Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Ritual: An Inventive Human Symbolic Action Putranto, Eddy
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 1 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1186.948 KB) | DOI: 10.26593/mel.v21i1.2638.15-34

Abstract

Ritual, dari pandangan ilmu-ilmu sosial dewasa ini, telah memperoleh penghargaannya sebagai peristiwa penciptaan. Ritual itu mempunyai daya cipta yang menyediakan ruang bagi pengkonstruksian diri clan penulisan kembali nilai-nilai. Ruang rekonstruksi ini baru menjadi efektif bila terjadi perjumpaan antara ajaran clan kepercayaan yang secara tradisional tersimpan di dalam ritual clan pengalaman sosio-historis ritualis, yakni pelaku ritual. Perjumpaan itu membuat ritual tidak lagi statis seperti tampaknya. Intervensi ritualis dengan pengalaman sosio-historisnya seolah membuat ritual senantiasa memperbaharui dirinya. Perjumpaan itu juga membuka kesempatan bagi ritualis untuk mengkonfrotasikan pengalaman sosio-historisnya dengan misteri kepercayaan yang dirayakan. Konfrotasi ini bisa menjadi benih baik bagi mekarnya transformasi individual maupun sosial. Demikianlah, daya cipta clan peranannya sebagai ruang rekonstruksi membuat ritual terkadang berbahaya, subversive.
Ritual: An Inventive Human Symbolic Action Putranto, Eddy
MELINTAS An International Journal of Philosophy and Religion (MIJPR) Vol. 21 No. 1 (2005)
Publisher : Faculty of Philosophy, Parahyangan Catholic University, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/mel.v21i1.2638.15-34

Abstract

Ritual, dari pandangan ilmu-ilmu sosial dewasa ini, telah memperoleh penghargaannya sebagai peristiwa penciptaan. Ritual itu mempunyai daya cipta yang menyediakan ruang bagi pengkonstruksian diri clan penulisan kembali nilai-nilai. Ruang rekonstruksi ini baru menjadi efektif bila terjadi perjumpaan antara ajaran clan kepercayaan yang secara tradisional tersimpan di dalam ritual clan pengalaman sosio-historis ritualis, yakni pelaku ritual. Perjumpaan itu membuat ritual tidak lagi statis seperti tampaknya. Intervensi ritualis dengan pengalaman sosio-historisnya seolah membuat ritual senantiasa memperbaharui dirinya. Perjumpaan itu juga membuka kesempatan bagi ritualis untuk mengkonfrotasikan pengalaman sosio-historisnya dengan misteri kepercayaan yang dirayakan. Konfrotasi ini bisa menjadi benih baik bagi mekarnya transformasi individual maupun sosial. Demikianlah, daya cipta clan peranannya sebagai ruang rekonstruksi membuat ritual terkadang berbahaya, subversive.