Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Makna Simbolik Haji dalam Perspektif Masyarakat Bugis Nasruddin Nasruddin
Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton Vol 7 No 4 (2021): Sang Pencerah: Jurnal Ilmiah Universitas Muhammadiyah Buton
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Buton

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.426 KB) | DOI: 10.35326/pencerah.v7i4.1551

Abstract

Simbol haji menunjukkan corak dengan berbagai interpretasi makna yang akan melekat pada masyarakat Bugis. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan makna simbolik haji dalam perspektif masyarakat Bugis. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Soppeng Riaja Kabupaten Barru. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan interaksi simbolik. Hasil penelitian ini mengungkapkan empat makna dalam simbolik haji. Pertama adalah konsep takdir di mana takdir menjadi penentu bagi masyarakat Bugis untuk pergi Haji. Kedua, kesuksesan hidup yang dimaknai bahwa rezeki seseorang dimudahkan jika ia sudah berhaji. Ketiga adalah istita’ah yang merupakan kemapanan rohani dan jasmani. Keempat adalah makna ritual mappatoppo yang berkaitan dengan rasa syukur.
Haji Dalam Budaya Masyarakat Bugis Barru: Suatu Pergeseran Makna Nasruddin Nasruddin
Kamaya: Jurnal Ilmu Agama Vol 3 No 2 (2020)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.627 KB) | DOI: 10.37329/kamaya.v3i2.438

Abstract

This research aims to reveal the change of the symbolic meaning of pilgrimage. Type of this research uses a qualitative approach. The research subjects were people who have carry out the pilgrimage. Data were collected through observation, interview and documentation technique. The data were analyzed through qualitative descriptive using phenomenology approach. The result of this research revealed that the forms of the change of pilgrimage symbolic meaning are shown through the ceremony of mappatoppo and construction clothes of the pilgrim. Factors encouraging those changes were social status and prestige asa well as expected appreciation.
Hajj and Social Status: Self-Manifestation in Buginese Women Nasruddin Nasruddin
Transformatif Vol 6, No 2 (2022): ISSUED IN OCTOBER 2022
Publisher : POSTGRADUATE OF PALANGKA RAYA STATE ISLAMIC INSTITUTION

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/tf.v6i2.4416

Abstract

Hajj is one of the benchmarks of status in the socio-religious life of the Buginese people, the hajj symbol becomes a term that is used as a representation in the use of other symbols, through the behavior and manner of dressing used to refer to all symbols of hajj, especially in the behavior and dress of hajj in Buginese society. The purpose of this study was to reveal the impact of the hajj status obtained by Barru Buginese women as part of self-manifestation. This research was conducted in Soppeng Riaja District, Barru Regency. The research informants were women of Buginese Barru who had hajj status, public figures, and religious figures. The results of this study found that hajj status encouraged Barru Buginese women to feel valued and caused self-social prestige in the community.
MATTAMPUNG: STUDI TENTANG PRO DAN KONTRA MASYARAKAT TERHADAP RITUAL KEMATIAN DI KECAMATAN SOPPENG RIAJA KABUPATEN BARRU nasruddin nasruddin
KABILAH : Journal of Social Community Vol. 7 No. 2 (2022): Desember
Publisher : LP2M IAI Nazhatut Thullab Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35127/kbl.v7i2.6123

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkapkan pandangan Ritual Kematian yang disebut Mattampung bagi masyarakat bugis Barru. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasi peneltian ini mengungkapkan bahwa masyarakat di Kecamatan Soppeng Riaja memiliki cara pandang yang beragam dalam melihat ritual Mattampung ini, ada yang pro dan ada pula yang kontra. Masing-masing mereka memiliki acuan dan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dari sisi keilmuannya. Bagi masyarakat yang pro atau yang mendukung ritual ini mengatakan bahwa ritual Mattampung boleh-boleh saja dilakukan karena sudah menjadi kesepakatan didalamnya mengandung nilai-nilai kebaikan yang berkaitan erat dengan perintah agama dalam hal ini adalah agama Islam. Bagi masyarakat yang menganggap kontra, Karena ritual Mattampung dianggap oleh sebagian masyarakat menyimpang dari ajaran Islam dan tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. Sesuatu hal yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah maka hukumnya haram, bid’ah, khurafat dan sesat.