Taufik S. Ismail
Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Completion of Ethical Dilemma and its Medicolegal Aspect in the Case of Pregnancy with History of Rheumatic Heart Disease: Penyelesaian Dilema Etika dan Aspek Medikolegalnya pada Kasus Kehamilan dengan Riwayat Penyakit Jantung Rheumatik Taufik S. Ismail; Andy P. Meliala; Kulsum B. Syarifudin
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 8 No. 3 July 2020
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32771/inajog.v8i3.1151

Abstract

Objective: To investigate more regarding the ethical dilemma resolution and medico-legal aspect of medical pregnancy termination due to preexisting Rheumatic Heart Disease (RHD).Methods: a Case report, presented a case of heart failure due to RHD in pregnancy, a 33-year-old patient in her third pregnancy with multiple valve disease including severe mitral stenosis, moderate mitral regurgitation, and mild tricuspid regurgitation. The patient came to the emergency ward due to shortness of breath worsening when she started becoming pregnant. The medical decision taken is very dilemma between continuing the pregnancy with the risk of endangering the mother's life or terminating the pregnancy with the risk of the mother losing her fetus. Results: After a joined conference that involved some medical, ethical, medicolegal and spiritual expertise discussing the best therapeutic options for patients, it was decided that the patient's condition was very high risk if the pregnancy was continued, using the minus malum principle, which is to take an actions with minimal risk, hence termination pregnancy is worse than the patient's death. Another ethical principle is beneficence which is for the good of the patient. The clinical ethics considered are medical indication and quality of life.Conclusion: The ethical concept should guide the obstetrician to reach ethically justified judgment regarding the balance between autonomy-based and beneficence-based obligation to the pregnant mother and the fetus. Women with RHD of reproductive age must receive early preconception evaluation and advice regarding the potential impact of pregnancy on their cardiovascular function.Keywords: ethical dilemma, medico-legal, pregnancy, rheumatic heart disease AbstrakTujuan: Menyelidiki lebih lanjut tentang penyelesaian dilemma etika dan tinjauana spekmedikolegal terhadap terminasi kehamilan medis karena Penyakit Jantung Rheumatik (PJR) yang sudah ada sebelumnya.Metode: Laporan kasus, disajikan sebuah kasus gagal jantung karena PJR pada kehamilan, seorang pasien berusia 33 tahun pada kehamilan ketiga dengan penyakit katup ganda termasuk stenosis mitral berat, regurgitasi mitral sedang, dan regurgitasi trikuspidringan. Pasien dating keruang gawat darurat karena napasnya yang pendek memburuk ketika mulai hamil. Keputusan medis yang diambil sangat dilematis antara meneruskan kehamilan dengan risiko membahayakan jiwa buat auterminasi kehamilan dengan risiko si ibu kehilangan janinnya.Hasil: Setelah dilakukan join conference yang melibatkan beberapa keahlian baik medik, etik, medikolegal maupun spiritual membicarakan pilihan terapi terbaik buat pasien maka diputuskan bahwa kondisi pasien sangat berisiko tinggi apabila kehamilan diteruskan, dengan menggunakan prinsip etika minus mallum yaitu mengambil tindakan yang lebih kecil keburukannya, maka terminasi kehamilan lebih kecil keburukannya dibandingkan kematian pasien. Prinsip etika yang lain adalah beneficence yaitu demi kebaikan pasien. Etika klinik yang dipertimbangkan adalah indikasi medis dan kualitas hidup.Kesimpulan: Konsepetis harus memandu ahli obstetrik untuk mencapai penilaian etis yang dibenarkan tentang keseimbangan antara kewajiban berbasis otonomi dan berbasis beneficence kepada ibu hamil dan janin. Perempuan dengan RHD usia reproduksi harus menerima evaluasi prakonsepsi dini dan saran mengenai dampak potensial kehamilan pada fungsi kardiovaskular mereka.Kata kunci: Dilemaetik, kehamilan, medikolegal, penyakit jantung rheumatik
Resolution of ethical conflicts between medical indications and patient preferences in case of unmarried woman with ovarian cancer: Penyelesaian Konflik Etika antara Indikasi Medik dan Preferensi Pasien pada Kasus Perempuan yang belum Menikah dengan Kanker Ovarium Taufik S. Ismail; Putri Irmayani; Kulsum Kulsum
Indonesian Journal of Obstetrics and Gynecology Volume 11 No. 4 October 2023
Publisher : Indonesian Socety of Obstetrics and Gynecology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32771/inajog.v11i1.1652

