Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

A Fact Checking Perception and Behavior Study of Ministry of Religious Affair Islamic Trainers Giri Lumakto; Ahmad Syamsuddin
Jurnal Bimas Islam Vol. 13 No. 2 (2020): Jurnal Bimas Islam 2020
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v13i2.262

Abstract

Abstrak Persepsi dan perilaku cek fakta pada Penyuluh Agama Islam belum pernah diketahui. Walau beberapa penelitian telah membahas persepsi dan perilaku cek fakta pada profesi dan target audiens tertentu. Sedangkan Penyuluh Agama Islam (PAI) adalah garda terdepan klarifikasi informasi di banyak daerah Indonesia yang mayoritas Muslim. PAI memiliki fungsi informatif juga untuk menyampaikan informasi yang benar. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perilaku dan persepsi PAI dalam mengecek fakta. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Survei Google form telah diisi oleh 425 responden sebagai sampling penelitian. Hasil yang didapatkan adalah Penyuluh Agama Islam didominasi Generation X (40%) dan Baby Boomer (32,4%). Dengan platform sosial media yang populer adalah WhatsApp (96,4%), Facebook (56%), dan Instagram (27%) Mereka memandang penting persepsi dan perilaku cek fakta di platform sosial media (>80%). Namun dalam hal mencari sebuah fakta dari karya akademik dan fanpage mereka terpecah persepsi dan perilakunya (>40%). Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya menjadikan cek fakta sebagai bagian dari perilaku PAI. Sehingga terjadi perubahan persepsi pada informasi di lanskap digital, terutama menyoal hoaks. Kata kunci: disinformasi, cek fakta, penyuluh agama Islam, persepsi Abstract The perception and behavior fact checking from Religious Counselor of Islam is still unknown. Although few studies have discussed the perception and behavior from particular professions and audiences. Religious Counselor of Islam (PAI) are the vanguard of information clarification in various regions with Islam as the majority. They should disseminate correct information. The aims of this research is to seek the behavior and perception of Islamic Religious Counselor of Islam. This research employed a quantitative approach using a survey technique. The Google Form survey had gathered 425 respondents as the sampling of this research. The results suggest that the Religious Counselor of Islam were dominated by Generation X (40%) and Baby Boomers (32,4%). They favored WhatsApp (96,4%), Facebook (56%), and Instagram (27%) as their favorites social media. They perceived and conducted fact checking as necessary (>80%). However, in seeking factual information from academic writings and fact-checking fanpage, they have different perception and behavior (>40%). The implications of this research is the need to make fact checking as part of the Religious Counselor of Islam behavior. Further, this could shift their perception toward information in digital landscape, particularly disinformation. Keywords: disinformation, fact checking, religious counselor, perception
MENGUKUR DAN MEMAHAMI SOCIAL NETWORK ANALYSIS BNPT DALAM MENGKONTER NARASI TERORISME ONLINE Devie Rahmawati; Giri Lumakto; Mila Viendyasari
Jurnal Riset Komunikasi Vol 14, No 1 (2023)
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31506/jrk.v14i1.19471

Abstract

Ideologi dan aksi terorisme sudah lama menjadi kekhawatiran banyak negara. Indonesia dengan lahirnya BNPT di tahun 2010 menjadi langkah nyata mencegah ideologi dan aksi teror yang terjadi, baik di dunia maya dan nyata. Para teroris menggunakan media sosial untuk berbagai tujuan, termasuk perekrutan media, pelatihan, perencanaan serangan, pendanaan, dan koordinasi kelompok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengukur SNA dari diskusi dan distribusi narasi BNPT dan terorisme secara online. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data kuantitatif didapatkan dari Social Network Analysis (SNA) dari kazee.id dengan beberapa parameter. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa belum optimalnya distribusi narasi BNPT dalam mengkonter terorisme di dunia digital. Jumlah narasi, sentimen, jejaring node, dan tokoh terkait BNPT belum mampu menyaingi narasi terorisme. Rekomendasinya adalah BNPT memiliki kepentingan untuk menyebarkan narasi yang positif dan menghindari narasi yang menyebarkan informasi yang salah atau menyebarkan ketakutan via konten berita positif, posting media sosial organis, dan konsistensi untuk memperbanyak konten kontra-terorisme