Nidhia Firdha Kurniasih
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Masalah Sosial Anak Usia Dasar Nidhia Firdha Kurniasih; Fathurrahman Kurniawan Ikhsan
At-Ta'lim : Media Informasi Pendidikan Islam Vol 18, No 1 (2019): JUNI
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/attalim.v18i1.1616

Abstract

Abstract: Social Problems Of Basic Age Children. Social problems are a discrepancy between elements of culture or society, which endanger the lives of social groups. Or, inhibiting the fulfillment of the basic desires of the citizens of the social group so as to cause a breakdown of social ties. Under normal circumstances there is integration and appropriate conditions in the relations between elements of culture or society. If there are clashes between these elements, social relations will be disrupted so that there may be unrest in the life of the group. In interacting in community life, each individual is required to have an awareness of his obligations as a member of a community group. If there is no awareness of each person, then the social process itself cannot go as expected. Social development is a link between children and others, starting from parents, siblings, playmates, to the wider community. Social development is the process of learning to recognize normal and rules in a community. Social, emotional disorders, can be conceptualized as a focus within the child. A hope and aspirations from parents, teachers, and society in general to have children who are physically and mentally healthy. How calm and serene when you see children playing happily, smart, diligent in learning and working, free and agile in expressing their thoughts and creativity.Abstract: Masalah Sosial Anak Usia Dasar. Masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Atau, menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut sehingga menyebabkan kepincangan ikatan sosial. Dalam keadaan normal terdapat integrasi serta keadaan yang sesuai pada hubungan-hubungan antar unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat. Apabila antar unsur-unsur tersebut terjadi bentrokan, maka hubungan-hubungan sosial akan terganggu sehingga mungkin terjadi kegoyahan dalam kehidupan kelompok. Dalam berinteraksi di kehidupan bermasyarakat, setiap individu diwajibkan untuk memiliki kesadaran akan kewajibannya sebagai anggota kelompok masyarakat. Jika tidak adanya kesadaran atas pribadi masing-masing, maka proses sosial itu sendiri tidak dapat berjalan sesuai dengan yang di harapkan. Perkembangan sosial merupakan jalinan interaksi anak dengan orang lain, mulai dari orang tua, saudara, teman bermain, hingga masyarakat secara luas. Perkembangan sosial adalah proses belajar mengenal normal dan peraturan dalam sebuah komunitas. Gangguan sosial, emosional, dapat dikonseptualisasikan sebagai suatu yang fokus di dalam diri anak. Suatu harapan dan cita-cita dari para orang tua, guru, maupun masyarakat pada umumnya untuk memiliki anak-anak yang sehat jasmani dan rohani. Betapa tenang dan tentramnya hati bila melihat anak-anak bermain dengan riang gembira, pandai,tekun dalam belajar dan bekerja, bebas dan lincah dalam mengutarakan buah pikiran dan kreativitasnya.
UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN JIGSAW PADA MATA PELAJARAN SKI DI MIN 1 KOTA BENGKULU Nidhia Firdha Kurniasih
Tarbiyah al-Awlad Vol 10, No 2 (2020): Vol 10, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/alawlad.v10i2.2575

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh motivasi belajar siswa melalui Model Jigsaw pada mata pelajaran SKI siswa di MIN 1 Kota Bengkulu. Penelitian ini berbentuk Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research), dengan data penelitian bersumber dari tiga kegiatan yaitu : 1) Data hasil observasi proses pembelajaran yang dilakukan kolaborator, 2) Data hasil perolehan belajar yang terdiri dari tes awal, tes siklus I dan II, 3) Hasil penyebaran angket pada siswa. Pada akhir Siklus I hasilnya dianalisis. Analisis ini dilakukan baik berupa keberhasilan dan kegagalan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan Siklus II. Artinya masalah dalam PBM yang muncul pada Siklus I, maka dilakukan pemecahan dan solusinya pada Siklus II. Kesimpulan diambil setelah membandingkan keberhasilan siswa secara individual dan klasikal pada Siklus I dengan Siklus II. Hasil penelitian menujukkan bahwa pada siklus I telah muncul hal-hal negatif terhadap siswa- siswa yang belum mampu dan memahai Tipe Jigsaw (TimAhli) dalam melaksanakan pembelajaran dalam proses pembalajaran. Pada siklus II ini menunjukkan adanya beberapa perubahan yang sangat berarti, dari pada siklus I, yaitu semakin banyak siswa yang menyadari dan dapat belajar, menjelaskan latar belakang berdirinya Khulafaur Rasyidin serta tokoh-tokoh, dengan model Jigsaw dan timbulnya rasa keberanian untuk dapat tampil dalam tim ahli dan tim asal agar menjelaskan latar belakang berdirinya Khulafaura Rasyidin serta tokoh-tokoh dan merasakan Model pembelajara Jigsaw juga merupakan model pembelajaran yang menarik dan menyenangkan dalam belajar Sejarah Kebudayaan Islam.