Abstract

Objectives: To resolve ethical conflicts in medical decision making in unmarried patients with a diagnosis of ovarian cancer. The ethical issue in this case is the main operative management in cases of ovarian cancer, namely removal of the uterus and both ovaries even though the patient is not married and has never been pregnant. The opportunity for patients to get pregnant no longer exists, so there is an ethical conflict between medical indications and patient preferences.Methods: This case report is about an unmarried woman 38- year with a diagnosis of ovarian cancer. This patient initially underwent right salfingooophorectomy surgery. Anatomical pathology results found adenocarcinoma serosum ovarii. The patient underwent chemotherapy for 3 cycles. Then the patient was re-operated with a planned debulking interval laparotomy.Discussion: From the aspect of patient indications, the results of combination treatment between surgery and chemotherapy have shown a marked increase in the survival rate of patients in five years. The choice of performing a debulking interval laparotomy is a difficult choice. The patient's preference to get pregnant will be difficult to accept, but it can be accommodated by improving the quality of life and paying attention to humanism, social and cultural aspects of its contextual features.Conclusion: Clinical ethical considerations related to uterine removal in unmarried patients is a matter of debate. Clinical ethical theory namely quality of life, patient preferences, medical indications, and contextual features are beneficial in medical decision making.Keywords: debulking intervals, ethical conflicts, medical indications, ovarian cancer, patient preferences.Tujuan: Untuk menyelesaikan konflik etik dalam pengambilan keputusan medik pada pasien yang belum menikah dengan diagnosis kanker ovarium. Isu etik pada kasus ini yaitu manajemen operatif utama pada kasuskanker ovarium yaitu pengangkatan uterus dan kedua ovarium padahal pasien belum menikah dan belum pernah hamil. Kesempatan untuk pasien untuk hamil tidak ada lagi sehingga terjadi pertentangan etik antara indikasi medik dengan preferensi pasien.Metode: Laporan kasus ini tentang seorang pasien perempuan yang belum menikah, berusia 38 tahun dengandiagnose kanker ovarium. Pasien ini awalnya dilakukan operasi salfingoooforektomi kanan. Hasil patologi anatomi ditemukan adenokarsinoma serosum ovari. Pasien menjalani kemoterapi sebanyak 3 siklus. Kemudian pasien dilakukan operasi kembali yang direncanakan tindakan laparotomi interval debulking.Diskusi: Dari aspek indikasi pasien, hasil pengobatan kombinasi antara pembedahan dan kemoterapi telahmenunjukkan peningkatan survival rate yang nyata pada pasien dalam lima tahun. Pilihan melakukan tindakanlaparotomi interval debulking merupakan pilihan sulit. Preferensi pasien untuk dapat hamil akan sulit dikabulkan, namun dapat diakomodir dengan peningkatan kualitas hidup dan memperhatikan aspek humanism, sosial dan kultural pada fitur kontekstualnya.Kesimpulan: Pertimbangan etik klinik yang berhubungan dengan pengangkatan rahim pada pasien yang belum menikah merupakan masalah yang diperdebatkan. Teori etika klinis yaitu indikasi medis, preferensi, kualitas hidup dan fitur kontektual sangat membantu dalam pengambilan keputusan medis yang etis.Kata kunci: indikasi medis, interval debulking, kanker ovarium, konflik etik, preferensi pasien