Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SESER Galih Puspita Karti
Saraswati Jurnal Mahasiswa Seni Tari
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/srs.v0i0.741

Abstract

Seser adalah karya tari yang terinspirasi upacara adat Rebo Pungkasan, dengan lemper raksasa bernama Boga Wiwaha sebagai iconnya. Upacara tersebut berada di dusun Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta. Lemper Boga Wiwaha merupakan simbol tentang bagaimana upaya manusia untuk mencapai kehidupan yang lebih baik/kesempurnaan jiwa. Pada dasarnya untuk mencapai kehidupan yang lebih baik manusia harus dapat mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa, untuk itu dalam karya tari ini dihadirkan gagasan tentang konsep hidup orang Jawa yaitu cakramanggilingan, bahwa hidup itu kadang di atas dan kadang di bawah. Hal tersebut dapat dijadikan pedoman agar manusia selalu ingat kepada Tuhan yang Maha Esa. Gagasan tersebut dituangkan menjadi sebuah koreografi yang disajikan melalui penari tunggal wanita dengan empat orang pengirit. Gerak tarinya berpijak pada tari tradisi gaya Yogyakarta yang simbolis. Konsep cakramanggilingan disimbolkan dengan empat buah trap yang apabila disatukan dapat membentuk suatu lingkaran yang “Seser” (lingkaran yang sempurna).Kata Kunci: Lemper Boga Wiwaha, upaya manusia,   cakramanggilingan ,
INDIKASI PENCITRAAN DALAM UPACARA ADAT REBO PUNGKASAN DI WONOKROMO PLERET BANTUL YOGYAKARTA Galih Puspita Karti
INVENSI (Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni) Vol 1, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Pascasarjana Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (978.566 KB) | DOI: 10.24821/invensi.v1i2.1612

Abstract

Penelitian mengenai indikasi pencitraan dalam upacara adat Rebo Pungkasan bertujuan sebagai media introspeksi masyarakat agar selalu merawat nilai-nilai keaslian budaya dan spiritualnya. Kesadaran tentang upacara adat sebagai media untuk berhubungan dengan segala isi alam semesta dan Tuhan Yang Maha Esa perlu dibangunkan kembali guna menjadi pembatas agar tidak terjebak dalam sebuah pencitraan semata. Metode penelitian kualitatif dipilih untuk memperoleh segala informasi tentang upacara adat Rebo Pungkasan. Pada akhirnya sebuah indikasi pencitraan ditemukan dalam ritual tersebut. Pencitraan sudah merajalela dalam area ritual. Pada satu ruang lingkup upacara adat Rebo Pungkasan, pencitraan dapat dilihat jelas dalam kepalsuan lemper Boga Wiwaha yang dijadikan sebagai persembahan/caos dhahar. Wujud lemper dilebih-lebihkan dengan ukuran panjang antara dua meter dan diameter sekitar setengah meter supaya menarik untuk dijadikan sebuah ikon. Segalanya dikemas manis dan menarik seperti pada iklan di televisi, orasi pada kampanye, aktivitas dalam sosial media, dan sebagainya. Hampir dibalik itu semua terdapat sesuatu yang dilebih-lebihkan, kepalsuan bahkan kebohongan yang disembunyikan. Sesuatu yang disajikan/ditawarkan belum tentu sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Sebuah pencitraan sama halnya dengan sebuah topeng yang menjadi penutup citra yang sesungguhnya. Research on the imaging indication ceremonial Rebo Pungkasan intended as a medium of introspection people to always take care of the values of cultural and spiritual authenticity. Awareness about the ceremonies as a medium to get in touch with all the contents of the universe and God Almighty needs to be woken up again to be a barrier to not get stuck in an imaging alone. Qualitative research method was chosen to obtain any information about Rebo Pungkasan ceremonies. In the end an imaging indication is found in the ritual. Imaging is already rampant in the ritual area. In the scope of traditional ceremonies Rebo Pungkasan, imaging can be seen clearly in falsehood donuts Boga Wiwaha used as offerings / caos Dhahar. Exaggerated form of donuts with a length between two meters and a diameter of about half a meter so interesting to be an icon. Everything is packaged sweet and charming as the ads on TV, speeches on the campaign, the activity in the social media, and so on. Almost behind it all there is something exaggerated, even falsity lies hidden. Something that presented / offered not necessarily correspond with the reality of the matter. An imaging as well as a mask that became the cover image of the real thing.