugasnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa diversifikasi kurikulum merupakan kebijakan yang telah diberlakukan untuk mendorong keberagaman berkembang secara terus menerus tanpa menafikan tujuan pendidikan nasional.