Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Sosialisasi Anti Narkoba dan Bahaya Pernikahan Dini di Desa Semoyang Lombok Tengah Raehanah
Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2: Mei 2022
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus narkoba dan pernikahan usia dini merupakan dua masalah yang sampai sekarang belum bisa ditangani sampai tuntas, khususnya di wilayah NTB. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya kasus penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun. Pada Tahun 2019 sebanyak 7 daerah masuk kategori bahaya, 23 daerah kategori waspada, dan 29 daerah kategori siaga narkoba. Jumlah kasuspun mencapai 557 kasus di tahun yang sama. Tahun 2020, Prevalensi kasus narkoba di Kota Mataram mencapai 1,5 juta setahun, atau jumlah orang yang terpapar narkoba mencapai 6.000 jiwa. Begitupula dengan kasus pernikahan dini, Nusa Tenggara Barat merupakan daerah dengan tingkat kasus pernikahan usia dini tertinggi di Indonesia. Data 2019 kasus pernikahan dini meningkat dari dari 332 kasus menjadi 805 kasus. Jumlah remaja pelaku pernikahan usia dini di sepertiga dari total penduduk NTB yang berjumlah 4,8 juta. Sedangkan rata-rata tingkat pendidikan mereka yang melakukan pernikahan dini ini adalah remaja tamatan SMP-SMA sebanyak 800 kasus. Kegiatan ini dilakukan dengan tiga tahapan yaitu tahap persiapan, perencanaan, dan pelaksanaan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Semoyang tentang bahaya penyalahgunaan narkoba serta bahaya pernikahan dini. Narkoba dan pernikahan dini sama-sama berdampak baik dari segi kesehatan, mental, dan ekonomi masyarakat
Sosialisasi Anti Narkoba dan Bahaya Pernikahan Dini di Desa Semoyang Lombok Tengah Raehanah
Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2: Mei 2022
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kasus narkoba dan pernikahan usia dini merupakan dua masalah yang sampai sekarang belum bisa ditangani sampai tuntas, khususnya di wilayah NTB. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya kasus penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun. Pada Tahun 2019 sebanyak 7 daerah masuk kategori bahaya, 23 daerah kategori waspada, dan 29 daerah kategori siaga narkoba. Jumlah kasuspun mencapai 557 kasus di tahun yang sama. Tahun 2020, Prevalensi kasus narkoba di Kota Mataram mencapai 1,5 juta setahun, atau jumlah orang yang terpapar narkoba mencapai 6.000 jiwa. Begitupula dengan kasus pernikahan dini, Nusa Tenggara Barat merupakan daerah dengan tingkat kasus pernikahan usia dini tertinggi di Indonesia. Data 2019 kasus pernikahan dini meningkat dari dari 332 kasus menjadi 805 kasus. Jumlah remaja pelaku pernikahan usia dini di sepertiga dari total penduduk NTB yang berjumlah 4,8 juta. Sedangkan rata-rata tingkat pendidikan mereka yang melakukan pernikahan dini ini adalah remaja tamatan SMP-SMA sebanyak 800 kasus. Kegiatan ini dilakukan dengan tiga tahapan yaitu tahap persiapan, perencanaan, dan pelaksanaan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Semoyang tentang bahaya penyalahgunaan narkoba serta bahaya pernikahan dini. Narkoba dan pernikahan dini sama-sama berdampak baik dari segi kesehatan, mental, dan ekonomi masyarakat
Sosialisasi Anti Narkoba dan Bahaya Pernikahan Dini di Desa Semoyang Lombok Tengah Raehanah
Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2: Mei 2022
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/joongki.v1i2.414

