Lombok tengah merupakan salah satu kabupaten di Nusa tenggara Barat yang memiliki banyak tradisi lokal seperti ngurisang (mencukur rambut anak yang baru lahir), nyunatan (khitanan), maulidan (maulid Nabi), pelayaran atau nyiwa’ (Sembilan hari setelah kematian), isra’ mi’raj, rowah, nyongkolan (mantenan), dan lain-lain. Tradisi-tradisi tersebut masih banyak ditemukan di desa Pagutan, kec. Batukliang, Lombok Tengah. Dalam membendung maraknya budaya pop yang dianggap mengancam keberlangsungan budaya setempat, media yang digunakan adalah memace (nyaer) yaitu aktivitas pembacaan hikayat dari kitab-kitab melaui lantunan lagu. Penelitian ini bertujuan mendapatkan makna dari tradisi memace (Nyaer) sebagai media literasi budaya. Metode penelitian menggunakan metode etnografi. Data-data diperoleh melalui observasi terlibat, wawancara, dan analisis dokumen. Sementara teknik pengolahan data dilakukan dengan deskriptif dan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa memace sebagai media literasi mengandung dua aspek. Pertama, memace sebagai media pembelajaran sepanjang hayat yaitu proses pembelajaran terus menerus untuk memperoleh pemahaman, kesadaran, dan manfaat dari pengetahuan sehingga dapat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan. Pembelajaran ini tidak memandang usia, gender, agama, suku dan ras. Kedua, memace sebagai media impelementasi tujuan pendidikan. Sedangkan memace menjadi kekuatan budaya karena mengandung beberapa hal. Pertama, mengandung nilai religius yaitu nilai-nilai Islam yang menjadi pedoman masyarakat Pagutan. Kedua, nilai pendidikan yaitu pembelajaran tanpa memandang usia, gender, dan tingkat pendidikan. Ketiga, nilai seni yaitu unsur kesenian yang tergambarkan melalui pembacaan syair hikayat melaui lantunan lagu yang khas.