Wieka Dyah Partasari
Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Work-Family Conflict dan Parenting Self- Efficacy pada Ibu Bekerja di Jakarta Dara Aprilia Christianty; Wieka Dyah Partasari
MANASA Vol 10 No 1 (2021): Juni, 2021
Publisher : Faculty of Psychology, Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.058 KB) | DOI: 10.25170/manasa.v10i1.2505

Abstract

The aim of this research is to identify the relationship between work-family conflict and parenting self-efficacy among working mothers in Jakarta. The research is a quantitative with correlational research design. Participants for this research is consisted by 121 mothers with the range of aged 23 to 56 years old, live with working husband and the children, have child aged below 18 years old, and have full-time job in Jakarta. Data were collected using two measurement tools are Work-Family Conflict Scale (WFCS) and Self-Efficacy for Parenting Task Index (SEPTI). The data was measured using Spearman correlation and it has been showed there is the relationship between work-family conflict and parenting self-efficacy significantly (rs = -0.387, p = 0.000 (p < 0.01)). These two variables are negatively related to each other. It can be concluded who working mothers have low their work-family conflict, they have high self-efficacy to fulfill their role as parent. The recommendation for future research will do in qualitative research to know how the parents, father and mother, take care of their children and what kind of social support that has been accepted for working mothers. Keywords: Work-Family Conflict, Parenting Self-Efficacy, Working Mothers
Gambaran Psychological Well-Being pada Penyintas COVID-19 Yohanes Aldiyasa Setyo Bimantoro; Wieka Dyah Partasari
Jurnal Online Psikogenesis Vol 10, No 2 (2022): Desember
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas YARSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24854/jps.v10i2.2995

Abstract

Pandemi COVID-19 telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama lebih dari dua tahun, berdampak pada kesehatan mental individu, terutama bagi mereka yang terpapar COVID-19. Penyintas COVID-19 harus menanggung dampak fisik psikologis selama pemulihan, dan dapat mengalami stigma dari lingkungan. Pengalaman menghadapi dan pulih dari COVID-19 akan mempengaruhi kesehatan mental para penyintas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran psychological well-being penyintas COVID-19 di Indonesia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Terdapat 133 orang penyintas COVID-19 berusia 18-60 tahun yang menjadi partisipan pada penelitian ini, yang dipilih dengan menggunakan teknik convenience sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur Psychological Well-Being Scale (PWBS) yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan diberikan secara daring. Uji coba alat ukur dengan metode Cronbach’s Alpha menunjukkan hasil yang reliabel dengan jumlah item akhir 76 butir. Peneliti melakukan analisis deskriptif dan uji beda dengan metode Mann-Whitney Kruskal-Wallis. Hasil analisis deskriptif menunjukkan sebagian besar penyintas COVID-19 memiliki psychological well-being yang cenderung tinggi. Hasil analisis masing-masing dimensi positive relations with others, autonomy, environmental mastery, self-acceptance, personal growth, dan purpose in life juga menunjukkan hasil mayoritas cenderung tinggi. Ditemukan perbedaan yang signifikan berdasarkan usia dengan skor tertinggi pada kategori usia dewasa madya. Ditemukan bahwa individu penyintas menerima dukungan sosial selama menjalani masa perawatan, kebanyakan bersumber dari keluarga dan teman. Dukungan sosial tersebut membawa dampak positif kepada perasaan penyintas dalam menghadapi penyakit. Setelah sembuh mayoritas penyintas mendapatkan tanggapan yang positif dari orang di sekitarnya, tetapi terdapat partisipan yang mengalami stigmatisasi akibat statusnya sebagai penyintas COVID-19.