Anggunan Anggunan
Departemen Kimia Medik, Fakultas Kedokteran, Universitas Malahayati

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN ANTARA LETAK LESI DERMATITIS SEBOROIK DENGAN ANGKA KEJADIAN DERMATITIS SEBOROIK DI POLIKLINIK KULIT DAN KELAMIN RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG TAHUN 2017-2019 Anggunan Anggunan; Eka Silvia; Arif Effendi; Farahiyah Karamina Kartono
Jurnal Medika Malahayati Vol 4, No 3 (2020): Volume 4 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.878 KB) | DOI: 10.33024/jmm.v4i3.2525

Abstract

Dermatitis seboroik merupakan kelainan kulit kronis papulo skuamosa yang sering terjadi pada kulit kepala, daerah folikel sebasea di wajah dan dada.Letak lesi pada dermatitis seboroik dikelompokkan menjadi tiga bagian besar yaitu seboroik wajah, seboroik badan dan sela-sela, serta seboroik kepala. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara letak lesi dermatitis seboroikdenganangka kejadian dermatitis seboroikdi Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD Dr. H. Abdul Moloek Bandar Lampung tahun 2019. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional, kuantitatif, analitik dengan pengumpulan data sekunder dermatitis seboroik. Pengambilan sampel menggunaka nteknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan pencatatan data berupa letak lesi dermatitis seboroik serta dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil Penelitian didapatkan dari 209 responden sesuai sampel. Pada penderita DS frekuensi letak lesi terbanyak adalah seboroik badan sebanyak 63%, seboroik wajah sebanyak 21%. seboroik kepalasebanyak 12% dan seboroik telinga sebanyak 4%.Hasil uji statistik korelasi Spearman diperoleh p=0,006 (p<0,05) yang berartiterdapathubungan yang signifikan antara letak lesi dermatitis seboroik dengan angka kejadian dermatitis seboroik. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara letak lesi dermatitis seboroik dengan angka kejadian dermatitis seboroik di poliklinik kulit dan kelamin RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung (p=0,006).
Hubungan Usia Ibu Hamil Dengan Tingkat Kejadian Preeklampsia Di Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung Budi Setiawan; Ni Putu Sudiadnyani; Anggunan Anggunan; Fonda Octarianingsih Syariff
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 1 (2026): Volume 13 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i1.21404

Abstract

Preeklampsia merupakan komplikasi kehamilan serius dan masih menjadi penyebab utama kematian ibu dan bayi baru lahir di dunia, termasuk di Indonesia. Sindrom ini umumnya terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu dengan tanda hipertensi dan proteinuria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia ibu dan kejadian preeklampsia di Rumah Sakit Bintang Amin Bandar Lampung tahun 2022–2024, khususnya pada kelompok usia ibu lanjut. Penelitian menggunakan desain observasional cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Sampel terdiri dari 69 ibu hamil trimester kedua atau ketiga yang menjalani pemeriksaan antenatal (ANC) dan bersalin di rumah sakit tersebut. Analisis univariat digunakan untuk mendeskripsikan karakteristik responden, sedangkan analisis bivariat dengan uji Chi-Square dilakukan untuk menguji hubungan antara usia ibu dan kejadian preeklampsia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil berusia 35 tahun memiliki risiko preeklampsia lebih tinggi secara signifikan dibandingkan usia 22–35 tahun, dengan odds ratio (OR) 4,103 (p=0,014). Sebanyak 78,0% ibu hamil 35 tahun mengalami preeklampsia, sementara pada kelompok usia lebih muda hanya 46,4%. Hasil ini mengonfirmasi adanya hubungan yang signifikan antara usia ibu dan kejadian preeklampsia. Oleh karena itu, deteksi dini dan pemantauan kehamilan yang lebih intensif pada kelompok usia berisiko tinggi diperlukan untuk menurunkan angka kejadian dan komplikasi preeklampsia.