A. HESTIANTORO
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Korelasi antara Hormon Reproduksi dengan Tampilan Integrin Endometrium pada Wanita dengan Infertilitas E. SURJANA; D. SANTY; A. HESTIANTORO; J. INDARTI; F. KUSUMAH
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 30, No. 2, April 2006
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.305 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara hormon reproduksi terhadap tampilan integrin endometrium. Tempat: Klinik Yasmin bagian Obstetri dan Ginekologi RSCMFKUI. Rancangan/rumusan data: Penelitian ini bersifat klinis retrospektif. Bahan dan cara kerja: 53 orang wanita usia antara 20-40 tahun. Pada semua pasien dilakukan biopsi endometrium pada fase sekresi dan pemeriksaan hormon FSH, LH, Prolaktin, estradiol dan progesteron, dan tampilan integrin dari biopsi endometrium dianalisa dengan pemeriksaan imunohistokimia. Hasil: Nilai rerata tampilan integrin pada penelitian ini 1,3. Dan didapatkan angka korelasi progesteron terhadap tampilan integrin endometrium 0,285 dengan nilai probabilitas 0,04 dan koefisien determinasi 0,081. Kadar hormon FSH, LH, Prolaktin dan estradiol tidak bermakna terhadap tampilan integrin. Kesimpulan: Terdapat hubungan positif antara kadar hormon progesteron terhadap tampilan integrin endometrium di fase luteal madya. Diperlukan adanya faktor-faktor lain untuk memperkuat nilai prediktor hormon progesteron. [Maj Obstet Ginekol Indones 2006; 30-2: 112-5] Kata kunci: integrin, FSH, LH, Estradiol, Progesteron, Infertilitas, Jendela implantasi.
Karakteristik Pasien Endometriosis di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Selama Periode 1 Januari 2000 - 31 Desember 2005 B. PUSPASARI; A. BAZIAD; A. HESTIANTORO
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 2, April 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.575 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui karakteristik pasien endometriosis yang berobat ke RSCM. Rancangan/rumusan data: Studi deskriptif. Karakteristik pasien endometriosis di RSCM. Tempat: Poliklinik Imunoendokrinologi Reproduksi Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM Jakarta. Bahan dan cara kerja: Dilakukan pendataan dari catatan medik tentang karakteristik faktor risiko semua pasien endometriosis baru yang didiagnosis pertama pada tanggal 1 Januari 2000 sampai dengan 31 Desember 2005 dengan hasil histopatologi (+) endometriosis. Hasil: Didapatkan 111 sampel yang sesuai dengan kriteria penerimaan dan penolakan. Rerata usia pasien adalah 33,39 ± 6,40 tahun, di mana yang terbanyak adalah kelompok usia 30 - 34 tahun (29,72%). Sebagian besar pasien (68,47%) datang atas keinginan sendiri, dan hanya 1 pasien (0,9%) rujukan dari bidan. Sisanya rujukan dokter umum dan SpOG. Lebih dari separuh (63,96%) pasien mengalami dismenorea, tetapi pasien yang datang dengan keluhan utama dismenorea hanya 29,73%. Pasien lain datang dengan keluhan nyeri perut (27,3%), benjolan di perut (22,52%), gangguan haid (10,81%), ingin anak (7,21%) dan gangguan berkemih (2,71%). Sebagian besar subjek sudah menikah (77,48%), dan hampir separuhnya (48,84%) mengalami infertilitas, baik primer maupun sekunder. Rerata usia menars adalah 13,19 ± 1,87 tahun. Usia menars terbanyak adalah 12 tahun, sebanyak 36 pasien (32,43%). Sebagian besar pasien (85,59%) memiliki siklus haid normal (antara 21 - 35 hari), dengan banyaknya haid yang juga normal (2 - 5 pembalut/ hari). Untuk lama haid, ternyata cukup banyak