Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PEMBENTUKAN JIWA MANUSIA MELALUI PESAN TAUHIDULLAH Enung Asmaya
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 9 No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Dakwah UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.738 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v9i1.831

Abstract

Human being consists of two integrated elements, the spirit and the body. Both elements need supplies to achieve a condition of being “taqwa”, that is the willing to obey all the rules of God and avoid His prohibition. Through the spirit, a human being can generate either good or bad deeds. In order to have a spirit that always drives and guides human being to perform good deeds, it should be managed with tauhidullah da’wa message, which means admitting the Allah as the one and only God, either in the concept of creation (rabb), possession (malik), or de pendency (ilah) of human being towards Him. Applying the principles will form healthy, sincere, and optimistic human spirit in facing the dynamics of life as well as being positive and happy in accepting one’s destiny. For that reason, tauhidullah message will form human spirit of good morality. Manusia terintegrasi dari unsur jiwa dan raga. Kedua unsur tersebut membutuhkan makanan dan asupan agar terlahir manusia-manusia yang bertakwa. Melalui jiwa, manusia dapat menggerakkan perilakunya pada hal yang baik dan buruk. Agar jiwa senantiasa bergerak dan membimbing pada perilaku yang baik maka ia harus dikelola dengan pesan dakwah tauhidullah. Tauhidullah adalah meng-Esa-kan Allah SWT, baik dalam konsep penciptaan (rabb), pemilikan (malik) dan kebergantungan (ilah) manusia kepada-Nya. Dari ketiganya akan membentuk jiwa-jiwa manusia yang sehat, ikhlas, optimis dalam menghadapi dinamika kehidupan. Senantiasa positif dan bahagia dalam menerima sunatullah yang telah menjadi ketetapan-Nya. Oleh karena itu, pesan tauhidullah menjadi pesan pembentuk jiwa manusia agar menjadi orang-orang yang berakhlak mulia.
Persepsi dan Implementasi Jilbab dalam Kegiatan Keagamaan dan Sosial-Keagamaan Enung Asmaya
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 13 No 2 (2018)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1177.128 KB)

Abstract

Berjilbab menjadi fenomena masyarakat muslimah dewasa ini. Seiring dengan perkembangan model fashion dunia dan kesadaran untuk berhijab mendorong muslimah untuk berjilbab. Fenomena ini menunjukkan kuantitas muslimah berjilbab semakin banyak. Namun sisi lain realitas prilaku muslimah berjilbab bertabaruj dengan lawan jenis yang bukan muhrim. Pada aspek sifat, sikap dan perilaku keagamaan dan sosial tidak menggembirakan. Kondisi ini dipengaruhi oleh persepsi muslimah atas jilbab yang dikenakan. Karena itu meneliti persepsi dan prilaku keagamaan dan sosial muslimah menjadi menarik untuk dilakukan penelitian. Metode penelitian yang dilaksanakan bersifat kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research) dan instrumen pencarian data melalui wawancara, observasi dan dokumentasi dengan subjek mahasiswi Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) dan Bimbingan Konseling Islam(BKI) yang dipilih secara purposive (berdasar tujuan penelitian) dengan memilih tampilan mahasiswa dengan model muslimah yang “berjilbab” dan “berjilbob”. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa berjilbab merupakan perintah dari Allah SWT untuk kaum perempuan, menjadi pakaian yang berfungsi untuk menutupi aurat perempuan, menjadi identitas diri sebagai seorang muslimah (wanita yang beragama Islam), dan sebagian dari mereka menyampaikan sebagai media dakwah Islam (syiar Islam). Dalam perilaku keagamaan muslimah belum memiliki kemampuan untuk patuh dan taat pada perintah Allah SWT secara penuh (jarang dilaksanakan) seperti sholat lima waktu dan sholat sunnah, membaca al-Qur’an puasa sunnah dan mujahadah kepada Allah SWT. Dalam kegiatan-kegiatan sosial masih berfokus pada tugas di kampus untuk belajar dan kuliah. Ada beberapa sikap yang terpuji yang muncul dari pikiran mereka bahwa akan memperbaiki diri dengan berjilbab yang berhijab agar menjadi seorang yang taqwa (muttaqin) serta membatasi diri pada persebayaan untuk berfoya-foya, bebas, maksiat, boros dan konsumtif.