Andre Malau
Sekolah Tinggi Filsafat Theologia Jaffray Makassar

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Gambar Allah Menurut Kejadian 1:26-28 dan Implikasinya bagi Pengembangan Artificial Intelligence Andre Malau; Andrew Scott Brake
Jurnal Ilmu Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 3, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Jaffray

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25278/jitpk.v3i1.632

Abstract

AbstrakTujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan makna gambar Allah menurut Kejadian 1:26-28 dan implikasinya terhadap pengembangan Artificial Intelligence. Adapun metode penulisan yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan metode hermeneutik. Adapun metode hermeneutik yang dugunakan ialah hermeneutik terhadap Alkitab sebagai salah satu komponen teologi dalam mempelajari penafsiran Alkitab. Dari hasil analisis yang penulis lakukan didapati makna manusia sebagai gambar Allah adalah kemuliaan dari Allah kepada manusia dalam tanggung jawab menjadi wakil Allah di dunia. Pengajaran tentang gambar Allah dalam Kejadian 1:26-28 sangat menolong manusia untuk melihat kembali harkat martabat manusia sebagai ciptaan Allah yang diberi tugas untuk berkuasa atas dunia ini. Konsep manusia sebagai gambar Allah sangat relevan sebagai sikap kritis terhadap perkembangan AI yang mengancam harkat dan martabat manusia. AbstractThe purpose of writing this scientific paper is to explain the biblical study of the image of God according to Genesis 1:26-28 and its implications for the development of Artificial Intelligence. The writing method used is qualitative analysis with hermeneutic method. The meaning of man as the image of God is the noble task of man by being God's representative on earth. Humans receive a mandate from God to regulate life in a good direction, including in the development of Artificial Intelligence technology. Some of the implications that can be drawn from the changes are: The development of Artificial Intelligence should not deprive people of jobs. God gave the mandate to humans to rule over life, not over machines. The life of this world requires humans who are able to give moral judgment while machines to the highest level will not be able to have moral abilities. Second, the development of Artificial Intelligence should not be aimed at sexual gratification because Allah only created men and women to enjoy sexual relations and reproduce. Third, the development of Artificial Intelligence must not endanger human dominance because there is a risk in the occurrence of programming errors. Artificial Intelligence acts deviate from human desires and is detrimental to life.
PROVIDENSIA ALLAH DALAM CATATAN PENIPUAN EHUD: Malau, Andre; Corputty, Donny Novi
Jurnal Amanat Agung Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Amanat Agung Vol. 20 No. 1 Juni 2024
Publisher : STT Amanat Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47754/jaa.v20i1.651

Abstract

Kisah Ehud sebagai Hakim terpilih menimbulkan polemik terhadap doktrin providensia Allah, yaitu adanya catatan penipuan Ehud dalam membunuh Raja Eglon. Penipuan Ehud dalam menjalankan tugas sebagai Hakim yang dipilih Allah sangat kontradiktif dengan natur Allah sebagai kebenaran yang tidak mungkin menipu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis kualitatif dengan metode hermeneutik. Secara spesifik menggunakan kajian narasi sebagai bentuk murni teks Hakim-Hakim 3:12-30. Hasil kajian narasi Hakim-Hakim 3:12-30 ialah keberhasilan Ehud dalam konteks providensia Allah bagi Israel selaras dengan penggambaran Eglon seorang tiran yang rakus akan kekuasaaan sehingga layak dihukum Allah. Kesimpulan yang diperoleh ialah Narasi dalam Hakim-Hakim 3:12-30 dengan konsisten memperlihatkan providensia Allah bagi umat-Nya.
Konsep Menyerahkan Orang Kepada Iblis dalam 1 Korintus 5:1-13 dan Implementasinya dalam Kehidupan Orang Percaya Malau, Andre; Luthy, Christopher James; Laukapitang, Yunus D. S.
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 4 No 2 (2022): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v4i2.107

Abstract

The basic diificulty in understanding the text is understanding the role of the devil who destroys the body but aims to save the soul of the person who is handed over to the devil which is very contrary to the goal of the devil who wants to destroy humans so that they experience eternal death instead of saving the soul. The purpose of this study is to examine the concept of handing people over to the devil in the text of 1 Corinthians 5:1-13. In addition, the author also explains the implications of the text for believers today. This study uses a grammatical-historical hermeneutic study method. The result of the author's study is that the concept of handing people over to the Devil in 1 Corinthians 5:1-13 is an act of the congregation by exercising church discipline against church members who have not left their sins and aims to provide a deterrent effect. Meanwhile, the implementation of the concept of handing people over to the Devil/demons in 1 Corinthians 5:1-13 is that believers live in a commitment to holiness, carry out church discipline as the identity of the holy people, and carry out church discipline as the authority of the congregation. Kesulitan dasar dalam memahami teks tersebut ialah memahami peran Iblis yang membinasakan tubuh namun bertujuan untuk keselamatan roh atas orang yang diserahkan kepada Iblis yang sangat bertentangan dengan tujuan Iblis yang mau membinasakan manusia agar mengalami kematian kekal bukan keselamatan roh. Tujuan dari penelitian ini ialah mengkaji konsep menyerahkan orang kepada Iblis dalam teks 1 Korintus 5:1-13. Selain itu, penulis juga menjelaskan implikasi teks bagi orang percaya pada masa kini. Penelitian ini menggunakan metode kajian hermeneutik gramatikal-historis. Hasil kajian penulis ialah konsep menyerahkan orang kepada Iblis dalam 1 Korintus 5:1-13 adalah tindakan jemaat dengan menjalankan disiplin gereja terhadap anggota jemaat yang belum meninggalkan dosanya dan bertujuan memberikan efek jera. Adapun, implikasi dari konsep menyerahkan orang kepada Iblis/setan dalam 1 Korintus 5:1-13 ialah orang percaya hidup dalam komitmen kekudusan, menjalankan disiplin gereja sebagai identitas umat yang kudus, serta menjalankan disiplin gereja sebagai wewenang jemaat.