p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Panggung Panggung
Rica Rian
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Reinterpretasi Monumen Bagindo Aziz Chan Karya Arby Samah dalam Ikonografi Erwin Panofsky Rica Rian; Suryanti Suryanti
PANGGUNG Vol 30, No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1445.223 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1140

Abstract

ABSTRACTResearch was entered to trace the Bagindo Aziz Chan monument by Arby Samah trough the iconographicapproach put forward by Erwin Panofsky, as well as to uncover the reason for the contruction of themonument. The research uses qualitative methods of observation interviews and document.The figure Arby Samah described in the “Bagindo Aziz Chan Monument” is indeed a Bagindo figure,which was made using cement plaster technique, making the work began in 1973 by Arby Samah. Reliefsmade in the foundation of the statue tells the sequence of event killed Bagindo Aziz Chan. The use ofthe realist style found by the author on the Bagindo Aziz Chan monument although the cultivation ofthe statue still looks tough, but the delivery of the sign on the statue is the hope and ideals of BagindoAziz Chan during his leadership as mayor of Padang is clearly depicted. The making of the statue uses acement plaster which is a technique commonly technique. Used by sculpture artists in the 1970s. In 2005Bagindo Aziz Chan was awarded as a national hero from west Sumatera by the central government, andalso on July 19 the people of Padang commemorated the day of death of Bagindo Aziz Chan which was atribute to the leader of Padang. And also the name Bagindo Aziz Chan has been enshrined as the name ofa street and a building in the city of Padang.Keywords: Bagindo Aziz Chan Monument, Iconographic, Erwin Panofsky.ABSTRAKPenelitian dimaksudkan untuk menelusuri monumen Bagindo Aziz Chan karya Arby Samahmelalui pendekatan ikonografi yang dikemukakan oleh Erwin Panofsky, serta mengungkapalasan dibangunnya monumen tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitupengamatan, wawancara dan dokumen.Tokoh yang digambarkan Arby Samah pada karya “Monumen Bagindo Aziz Chan” ini memangsosok Bagindo Aziz Chan, yang dibuat memakai teknik plaster semen, pembuatan karya tersebutselesai mulai dilakukan pada tahun 1971 dan selesai pada tahun 1973 yang dibuat oleh ArbySamah. Relief yang dibuat pada landasan patung menceritakan urutan peristiwa terbunuhnyaBagindo Aziz Chan. Pemakaian gaya realis yang didapati penulis pada monumen BagindoAziz Chan walaupun penggarapan patung tersebut masih terlihat kasar, namun penyampaiantanda pada patung tersebut merupakan harapan dan cita-cita Bagindo Aziz Chan selamakepemimpinannya sebagai wali kota Padang tergambarkan dengan jelas. Pembuatan patungtersebut menggunakan teknik plaster semen yang merupakan teknik yang umum dipakai olehseniman patung pada tahun 1970-an. Pada tahun 2005 Bagindo Aziz Chan dianugrahi sebagaipahlawan nasional asal Sumatera Barat oleh pemerintah pusat, dan juga pada tanggal 19 Julimasyarakat kota Padang memperingati hari wafatnya Bagindo Aziz Chan yang merupakanpenghormatan kepada pemimpin kota Padang yang tegas dan berani tersebut. Dan juga namaBagindo Aziz Chan sudah diabadikan sebagai nama jalan dan gedung di kota Padang.Kata Kunci: Monumen Bagindo Aziz Chan, Ikonografi Erwin Panofsky
Lukisan Nude dalam Perspektif Budaya di Sumatera Barat Yandri Yandri; Hamzah Hamzah; Suryanti Suryanti; Rica Rian
PANGGUNG Vol 32, No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.67 KB) | DOI: 10.26742/panggung.v32i3.2265

Abstract

Penelitian ini membahas tentang karya seniman Sumatera Barat yang mengangkat ide tentang Nude (ketelanjangan) ditijau dari perspektif budaya di Sumatera Barat. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif yang bertrujuan membandingkan suatu variabel (objek penelitian), antara subjek yang berbeda atau waktu yang berbeda dan menemukan hubungan sebab akibatnya. Metode yang dipakai dalam penelitian ini merujuk pada metodologi penelitian kualitatif dan kuantitatif, selain itu juga menggunakan pendekatan normatif dan empiris. Kemudian untuk laporan penelitian, data-data yang terhimpun disajikan berdasarkan kutipan data berupa kata/ kalimat maupun data berupa naskah wawancara, catatan lapangan, foto, video, dokumen pribadi, memo ataupun dokumen resmi lainnya. Evelyna Dianita dan Afianto Arifin merupakan pelukis di Sumatera Barat yang berkarya mengangkat konsep Nude atau ketelanjangan, karya yang dihadirkan sangat pornografi dan dibuat sedetail mungkin. Kehadiran karya yang bertema Nude ini tentu mendapatkan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat di Sumatera Barat yang menjunjung tinggi norma-norma agama, adat, dan budaya. Kehadiran karya seniman lukis di Sumatera Barat ini yang mengangkat tema Nude tidak banyak jumlahnya, namun kehadiran karya tersebut merupakan karya pesanan dan bukan untuk dipublikasikan, dan semua itu karena kebutuhan dan faktor ekonomi.Kata Kunci: Lukisan Nude, Komparasi, Budaya, Sumatera Barat
Reinterpretasi Monumen Bagindo Aziz Chan Karya Arby Samah dalam Ikonografi Erwin Panofsky Rica Rian; Suryanti Suryanti
PANGGUNG Vol 30 No 1 (2020): Polisemi dalam Interpretasi Tradisi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v30i1.1140