Abstract

Kasus narkoba dan pernikahan usia dini merupakan dua masalah yang sampai sekarang belum bisa ditangani sampai tuntas, khususnya di wilayah NTB. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya kasus penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun. Pada Tahun 2019 sebanyak 7 daerah masuk kategori bahaya, 23 daerah kategori waspada, dan 29 daerah kategori siaga narkoba. Jumlah kasuspun mencapai 557 kasus di tahun yang sama. Tahun 2020, Prevalensi kasus narkoba di Kota Mataram mencapai 1,5 juta setahun, atau jumlah orang yang terpapar narkoba mencapai 6.000 jiwa. Begitupula dengan kasus pernikahan dini, Nusa Tenggara Barat merupakan daerah dengan tingkat kasus pernikahan usia dini tertinggi di Indonesia. Data 2019 kasus pernikahan dini meningkat dari dari 332 kasus menjadi 805 kasus. Jumlah remaja pelaku pernikahan usia dini di sepertiga dari total penduduk NTB yang berjumlah 4,8 juta. Sedangkan rata-rata tingkat pendidikan mereka yang melakukan pernikahan dini ini adalah remaja tamatan SMP-SMA sebanyak 800 kasus. Kegiatan ini dilakukan dengan tiga tahapan yaitu tahap persiapan, perencanaan, dan pelaksanaan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Semoyang tentang bahaya penyalahgunaan narkoba serta bahaya pernikahan dini. Narkoba dan pernikahan dini sama-sama berdampak baik dari segi kesehatan, mental, dan ekonomi masyarakat
Sosialisasi Anti Narkoba dan Bahaya Pernikahan Dini di Desa Semoyang Lombok Tengah Raehanah
Joong-Ki : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2: Mei 2022
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/joongki.v1i2.414

Abstract

Kasus narkoba dan pernikahan usia dini merupakan dua masalah yang sampai sekarang belum bisa ditangani sampai tuntas, khususnya di wilayah NTB. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya kasus penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun. Pada Tahun 2019 sebanyak 7 daerah masuk kategori bahaya, 23 daerah kategori waspada, dan 29 daerah kategori siaga narkoba. Jumlah kasuspun mencapai 557 kasus di tahun yang sama. Tahun 2020, Prevalensi kasus narkoba di Kota Mataram mencapai 1,5 juta setahun, atau jumlah orang yang terpapar narkoba mencapai 6.000 jiwa. Begitupula dengan kasus pernikahan dini, Nusa Tenggara Barat merupakan daerah dengan tingkat kasus pernikahan usia dini tertinggi di Indonesia. Data 2019 kasus pernikahan dini meningkat dari dari 332 kasus menjadi 805 kasus. Jumlah remaja pelaku pernikahan usia dini di sepertiga dari total penduduk NTB yang berjumlah 4,8 juta. Sedangkan rata-rata tingkat pendidikan mereka yang melakukan pernikahan dini ini adalah remaja tamatan SMP-SMA sebanyak 800 kasus. Kegiatan ini dilakukan dengan tiga tahapan yaitu tahap persiapan, perencanaan, dan pelaksanaan. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat Desa Semoyang tentang bahaya penyalahgunaan narkoba serta bahaya pernikahan dini. Narkoba dan pernikahan dini sama-sama berdampak baik dari segi kesehatan, mental, dan ekonomi masyarakat
Sosialisasi Literasi Digital Sehat: Upaya Mengurangi Risiko Bahaya Gadget bagi Anak SD di Desa Kediri Selatan, Lombok Barat raehanah
Jurnal Pengabdian Pendidikan IPA Kontekstual Vol. 4 No. 1 (2026): Februari 2026
Publisher : Postgraduate Program, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppik.v4i1.1215

Abstract

The development of digital technology has created both opportunities and challenges for elementary school–aged children. Gadgets can serve as interactive learning media, sources of information, and tools for fostering creativity; however, uncontrolled use can lead to various negative impacts, including exposure to harmful content, reduced social interaction, and physical as well as mental health problems. This community service program aims to instill awareness of healthy digital literacy among elementary school students in South Kediri, West Lombok, as a preventive effort against the potential dangers of gadget use. The method employed is Participatory Action Research (PAR), involving teachers and students in stages of problem identification, planning, action implementation, observation, and evaluation. The outreach was conducted in four elementary schools (SDN 1, SDN 2, SDN 3, and SDN 4 Kediri Selatan) targeting fifth- and sixth-grade students through interactive lectures and educational games. The results show that students were highly enthusiastic and actively participated throughout the activities. Evaluation through pre-test and post-test revealed a significant improvement in students’ understanding—for instance, in managing gadget usage time (from 16% to 70%), recognizing harmful digital content (from 30% to 76%), and understanding media ethics (from 25% to 76%). These findings confirm that promoting healthy digital literacy effectively enhances students’ critical awareness and positive attitudes toward gadget use. Consequently, this program contributes to preventing the negative effects of gadgets while supporting the strengthening of character education in the digital era