Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Corak Moderasi Beragama Keluarga Mualaf Tionghoa (Studi Kasus Jamaah Masjid Lautze Jakarta Pusat) Uup Gufron
Jurnal Bimas Islam Vol. 12 No. 2 (2019): Jurnal Bimas Islam 2019
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v12i2.115

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui corak pemahaman moderasi beragama keluarga mualaf Tionghoa yang berada dalam binaan Masjid Lautze Pasar Baru Jakarta Pusat. Mayoritas mualaf binaan Masjid Lautze adalah dari kalangan etnis Tionghoa. Hal ini menjawab pertanyaan bagaimanakah corak yang menjadi kekhasan dalam moderasi beragama yang dijalani para mualaf etnis Tionghoa. Penelitian ini termasuk kualitatif deskriptif dengan melakukan wawancara langsung dengan responden yang relevan dan olah data. Berdasarkan data temuan, latar belakang para mualaf Tionghoa menjadi muslim dilatarbelakangi oleh tiga faktor, yakni (1) faktor spiritualitas; (2) faktor rasionalitas; dari (3) faktor identitas. Faktor spiritualitas lebih dominan dibanding faktor lain, sehingga pemahaman moderasinya lebih mengedepankan perasaan kasih sayang, kelembutan hati, cinta-kasih, dan saling menghormati. Corak moderasi yang dimiliki para mualaf binaan Masjid Lautze dipengaruhi oleh sosok tokoh muslim etnis Tionghoa bernama Haji Karim Oei, yang merupakan tokoh Muhammadiyah yang memiliki pemahaman yang modernis (tajdȋdi), pembauran (istȋ’ab), dan moderat (tawāsuth), bersikap toleran (tasamuh); dan tidak ekstrim (tatharruf). Kata Kunci: moderasi; mualaf; Tionghoa; keluarga; Lautze Abstract This article aims to find out the religious moderation characteristics in Chinese Muslim Families who are under the auspices of the Masjid Lautze Pasar Baru, Central Jakarta. The majority of Mualaf guided by the Lautze Mosque are from the ethnic Chinese. This article answers the question of how the characteristic which become the uniqueness in religious moderation experienced by Chinese Mualaf. This study included descriptive qualitative by conducting direct interviews with relevant respondents and data processing. Based on data, the background of Chinese Mualaf to become Muslim is motivated by three factors, namely (1) the spirituality factor; (2) the rationality factor; from (3) identity factor. The spirituality factor is more dominant than other factors, so that the moderation understanding puts forward affection feeling, gentleness, love and mutual respect. The characteristic moderation of the Mualaf guided by the Lautze Mosque is influenced by the ethnic Chinese Muslim figure named Haji Karim Oei, who is a Muhammadiyah figure and a modernist (tajdȋdi), assimilation (istȋ’ab) and moderate (tawāsuth), tolerant (tasamuh); and not extremist (tatharruf). Keywords: moderation; mualaf; China; family; Lautze
Manusia, Alam dan Tuhan dalam Ekosufisme Al-Ghazali Uup Gufron; Radea Yuli A. Hambali
Jaqfi: Jurnal Aqidah dan Filsafat Islam Vol 7, No 1 (2022): JAQFI VOL.7 NO. 1, 2022
Publisher : Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Negri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3007.616 KB) | DOI: 10.15575/jaqfi.v7i1.16275

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk menggali pemikiran Al-Ghazali tentang relasi manusia, alam dan Tuhan. Dari sini dibangun suatu problem utama bahwa kerusakan alam disebabkan karena ketidakharmonisan antara manusia, alam dan Tuhan, sehingga menghadirkan berbagai bencana seperti kebakaran, banjir, longsor, gempa bumi, tsunami, kekeringan, erosi, dan lain sebagainya. Pandangan manusia modern yang menjadikan alam sebagai objek menjadi problem yang hendak digali dalam artikel ini. Dari problem ini diharapkan dapat ditemukan formulasi primer tentang gagasan Al-Ghazali tentang ekosufisme sebagai solusi alternatif atas krisis lingkungan. Data riset bersumber dari karya-karya Al-Ghazali yang berisi tentang etika manusia kepada Tuhan dan etika manusia kepada alam, serta relasi timbal balik antara keduanya. Artikel ini termasuk penelitian kualitatif dengan pendekatan metode analisis konten dari beberapa karya Al-Ghazali yang berbicara tentang alam dan lingkungan hidup. Dari berbagai karya Al-Ghazali yang telah digali diketahui bahwa sumber ketidakharmonisan hubungan antara alam, manusia dan Tuhan disebabkan karena faktor konsumtif manusia atas kebutuhan hidupnya sehingga memacu manusia untuk berbuat serakah sehingga menjadikan alam sebagai objek pemenuhan kebutuhan hidupnya. Padahal alam adalah manifestasi cinta Tuhan di bumi, sehingga untuk mencintai Tuhan harus melalui cintanya kepada alam. Untuk itu diperlukan etika uzlah, mahabbah, wara’, zuhud, dan syukur agar terbentuk relasi etis antara manusia, alam dan Tuhan.
Penanaman Nilai-Nilai Kebhinnekaan Melalui Mata Pelajaran PKn SMA Islam Harapan Ibu Jakarta Selatan Kartono Kartono; Uup Gufron; Nujuluddin Siregar
JAGADDHITA: Jurnal Kebhinnekaan dan Wawasan Kebangsaan Vol 2, No 2 (2023): JAGADDHITA: Jurnal Kebhinnekaan dan Wawasan Nusantara
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/jagaddhita.v2i2.1865

Abstract

Pemeliharaan kebhinekaan masyarakat Indonesia merupakan tanggung jawab seluruh elemen masyarakat termasuk lembaga pendidikan (sekolah). Sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kebhinekaan atau pendidikan multikulturalisme kepada siswa agar muncul kesadaran betapa pentingnya nilai-nilai kebhinekaan bagi masyarakat yang kaya keberagaman. Oleh sebab itu penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana penanaman nilai-nilai Kebhinnekaan di SMA Harapan Ibu Jakarta Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi yaitu mengamati kegiatan sekolah yang berkaitan dengan penanaman nilai kebhinnekaan. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa Penanaman nilai-nilai Kebhinnekaan melalui mata pelajaran PKn di SMA Islam Harapan Ibu adalah diberikan lewat pembiasaan-pembiasaan yang baik di lingkungan sekolah, diberikan kegiatan kegiatan yang dapat menumbuhkan nilai-nilai toleransi keberagaman seperti pemahaman hari-hari Raya agama, pagelaran budaya tradisional dan pengenalan makanan tradisional.