Mahfudzi Mahfudzi
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Membangun Komunikasi Harmonis Berbasis Al-Qur’an Mahfudzi Mahfudzi
Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah | Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/alm.v4i1.36

Abstract

Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk sosial yang selalu menggunakan komunikasi untuk melakukan interaksi. Setiap hari kita melakukan komunikasi dengan teman, keluarga, sahabat, guru, dan masyarakat lainnya. Sebelum membahas faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi sebaiknya kita mengetahui apa arti komunikasi. Komunikasi adalah penolong seseorang dalam upaya memenuhi kebutuhan interpersonal jika merasa sedih atau gelisah, maka membutuhkan sebuah percakapan dengan orang lain untuk memberikan sebuah kenyamanan, persahabatan dan bahkan kehangatan.Dalam perspektif Islam, potensi berkomunikasi pada manusia merupakan pemberian Allah yang sudah otomatis ada sejak dia diciptakan. Allah berfirman : “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Alquran, Dia menciptakan manusia, mengajarkan pandai berbicara”. (QS. Al-Rahmān : 1-4). Setelah unsur jasad dan ruh berpadu dalam dirinya di hari ke-120, Dalam sebuah hadis disebutkan : “Sesungguhnya kalian diciptakan di perut ibunya empat puluh hari fase ‘nutfah’, kemudian fase ‘alaqah’ juga 40 hari, kemudian fase ‘mudghah’ 40 hari, dan setelah itulah ruh diciptakan…” (HR.Bukhari, no.2969, dan Muslim no.4781). Manusia harus berkomunikasi secara sehat dan berkualitas dngan tujuan untuk menghindari rusaknya suasana karmonisasi  antar manusia bahkan terhadap Allah SWT
Membentuk Karakter Melalui Moderasi Beragama Dengan Pendekatan Huruf Hijaiyah Mahfudzi Mahfudzi
Kordinat: Jurnal Komunikasi antar Perguruan Tinggi Agama Islam Vol 20, No 1 (2021): Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam
Publisher : Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kordinat.v20i1.20647

Abstract

Studying the Science of Religion has different characteristics and levels of difficulty from studying general science, because studying the Science of Religion does not only emphasize mastery of material/cognitive/IQ alone, but it must also be able to instill attitudes of Spiritual/SQ intelligence and Emotional intelligence (EQ) simultaneously. Therefore, religious knowledge claimants must be able and willing to plan and formulate effective and efficient learning strategies and models so as to be able to shape spiritual attitudes and social attitudes.The reality is that learning Religion is carried out repeatedly starting from elementary school and equivalent, junior high school and equivalent, high school and up to tertiary level, but the knowledge is sometimes not in line with his actions, in other terms it is often referred to as intellectual arrogance. which is a self-righteous attitude. Therefore it is necessary to inculcate a creative and innovative attitude from someone to study the science of religion to its roots in order to improve the learning outcomes of religious knowledge which can provide an explanation of the meaningfulness of religious knowledge in daily life or religious moderation
Penerapan Dam Ibadah Haji Dalam Perspekltif Islam Mahfudzi Mahfudzi
Alim | Journal of Islamic Education Vol 3 No 1 (2021): Alim | Journal of Islamic Education
Publisher : Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51275/alim.v3i1.192

Abstract

Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan pedoman hidup yang mampu menjawab tantangan kehidupan manusia, sehingga menjadikan manfaat dan maslahat yang merupakan tujuan dari amaliyah seorang muslim. Islam adalah agama rahmatan lil‘alamin, artinya tiada satupun permasalahan di dalam kehidupan manusia itu berakhir dengan kebuntuan dan pasti ada jalan keluarnya yang tidak menyalahi sunnatullah dan sunnah rosulullah. Tanpa disadari roda dunia dalam peradaban Islam sudah seperti yang kita saksikan sekarang ini, sejak dicetuskan oleh pembawanya yaitu Nabi Muhammad SAW, Islam tidak pernah tergelincir rodanya sampai hari ini dan tetap berjalan dalam koridornya secara vertikal. Di era globalisasi yang serba bersentral kepada sains dan tekhnologi, maka kita harus benar-benar cerdas mengamalkan Islam secara utuh (menyeluruh), tentunya yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Evaluasi Dan Solusi Konflik Menuju Integritas Mahfudzi Mahfudzi
Jurnal Alasma : Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Alasma : Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah
Publisher : STIT Muslim Asia Afrika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1054.563 KB)