pasien yang mengalami haid lebih lama dari lama haid normal, yaitu sebanyak 48,65%. Hampir seluruh subjek tidak menggunakan kontrasepsi oral (91%). Berdasarkan diagnosis preoperatif, sebanyak 35,13% pasien terdiagnosis sebagai endometriosis. Sebanyak 26,13% pasien mempunyai diagnosis preoperatif selain endometriosis atau adenomiosis. Intra operatif dilakuan penilaian stadium endometriosis menurut (revised) American Fertility Society (AFS 1 - 4), di mana sebagian besar pasien menderita endometriosis stadium 3 dan 4 (sedang - berat), yaitu sebanyak 44,14% dan 46,35%. Pada penelitian ini didapatkan keluhan dismenorea lebih banyak ditemukan pada stadium 4, yaitu sebanyak 49,30%, walaupun terdapat 2 pasien (2,81%) pasien dengan dismenorea berada pada stadium 1 (minimal). [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-2: 73-8] Kata kunci: endometriosis, karakteristik, faktor risiko
Evaluasi pasca Radiofrequency Thermal Ablation pada Mioma Uteri dan Adenomiosis F. DINATA; B. WIWEKO; A. HESTIANTORO
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 31, No. 2, April 2007
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.743 KB)

Abstract

Tujuan: Untuk mengetahui manfaat miolisis dengan radiofrequency thermal ablation terhadap mioma uteri dan adenomiosis. Tempat: RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Rancangan/rumusan data: Penelitian ini bersifat deskriptif. Bahan dan cara kerja: Delapan orang pasien yang menderita mioma uteri dan atau adenomiosis bergejala menjalani miolisis dengan radiofrequency thermal ablation baik transvaginal maupun per laparoskopik. Satu bulan pascaoperasi, pasien dievaluasi kembali ukuran massa dengan ultrasonografi dan perubahan gejala yang berkaitan dengan kedua patologi uterus tersebut. Hasil: Dari pasien yang diteliti, 5 pasien (62,5%) menderita adenomiosis, dan 3 pasien (37,5%) menderita mioma uteri. Rata-rata diameter dan volume massa paling besar per pasien berturut-turut adalah 4,6 cm (1,4 - 9,0) dan 694,3 cm3 (11,5 - 3061,8). Tujuh pasien (87,5%) mengeluh dismenorea, dan hanya 1 pasien mengeluh menorragia. Tiga pasien (37,5%) menjalani miolisis laparoskopik. Tidak terdapat komplikasi intraoperatif atau pascaoperatif. Rata-rata reduksi volume massa pada follow-up 1 bulan adalah 67,5%; reduksi mioma uteri mencapai 81,5%; sedangkan adenomiosis 59,1%. Pada follow-up tersebut, semua pasien menyatakan keluhan dismenorea atau menorragia menghilang. Kesimpulan: Pada penelitian pendahuluan ini, miolisis dengan radiofrequency thermal ablation telah berhasil mengurangi volume mioma uteri dan adenomiosis serta menghilangkan gejalanya. Diperlukan follow-up serial dan penelitian tambahan untuk menilai efikasi dan keamanan teknik ini. [Maj Obstet Ginekol Indones 2007; 31-2: 79-85] Kata kunci: mioma uteri, adenomiosis, miolisis, radiofrequency
Pengaruh Laparoscopic Ovarian Drilling terhadap perubahan aliran darah Stroma Ovarium dan Nisbah LH:FSH pada Sindrom Ovarium Polikistik C.T. PRAMAYADI; A. HESTIANTORO; W. HADISAPUTRA; D. PRASMUSINTO
