Laurike Moeliono
Fakultas Psikologi, Unika Atma Jaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

GAMBARAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM RISK TAKING BEHAVIOR REMAJA PUTRI YANG MELAKUKAN ABORSI TIDAK AMAN Bram Ariasena; Laurike Moeliono
MANASA Vol 6 No 1 (2017): Juni, 2017
Publisher : Faculty of Psychology, Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.7 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan menggambarkan pengambilan keputusan yang dilakukan remaja perempuan untuk melakukan aborsi tidak aman yang berisiko pada kesehatan fisik dan psikhisnya. Karena itu pengambilan keputusan melakukan aborsi dalam penelitian ini dikaitkan dengan risk taking behavior. Penelitian kualitatif ini dilakukan pada 4 remaja perempuan yang berdomisili di Jakarta. Metode wawancara digunakan untuk melihat tahapan pengambilan keputusan dalam risk taking behavior, yaitu bagaimana seorang remaja perempuan menganalisa opsi yang ada, risiko yang akan muncul, kesanggupannya untuk menghadapi risiko tersebut, persiapannya untuk menghadapai risiko yang akan datang, dan akhirnya membuat keputusan akhir. Selain itu penelitian ini juga berusaha melihat faktor-faktor apa saja yang turut mempengaruhi atau mendorong seorang remaja perempuan melakukan aborsi tidak aman, antara lain faktor keluarga, sosial-ekonomi, peer, serta seks usia dini. Hasil penelitian menunjukan keempat partisipan melalui tahapan yang berbeda dalam membuat keputusan yang berisiko atau risk taking, dan setiap partisipan terdorong oleh faktor, alasan dan motivasi yang beragam. Namun, setiap partisipan mengambil keputusan berisiko untuk melakukan aborsi tidak aman sebagai solusi yang paling tepat untuk mengatasi kehamilan tidak diinginkan yang mereka alami, dan faktor keluarga adalah faktor utama yang melatabelakangi alasan melakukan aborsi tidak aman.
FAKTOR-FAKTOR YANG MENYEBABKAN PEKERJA SEKS TIDAK MENGAKSES HIV-VOLUNTARY COUNSELING AND TESTING Andriany Uchov; Laurike Moeliono
MANASA Vol 3 No 1 (2014): Juni, 2014
Publisher : Faculty of Psychology, Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Data menunjukan bahwa penyebaran Human Immunodeficiency Virus atauHIV tertinggi di Indonesia adalah dari laki-laki yang menjadi pelanggan WanitaPekerja Seks atau WPS. Karena itu perilaku pencegahan HIV oleh WPS maupunpelanggannya sangat penting untuk menurunkan angka penyebaran HIV. WPSyang telah didampingi LSM biasanya sudah terpapar pada informasi tentang HIVAIDS.Merekapun umumnya sudah ditawarkan kemudahan untuk mengakseslayanan tes HIV yang disebut Voluntary Counseling and Testing atau VCT untukmengetahui status HIV mereka. Sayangnya banyak dari mereka belum inginmemanfaatkan kemudahan tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk menggalifaktor-faktor apa saja yang menyebabkan para WPS tidak mengakses layananVCT. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif untuk memperolehpandangan yang mendalam mengenai faktor-faktor psikologis yang melatarbelakangi WPS untuk tidak mengakses layanan VCT. Wawancaradilakukan menggunakan pedoman studi elisitasi teori Planned Behavior yangmeliputi konstruk-konstruk attitude, subjective norm, perceived behavioralcontrol, yang diintegrasikan dengan konstruk perceived threat dari Health BeliefModel. Subjek penelitian ini adalah lima orang WPS yang sudah didampingi olehLSM K di wilayah Palatehan, Blok M - Jakarta. Hasil penelitian antara lainmenunjukkan bahwa para WPS tidak mengakses VCT sebagai bentuk avoidanceatau penghindaran karena ketakutan menghadapi hasil tesnya. Tingkat perceived susceptibility atau persepsi terhadap kerentanan dirinya juga cenderung rendah; Mereka merasa memiliki risiko rendah tertular HIV karena merasa sudah bersikap tegas dalam hal penggunaan kondom saat berhubungan seks dengan tamu, walaupun belum tentu menggunakan kondom dengan pasangan tetapnya.