Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Pengobatan TB dipersulit dengan adanya reaksi efek samping, sehingga pengobatan harus dihentikan sementara. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Drug Hypersensitivity Syndrome (DHS) akibat obat anti tuberculosis (OAT) dapat muncul ditandai dengan gejala demam, erupsi kulit, kerusakan organ dalam, dan eosinophilia darah tepi. Pasien wanita (58 tahun) datang dengan keluhan rasa panas pada kulit seluruh badan yang timbul sejak lebih dari 2 minggu sebelum masuk rumah sakit. Keluhan disertai rasa panas mendadak, ruam pada kulit yang berwarna merah dan gatal, bibir kering; pecah-pecah dan bernanah, mata dan telapak tangan terlihat kuning serta kaku pada sendi. Menurut pasien semua keluhan muncul sesaat setelah pasien meminum OAT. Pasien menderita TB sejak empat bulan yang lalu dan memiliki komorbiditas Diabetes Melitus tipe II. Pada pemeriksaan fisik, pasien tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis dan didapatkan peningkatan suhu. Pada pemeriksaan mata sklera tampak ikterik, pemeriksaan lokalis mulut terdapat krusta kekuningan pada bibir dan lidah kotor, serta pada perabaan limfa nodi membesar pada kelenjar getah bening suboksipital dan servikal superfisial. Pada pemeriksaan kulit didapatkan efloresensi makula eritrem yang tersebar merata. Pada pemeriksaan penunjang, didapatkan eosinophilia, peningkatan enzim hepar dan penurunan fungsi ginjal. Penatalaksanaan yang diberikan berupa kompres NaCl pada krusta 3 kali sehari, Metilprednisolon 1 x 6,25 mg dan pemberian insulin aspart 10 U/hari untuk mengontrol gula darah. OAT segera dihentikan karena DHS, kemudian klinisi dapat memilih antara melakukan desensitisasi obat yang memicu hipersensitivitas atau mengganti dengan regimen lain.