Widodo --
Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang, Kemdikbud

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Strategi Peningkatan Aktivitas Jasmani Siswa Sekolah Dasar di Luar Pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan di Indonesia Widodo --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 20 No. 2 (2014)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v20i2.144

Abstract

This article aims to explain and provide ideas dan suggestion on strategic in physical activity promotion of primary school students beyond physical education classroom. The programs should be developed in a pattern of development that is integral to the educational involving the three parties i.e. schools, parents, and community, as well as government support. Teacher level of strategies: 1 ) socialization by the school principal , 2) the integration of health knowledge to other subjects ; 3 ) the development of incentive programs ; 4 ) rearrangement of homework; and 5) expanding partnerships. The school level strategies: 1) improvement of school management; 2) preparation of daily physical activity program; 3 ) the arrangement of space and equipment; and 4) Parents Forum. The implementation need to combine efforts with the school teachers and families in a professional manner so that students actively engaged at least 90 minutes per day, i.e. 30 minutes in school and 60 minutes in the home or community. Forms of activity that can be applied: 1) getting students to and from school by involving volunteers from the parents/seniors; 2) applying the Walking School Bus models, and 3) active transportation programs. ABSTRAK Artikel ini bertujuan untuk mengkaji aktivitas jasmani dan memberikan sumbangan pemikiran tentang upaya strategis peningkatan aktivitas jasmani siswa sekolah dasar di luar jam pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga, dan kesehatan. Program peningkatan hendaknya dikembangkan dalam sebuah pola pembinaan yang integral dari upaya pendidikan dengan melibatkan tiga pihak, yaitu sekolah, orangtua, dan masyarakat, serta dukungan pemerintah. Strategi pada tingkatan guru: 1) sosialisasi oleh kepala sekolah; 2) integrasi pengetahuan kesehatan ke mata pelajaran lainnya; 3) pengembangan program insentif; 4) meramu ulang pekerjaan rumah (PR); dan 5) memperluas kemitraan. Strategi pada tingkat sekolah: 1) perbaikan manajemen sekolah; 2) penyusunan program aktivitas jasmani harian; 3) penataan ruang dan perlengkapan; dan 4) forum orang tua. Pelaksanaannya perlu menggabungkan upaya guru dengan sekolah dan keluarga secara profesional agar siswa aktif bergerak setidaknya 90 menit per hari; yaitu 30 menit di sekolah dan 60 menit di rumah atau masyarakat. Bentuk kegiatan yang dapat diterapkan: 1) mengajak siswa pergi dan pulang sekolah dengan melibatkan relawan dari orang tua/senior; 2) menerapkan model Bus Sekolah Berjalan; dan 3) program transportasi aktif.
Penerapan Tujuh Langkah Menyusun Rencana Disiplin Kelas Proaktif Karya Colvin dalam Pembudayaan Hidup Aktif dan Sehat di Sekolah Widodo --
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 19 No. 3 (2013)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikbudristek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v19i3.292

Abstract

This study aimed to create new forms of activities as a supplement to create the school conditions that conducive to the cultivation of Active and Healthy Live and  to know the result of the application of forms activities. Research conducted by up to four cycles of action research for four months in one of high schools, secondary schools, and elementary schools.The results shown that: 1) the forms of designed activities can be used as a supplement in the acculturation of an active and healthy life at school, 2) prohibition of misconduct that were previously already left is necessary to be applied by loose tolerances then progressively tightened; 3) teaching learning through competition is an effective way to instill positive behavior; 4) providing tiered reward can be maintained as a positive behavior; 5) providing tiered guidance to improve problem behavior; 6) the data entry is done every day and it is published every four months; 7) the existence of  other institutions is necessary to sustain the long-term program; 8) the results of the application have shown: (a) increasing penchant to move for students and teachers, sports extracurricular activities, students’ awareness of self-health, collective health, and the environment, (b) the school environment changed in a positive direction, and (c) cases of student absence due to illness is also reduced and increasing the number of students who are categorized fitness “Good”.ABSTRAK Tujuan penelitian adalah untuk menciptakan bentuk-bentuk kegiatan sebagai suplemen untuk mewujudkan kondisi sekolah yang kondusif bagi pembudayaan hidup aktif dan sehat dan mengetahui hasil dari penerapan bentuk-bentuk kegiatannya. Penelitian dilakukan melalui penelitian tindakan sekolah hingga empat siklus selama empat bulan di salah satu sekolah menengah atas, sekolah menengah pertama, dan sekolah dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) bentuk-bentuk kegiatan yang diciptakan dapat dijadikan suplemen dalam pembudayaan hidup aktif dan sehat di sekolah; 2) larangan berperilaku salah yang terlanjur dibiarkan sebelumnya perlu diterapkan dengan toleransi yang longgar kemudian semakin diperketat; 3) pembelajaran melalui kompetisi merupakan cara efektif untuk menanamkan perilaku positif; 4) penghargaan secara berjenjang dapat mempertahankan perilaku positif; 5) pembinaan secara berjenjang dapat memperbaiki perilaku bermasalah; 6) pemasukan data dilakukan setiap hari dan publikasinya setiap empat bulan; 7) peran instansi lain diperlukan untuk mempertahankan program jangka panjang; 8) hasil penerapan telah menunjukkan: (a) peningkatan kegemaran bergerak bagi siswa dan guru, kegiatan ekstrakurikuler olahraga, kepedulian siswa terhadap kesehatan diri, kesehatan bersama, dan lingkungan; (b) perubahan lingkungan sekolah ke arah positif; dan (c) penurunan kasus siswa tidak hadir karena sakit dan peningkatan kebugaran.