Syamsurijal Syamsurijal
Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

ISLAM PATUNTUNG: TEMU-TENGKAR ISLAM DAN TRADISI LOKAL DI TANAH TOA KAJANG Syamsurijal Syamsurijal
Al-Qalam Vol 20, No 2 (2014)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.743 KB) | DOI: 10.31969/alq.v20i2.197

Abstract

Lokalitas selama ini digambarkan sebagai daerah terpinggirkan dan tidak punya daya. Namun apa yangdilakukan komunitas lokal Tanah Toa Kajang, justru sebaliknya. Di tengah gempuran modernitas,Negara dan agama resmi, mereka tetap survive berjalan dengan tradisi lokal mereka. Di saat yang samalokalitas yang mereka miliki justru dijadikan arena untuk bertarung, bernegosiasi, beradaptasi, bahkansekali waktu meresistensi kebudayaan baru tersebut. Tulisan ini menggambarkan proses itu, denganmengambil fokus pada pertemuan antara Islam dan tradisi lokal mereka. Pada perjumpaan Islam dantradisi lokal Patuntung itulah potret titik temu dan titik tengkar tersebut terpampang jelas. Tulisan inimerupakan ringkasan dari penelitian yang dilakukan secara kualitatif dari kurung waktu 2005 sampaisekarang. Karena ringkasan dari sekian episode penelitian, mungkin tidak bisa menggambarkan secarautuh proses-proses pergulatan tersebut.
Parupama; Nasehat yang Menghibur Syamsurijal Syamsurijal
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.675 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.525

Abstract

Movement of literacy in the community, making oral tradition has lost own place. Folklore and fairy tales told through oral began to be replaced by comics, movies on television and writing through gadgets. In local communities, the oral tradition is still an important means of informing  messages. One of the living oral traditions and the media to express criticism is Parupama in South Sulawesi. This paper explains  how this parupama tradition is used by community to convey advice, messages and criticism through jokes. Advice and criticism is channeled through in an entertaining way. The data in this paper were obtained through qualitative research in two places, namely Tanah Toa Kajang and Tamaona village located in Bulukumba district, South Sulawesi.Key word: Message, Oral tradition, Criticism, Parupama Gerakan literasi di tengah masyarakat telah membuat tradisi lisan kehilangan tempat. Cerita rakyat dan dongeng yang disampaikan melalui lisan mulai digantikan dengan komik, film di televisi dan tulisan melalui gadget. Padahal di masyarakat lokal sendiri, tradisi lisan masih menjadi sarana penyampaian pesan yang penting. Salah satu tradisi lisan yang masih hidup dan menjadi media menyampaikan nasehat adalah Parupama yang hidup dalam masyarakat Sulawesi Selatan. Tulisan ini menggambar­kan bagaimana tradisi Parupama ini digunakan oleh masyarakat untuk menyampaikan nasehat, pesan dan kritikan melalui lelucon. Nasehat dan kritikan disalurkan dengan cara menghibur. Data dalam tulisan ini dida­pat­kan melalui penelitian kualitatif di dua tempat, yaitu desa Tanah Toa Kajang dan desa Tamaona, berada di kabupaten Bulukumba, Sulawesi-selatan.   Kata Kunci: Pesan, tradisi lisan, kritik, parupama 
PERBEDAAN YANG BERTEGUR SAPA: KISAH PERSAUDARAAN BEDA AGAMA DARI KAMPUNG LEMPAKE Syamsurijal Syamsurijal
Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Vol 7, No 2 (2021): Jurnal SMaRT : Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12201.607 KB) | DOI: 10.18784/smart.v7i2.1259

Abstract

Dalam beberapa  penelitian tentang kerukunan beragama di  kota Samarinda, selalu tergambar kota ini memiliki beberapa persoalan. Secara umum masyarakat memang terlihat hidup tenang dan damai, tetapi relasi antara penganut agama di grass root tidak akrab.  Hanya melebur saat ada acara-acara resmi yang dilakukan oleh pemerintah, tetapi dalam kehidupan sehari-hari cenderung berjarak satu sama lain.   Tulisan ini ingin menunjukkan, bahwa di tengah-tengah masyarakat yang hubungannya terlihat canggung, masih ada komunitas tertentu yang mempraktikkan kerukunan beragam secara tulus. Praktik semacam itu perlu dituliskan karena bisa menjadi energi positif bagi komunitas lainnya untuk membangun kerukunan beragama yang serupa.  Dengan metode penelitian kualitatif, peneliti menelusuri kehidupan dan relasi masyarakat beda agama di salah satu kelurahan di kota Samarinda.  Hasilnya, ditemukan fakta yang menarik,  ternyata masih ada komunitas tertentu di Samarinda yang mempraktikkan toleransi agama secara tulus. Masyarakat di kampung itu  tidak hanya rela bertetangga dengan orang yang berbeda agama, tetapi juga menyambutnya dengan mesra untuk menjadi bagian dari keluarga besar di kampung itu. Suatu kehidupan yang bisa menghormati perbedaan karena merasa perbedaan justru menjadi modal sosial mereka untuk membangun kampung halaman. Kehidupan yang tidak hanya harmonis, tapi saling menyapa dan tolong menolong antara pemeluk agama yang berbeda. Itulah praktik kerukunan beragama di kelurahan Lempake-Samarinda Utara, Kota Samarinda. Praktik kerukunan beragama ini boleh dikatakan sebentuk model Best Practice Toleransi yang masih berlangsung di tengah denyut kehidupan masyarakat Samarinda yang semakin berjarak satu sama lain.  
DIALEKTIKA REGULASI DAN TRADISI DALAM PELAYANAN PERKAWINAN DI KUA Dialectic of Regulation and Tradition in Marriage Services at The Office of Religious Affairs (KUA) Syamsurijal Syamsurijal
Jurnal SMART (Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi) Vol 3, No 2 (2017): Jurnal SMaRT Studi Masyarakat, Religi, dan Tradisi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1989.331 KB) | DOI: 10.18784/smart.v3i2.533

Abstract

The government has tried to improve marriage services, among others through Government Regulation (Peraturan Pemerintah) No. 48/2014 and Regulation of the Minister of Religious Affairs (Peraturan Menteri Agama) No.24/2014 which both related to the cost of marriage and reconciliation (rujuk). Those rules aim to omit illegal levies and gratification culture in the marriage process at the Office of Religious Affairs (KUA). But these new rules are precisely problematic when they are practiced in a community that has distinctive traditions in performing marriage events. This study is aimed to find out how the KUA runs these rules relating to the challenges of culture and community traditions. It uses qualitative approach on KUA in District Majene of West Sulawesi Province. The important findings of this study show that 1) the rules related to the costs of marriage are not yet fully socialized to the community; 2) response of KUA resources is good enough but not supported by adequate marriage facilities; 3) the community tradition in the marriage must be renegotiated by KUA officers to not violate the rules while still respecting the existing traditions.