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 1, January 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.637 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui pengaruh intervensi LOD terhadap perubahan vaskularisasi aliran darah stroma ovarium dan penurunan nisbah LH: FSH pada pasien sindrom ovarium polikistik. Tempat: Penelitian dilakukan di klinik Raden Saleh Divisi Kesehatan Reproduksi, Klinik Yasmin dan laboratorium Makmal Terpadu FKUI-RSUPNCM. Bahan dan cara kerja: Penelitian ini dirancang sebagai penelitian quasi/pre eksperimental. Dalam kurun waktu September 2006 sampai dengan Februari 2007, pasien merupakan pasien SOPK yang gagal terapi klomifen sitrat dan akan dilakukan terapi laparoscopic ovarian drilling sesuai kriteria inklusi. Pasien dilakukan pemeriksaan serum hormonal (LH dan FSH) dan pemeriksaan ultrasonografi dengan doppler berwarna untuk mengukur indeks resistensi dan indeks pulsasi sebelum dan satu bulan sesudah tindakan LOD. Kemudian dilakukan pengukuran nisbah LH/FSH dan indeks pulsasi dan indeks resistensi volume ovarium sebelum dan sesudah LOD. Hasil: Selama penelitian terdapat 11 pasien yang menjalani tindakan LOD. Didapatkan sebaran usia dan indeks massa tubuh 28 ± 2,1 dan 27,55 ± 6,23. Terdapat penurunan nisbah LH:FSH setelah dilakukan LOD sebesar 1,31 iu/l (3,22-1,91) p=0,790; peningkatan indeks resistensi setelah dilakukan LOD sebesar 0,04 (0,81-0,85) p=0,284; dan penurunan indeks pulsasi setelah dilakukan LOD sebesar 0,74 (2,51-1,77) p=0,062; dengan demikian hasil penelitian tersebut belum cukup bermakna secara statistik. Kesimpulan: Terdapat kecenderungan penurunan nisbah LH:FSH, peningkatan indeks resistensi dan penurunan indeks pulsasi sesudah dilakukan tindakan LOD. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-1: 3-10] Kata kunci: SOPK, LOD, indeks pulsasi, indeks resistensi
Profil siklus menstruasi dan kejadian ovulasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin W. WIRIAWAN; A. HESTIANTORO; J. PRIHARTONO
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume. 32, No. 4, October 2008
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.695 KB)

Abstract

Tujuan: Mengetahui pola siklus menstruasi dan angka kejadian ovulasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin dan diketahuinya sebaran angka kejadian ovulasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin menurut pola siklus menstruasinya. Rancangan/rumusan data: Studi deskriptif dengan rancangan potong lintang. Bahan dan cara kerja: Selama kurun waktu Januari sampai Juni 2007 dilakukan pengumpulan data terhadap 40 responden yang diambil secara consecutive sampling di RSKO Fatmawati dan beberapa puskesmas di Jakarta. Semua responden dilakukan wawancara mengenai pola siklus menstruasi tiga bulan sebelumnya dan dilakukan pemeriksaan kadar progesteron pada fase luteal madya. Hasil: Subjek yang diteliti berjumlah 40 perempuan usia reproduksi pecandu heroin yang berusia antara 20 sampai 40 tahun dengan rata-rata usia responden 26 (20 - 37) tahun. Rata-rata lamanya menggunakan heroin 7,1±3,1 tahun, sedangkan rerata usia responden pertama kali menggunakan heroin adalah 18 (13 - 31) tahun. Pola menstruasi yang didapatkan yaitu oligomenorea sebesar 67,5 %, siklus normal 22,5 %, dan amenorea sebesar 10 %. Pada penilaian kadar progesteron fase luteal madya didapatkan siklus menstruasi yang tidak berovulasi sebesar 77,5 % dan siklus yang berovulasi sebesar 22,5 %. Tidak ada perbedaan yang bermakna secara statistik (p > 0,005) di antara kelompok faktor risiko umur, lama pemakaian heroin, jumlah paritas, dan indeks massa tubuh mengenai gangguan ovulasi pada perempuan pecandu heroin. Kesimpulan: Pola menstruasi perempuan usia reproduksi pecandu heroin yang terbanyak adalah oligomenorea (67,5 %) dengan siklus yang berovulasi sebesar 26 %. [Maj Obstet Ginekol Indones 2008; 32-4: 223-8] Kata kunci: heroin, usia reproduksi, siklus menstruasi, ovulasi.