Abstract

ABSTRACTResearch was entered to trace the Bagindo Aziz Chan monument by Arby Samah trough the iconographicapproach put forward by Erwin Panofsky, as well as to uncover the reason for the contruction of themonument. The research uses qualitative methods of observation interviews and document.The figure Arby Samah described in the “Bagindo Aziz Chan Monument” is indeed a Bagindo figure,which was made using cement plaster technique, making the work began in 1973 by Arby Samah. Reliefsmade in the foundation of the statue tells the sequence of event killed Bagindo Aziz Chan. The use ofthe realist style found by the author on the Bagindo Aziz Chan monument although the cultivation ofthe statue still looks tough, but the delivery of the sign on the statue is the hope and ideals of BagindoAziz Chan during his leadership as mayor of Padang is clearly depicted. The making of the statue uses acement plaster which is a technique commonly technique. Used by sculpture artists in the 1970s. In 2005Bagindo Aziz Chan was awarded as a national hero from west Sumatera by the central government, andalso on July 19 the people of Padang commemorated the day of death of Bagindo Aziz Chan which was atribute to the leader of Padang. And also the name Bagindo Aziz Chan has been enshrined as the name ofa street and a building in the city of Padang.Keywords: Bagindo Aziz Chan Monument, Iconographic, Erwin Panofsky.ABSTRAKPenelitian dimaksudkan untuk menelusuri monumen Bagindo Aziz Chan karya Arby Samahmelalui pendekatan ikonografi yang dikemukakan oleh Erwin Panofsky, serta mengungkapalasan dibangunnya monumen tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yaitupengamatan, wawancara dan dokumen.Tokoh yang digambarkan Arby Samah pada karya “Monumen Bagindo Aziz Chan” ini memangsosok Bagindo Aziz Chan, yang dibuat memakai teknik plaster semen, pembuatan karya tersebutselesai mulai dilakukan pada tahun 1971 dan selesai pada tahun 1973 yang dibuat oleh ArbySamah. Relief yang dibuat pada landasan patung menceritakan urutan peristiwa terbunuhnyaBagindo Aziz Chan. Pemakaian gaya realis yang didapati penulis pada monumen BagindoAziz Chan walaupun penggarapan patung tersebut masih terlihat kasar, namun penyampaiantanda pada patung tersebut merupakan harapan dan cita-cita Bagindo Aziz Chan selamakepemimpinannya sebagai wali kota Padang tergambarkan dengan jelas. Pembuatan patungtersebut menggunakan teknik plaster semen yang merupakan teknik yang umum dipakai olehseniman patung pada tahun 1970-an. Pada tahun 2005 Bagindo Aziz Chan dianugrahi sebagaipahlawan nasional asal Sumatera Barat oleh pemerintah pusat, dan juga pada tanggal 19 Julimasyarakat kota Padang memperingati hari wafatnya Bagindo Aziz Chan yang merupakanpenghormatan kepada pemimpin kota Padang yang tegas dan berani tersebut. Dan juga namaBagindo Aziz Chan sudah diabadikan sebagai nama jalan dan gedung di kota Padang.Kata Kunci: Monumen Bagindo Aziz Chan, Ikonografi Erwin Panofsky
Lukisan Nude dalam Perspektif Budaya di Sumatera Barat Yandri Yandri; Hamzah Hamzah; Suryanti Suryanti; Rica Rian
PANGGUNG Vol 32 No 3 (2022): Komodifikasi dan Komoditas Seni Budaya di Era industri Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i3.2265

Abstract

Penelitian ini membahas tentang karya seniman Sumatera Barat yang mengangkat ide tentang Nude (ketelanjangan) ditijau dari perspektif budaya di Sumatera Barat. Penelitian ini merupakan penelitian komparatif yang bertrujuan membandingkan suatu variabel (objek penelitian), antara subjek yang berbeda atau waktu yang berbeda dan menemukan hubungan sebab akibatnya. Metode yang dipakai dalam penelitian ini merujuk pada metodologi penelitian kualitatif dan kuantitatif, selain itu juga menggunakan pendekatan normatif dan empiris. Kemudian untuk laporan penelitian, data-data yang terhimpun disajikan berdasarkan kutipan data berupa kata/ kalimat maupun data berupa naskah wawancara, catatan lapangan, foto, video, dokumen pribadi, memo ataupun dokumen resmi lainnya. Evelyna Dianita dan Afianto Arifin merupakan pelukis di Sumatera Barat yang berkarya mengangkat konsep Nude atau ketelanjangan, karya yang dihadirkan sangat pornografi dan dibuat sedetail mungkin. Kehadiran karya yang bertema Nude ini tentu mendapatkan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat di Sumatera Barat yang menjunjung tinggi norma-norma agama, adat, dan budaya. Kehadiran karya seniman lukis di Sumatera Barat ini yang mengangkat tema Nude tidak banyak jumlahnya, namun kehadiran karya tersebut merupakan karya pesanan dan bukan untuk dipublikasikan, dan semua itu karena kebutuhan dan faktor ekonomi.Kata Kunci: Lukisan Nude, Komparasi, Budaya, Sumatera Barat