Tranggono Yudo Utomo
Staff Pengajar Departemen Neurologi FK UKI Jakarta

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

SEREBRAL DAN SPINAL DIGITAL SUBTRACTION ANGIOGRAPHY Tranggono Yudo Utomo
Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya Vol 9 No 1 (2021): Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (361.528 KB) | DOI: 10.37304/jkupr.v9i1.2862

Abstract

Pengembangan teknologi citra medis terus dilakukan sampai saat ini karena sifatnya yang non-invasif dan memiliki manfaat yang besar dalam membantu klinisi mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan penyakit. Salah satu teknologi citra medis yang digunakan saat ini adalah digital subtraction angiography (DSA), yang berfungsi sebagai alat diagnostik penyakit kardiovaskular. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji berbagai modalitas citra medis vaskular yang ada saat ini termasuk DSA, serta peran pencitra medis DSA dalam menunjang prosedur terapi penyakit serebrovaskular. Artikel ini berupa telaah literatur yang didapatkan melalui peramban google cendekia dan pubmed dengan kata kunci yaitu digital substraction angiography, DSA, computed tomography angiography, CTA, neuro intervensi, magnetic resonating angiography, MRA. Pencitra medis DSA sampai saat ini masih menjadi baku emas untuk mendeteksi penyakit pembuluh darah dan visualisasi diagnostik pada terapi intervensi pada beberapa penyakit vaskular, dengan tingkat resolusi spasial yang tinggi menghasilkan akurasi yang lebih baik dibandingkan dengan MRA dan CTA namun masih memiliki kelemahan dalam hal sifatnya yang invasif, waktu diagnosis dan paparan radiasi. DSA masih lebih unggul dibandingkan modalitas lain untuk kepentingan diagnostik dan sebagai alat penunjang pada terapi endovaskular khususnya stroke, namun beberapa kelemahan DSA akan dapat diatasi dengan perkembangan teknologi dimasa depan. DSA masih relevan digunakan sebagai standar baku dalam diagnosis penyakit vascular.
ANGIOPLASTY UNTUK STENOSIS ATEROSKLEROSIS INTRAKRANIAL Tranggono Yudo Utomo
Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya Vol 9 No 2 (2021): Jurnal Kedokteran
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.033 KB) | DOI: 10.37304/jkupr.v9i2.3511

Abstract

Intracranial atherosclerotic stenosis (ICAS) is a common cause of transient ischemic attack (TIA) and ischemic stroke which is the second – leading cause of death worldwide. At up to 40 – 50%, the rate of symptomatic ICAS is significantly higher in the Asian population and is probably the most common cause of stroke worldwide. Indication for endovascular treatment is a challenge and the selection of material as well as interventional techniques essentially differs from the treatment of extracranial stenosed. Conservative (medical and lifestyle change) and endovascular therapy procedures as well as endovascular therapeutic approaches (percutaneous balloon angioplasty (PTA) or stent – assisted angioplasty (PTAS) are available for the treatment of ICAS. This review aims to further evaluate the role of angioplasty in treating intracranial atherosclerosis. Endovascular treatment, such as balloon angioplasty with or without stenting, have emerged as therapeutic option for symptomatic intracranial stenosis. There are many types of endovascular techniques available for ICAS treatment, including balloon angioplasty alone, balloon – mounted stent (Pharos Vitesse), and self – expandable stent (Wingspan), each of which has its owns features and specific advantages relating to different intracranial artery lesion. Thus, endovascular treatment in ICAS patient is an alternative to prevent recurrent TIA/ischemic stroke. Endovascular treatment requires comprehensive considerations and multidiscipline team in order to provide effective treatment for ICAS patients.  
Profil Nyeri Kepala pada penderita Covid-19 di RSUD dr. Chasbullah Abdulmajid Kota Bekasi Fitriani Tri Rahayu; Tranggono Yudo Utomo
Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya Vol 9 No 2 (2021): Jurnal Kedokteran
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.877 KB) | DOI: 10.37304/jkupr.v9i2.3512

Abstract

  SARS-CoV-2 atau COVID-19 merupakan wabah baru yang menjadi Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Nyeri kepala merupakan manifestasi yang paling sering, memiliki heterogenitas tinggi, dapat muncul pertama dan sebagai gejala tunggal. Nyeri kepala dapat menjadi perhatian dini terhadap identifikasi dini infeksi, namun hingga saat ini tidak ada data sistematis dari karakteristik nyeri kepala akibat COVID-19. Tujuan untuk mengetahui frekuensi dan karakteristik nyeri kepala pada pasien COVID-19. Studi cross-sectional pada pasien COVID-19 dengan keluhan nyeri kepala di Instalansi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Chasbullah Abdul madjid Kota Bekasi. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling menggunakan data sekunder rekam medis periode Oktober - Desember tahun 2020. Sebanyak 69 pasien dengan keluhan nyeri kepala terkonfirmasi COVID-19, mayoritas adalah perempuan (62%) dan kelompok usia terbanyak 40-60 tahun (71%). Nyeri kepala terkait COVID-19 pada sebagian besar pasien adalah nyeri kepala bilateral (49,28%), intensitas sedang (52,17%), dan bersifat mengikat (40,56%). Nyeri kepala terkait COVID-19 adalah keluhan yang sering ditemui di Instalansi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Chasbullah Abdulmajid dengan lokasi nyeri paling banyak pada daerah temporal, intensitas nyeri sedang dan bersifat nyeri mengikat. Untuk mengetahui frekuensi dan karakteristik nyeri kepala pada pasien COVID-19. Studi cross-sectional pada pasien COVID-19 dengan keluhan nyeri kepala di Instalansi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling menggunakan data sekunder rekam medis periode Oktober-Desember tahun 2020. Dari 69 pasien dengan keluhan nyeri kepala terkonfirmasi COVID-19, mayoritas adalah perempuan (62%) dan kelompok usia terbanyak 40-60 tahun (71%). Nyeri kepala terkait COVID-19 pada sebagian besar pasien adalah nyeri kepala bilateral (49,28%), intensitas sedang (52,17%), dan bersifat menekan/mengikat (40,56%). SARS-CoV-2 atau COVID-19 merupakan wabah baru yang menjadi Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Nyeri kepala merupakan manifestasi yang paling sering, memiliki heterogenitas tinggi, dapat muncul pertama dan sebagai gejala tunggal. Nyeri kepala dapat menjadi perhatian dini terhadap identifikasi dini infeksi, namun hingga saat ini tidak ada data sistematis dari karakteristik nyeri kepala akibat COVID-19. Tujuan untuk mengetahui frekuensi dan karakteristik nyeri kepala pada pasien COVID-19. Studi cross-sectional pada pasien COVID-19 dengan keluhan nyeri kepala di Instalansi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling menggunakan data sekunder rekam medis periode Oktober - Desember tahun 2020. Sebanyak 69 pasien dengan keluhan nyeri kepala terkonfirmasi COVID-19, mayoritas adalah perempuan (62%) dan kelompok usia terbanyak 40-60 tahun (71%). Nyeri kepala terkait COVID-19 pada sebagian besar pasien adalah nyeri kepala bilateral (49,28%), intensitas sedang (52,17%), dan bersifat mengikat (40,56%). Nyeri kepala terkait COVID-19 adalah keluhan yang sering ditemui di Instalansi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr. Chasbullah Abdulmajid dengan lokasi nyeri paling banyak pada daerah temporal, intensitas nyeri sedang dan bersifat nyeri mengikat.