Saman Saman
Magister Ilmu Religi dan Budaya Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Kejawaan dalam Video Campursari: Analisis Visual, Musik dan lirik “Nyidham Sari”, “Wuyung”, “Jambu Alas”, “Modal Dhengkul”, “Bagus Adine”, dan “Kusumaning Ati” Saman Saman
Retorik: Jurnal Ilmu Humaniora Vol 9, No 1 (2021): Praktik, Artikulasi, dan Dinamika Budaya Visual
Publisher : Sanata Dharma University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.382 KB) | DOI: 10.24071/ret.v9i1.4573

Abstract

Penelitian ini membahas video hits campursari: “Nyidham Sari”, “Wuyung”, “Jambu Alas”, “Modal Dhengkul”, “Bagus Adine”, dan ““Kusumaning Ati””. Keberadaan lagu hits diukur dari jumlah pembelian dan disukai banyak orang. Masalah utama penelitian ini adalah bagaimana representasi kejawaan dalam visualisasi, musik, dan lirik lagu keenam video campursari. Masalah ini dipilih mengingat campursari menjadi fenomena dunia musik dekade 1990-an dan 2000-an. Untuk menjawab persoalan pembentukan representasi kejawaan, dipakailah model hibriditas menurut John Pemberton. Hibriditas merujuk pada istilah cara Jawi yang merupakan proses silang budaya atau pengembangan gaya-gaya pakaian Pakubuwana dan pribumi dengan cara mengambil gaya-gaya pakaian Belanda. Representasi kejawaan keenam video campursari merupakan langkah membentuk karakter khas dan membedakan diri dengan musik pop, dangdut, dan rock. Dari segi musik, keenam video campursari merupakan percampuran kultural antara instrumen pop dan gamelan yang didominasi musik pop yang dinyatakan melalui kerangka akor dan menstandarisasikan gamelan ke dalam sistem nada diatonis. Lirik lagu menceritakan cinta, kesetiaan, suasana batin, dan harapan untuk hidup bersama. Namun, kisah cinta ini berujung pada penderitaan akibat kegagalan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dari segi visualisasi, “Nyidham Sari”, “Wuyung”, dan “Bagus Adine” menyatakan terang-terangan pakaian tradisional Jawa dan tidak menghadirkan gaya-gaya pakaian modern. Sementara visualisasi “Jambu Alas”, “Modal Dhengkul”, dan “Kusumaning Ati” menjajarkan pakaian tradisional Jawa dan pakaian modern. Pada akhirnya, keenam visualisasi video campursari menghasilkan semangat lokalitas yang puritan.