Abstract

Integritas dalam al-Quran mengusung paradigma Peace Education Teosentris. Hal ini berdasarkan temuan penulis dalam penelitian ini bahwa integritas adalah integrasi antara pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), fisik dan kreatifitas (psikomotor), berdasarkan keimanan (spiritual). Penekanan keima-nan di sini, bertujuan untuk mengintegrasikan antara ketulusan, kemurnian, kejujuran fikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan. Substansi Integritas yaitu: Kecerdasan Intelektual (IQ) adalah kecerdasan yang berhubungan dengan proses kognitif yang berfungsi untuk membuka wawasan. Seseorang yang memiliki karakter Integritas, yaitu: 1.‘Ulama Al-‘Amiliin/cendikiawan/ orang yang ahli ilmu pengetahuan yang searah dengan perkataan dan perbuatan; (Q.S. Fathir[35]:28),2. Mu’min/orang yang perbuatannya memberi aman dan maslahat (Q.S. Al-Anbiya’[21]: 107), 3Muslim/orang yang melakukan ajaran-ajaran Islam kaffah (Q.S. Al-Baqarah[2]:208), 4.Ihsan/orang yang beramal, karena merasa diawasi oleh Allah dalam setiap aktivitasnya (Q.S.Yunus[10]: 61), 5. Ikhlas/memurnikan Allah dari kesetaraan dengan makhluk(Q.S. Al-Ikhlas [112]: 1-4), 6. Taqwa/ Takut kepada Allah dan pengakuan superioritas Allah (Q.S. Al-Baqarah[2]:41), 7. Mukhbithiin/ orang yang tunduk dan patuh kepada Allah SWT( Q.S. Al-Hajj[22]: 34-35), 8. Ulul Al-Bab/orang yang menyeimbangkan antara fikir dan dzikir (Q.S. Ali Imran [3]: 190-191). Proses pembentukan integritas adalah melalui Pendidikan Iman untuk mengasah kecerdasan spiritual agar menumbuhkan kesadaran diri diantaranya dengan cara tafakkur, tadzakkur, tadabbur, dan tasyakkur. Pendidikan Islam untuk mengasah kecedasan intelektual agar tumbuh kecerdasan diri, diantaranya dengan cara taat kepada Allah SWT, taat kepada Rosul, dan taat kepada orangtua 3. Pendidikan akhlak untuk mengasah kecerdasan emosional agar tumbuh semangat mengendalikan diri, diantaranya dengan cara Ta'wi>d/ Pembiasaan, Khibrah/Pengalaman, Qudwah/ UswahHasanah/keteladanan, Mau'idzah / Nasihat, Tsawab wa 'Iqa>b (reward and punishment/ pahala dan hukuman). Pendidikan Integritas melalui pergaulan huruf hijaiyah dengan pendekatan qiyas. Implementasi konsep Integritas Intelektual menurut Al-Qur’an, diperlukan cara-cara sebagai berikut yaitu: 1. Mengintegrasikan sistem kerja head(daya fikir), hand(daya fisik) dan heart(daya rasa) sehingga berpotensi untuk meminimalisir bahkan mencegah terjadinya tindakan-tndakan arogan, 2. Mengkombinasikan pengetahuan, sikap dan kreatifitas, sehingga berpotensi melahirkan kemampuan berperilaku ikhlas, taqwa, tawadhu. 3. Memahami ilmu, memahami keutamaan mengamalkan ilmu, memahami akibat dari tidak mengamalkan ilmu, selanjutnya berdo’a kepada Allah SWT. Sehingga berpotensi melahirkan motivasi berperilaku mulia.
Metode Mencegah Tindakan Arogan Bersama Huruf Hijaiyah Mahfudzi Mahfudzi
Jurnal Alasma : Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah Vol. 1 No. 2 (2019): Jurnal Alasma : Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah
Publisher : STIT Muslim Asia Afrika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1059.503 KB)

Abstract

Allah menciptakan manusia dilengkapi dengan penciptaan buku panduannya yaitu Al-Qur’an. kehidupan manusia akan menjadi lancar jika perbuatan manusia dapat di sesuaikan dengan buku panduan tersebut. Sebaliknya Jika perbuatannya tidak sesuai dengan buku panduan tersebut maka dapat dipastikan kehidupan manusia tidak akan lancar atau akan terganggu seperti kehidupan motor akan terganggu jika tidak mengikuti buku panduannya Oleh karena itu jika kehidupan kita ingin lancar, maka ikutilah buku panduannya yaitu Al-Qur’an. semangatlah untuk membacanya dengan terus memotivasi diri untuk memahami dan mengamalkannya. Bahkan Allah SWT telah memberikan motivasi kepada manusia agar mau membacanya, memahaminya dan menghafalnya serta mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari. sebagaimana firman Allah SWT yaitu surat al-Fathir ayat 29 yang artinya” Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang telah Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,( Fathir /35: 29). Nabi Muhammad SAW, memberikan motivasi kepada umatnya agar mau membiasakan membaca Al-Qur’an. Adapun motivasi dari rosulullah melalui sabdanya “Abdullah bin Mas’ud r.a berkata: “Rasulullah SAW bersabda:“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam.satu.huruf.dan.Miim,satuhuruf.”(HR.Tirmidz).
Membangun Komunikasi Harmonis Berbasis Al-Qur’an Mahfudzi Mahfudzi
Almarhalah Vol 4, No 1 (2020): Almarhalah
Publisher : STIT Al-Marhalah Al-Ulya Bekasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38153/almarhalah.v4i1.36

Abstract

Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk sosial yang selalu menggunakan komunikasi untuk melakukan interaksi. Setiap hari kita melakukan komunikasi dengan teman, keluarga, sahabat, guru, dan masyarakat lainnya. Sebelum membahas faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi sebaiknya kita mengetahui apa arti komunikasi. Komunikasi adalah penolong seseorang dalam upaya memenuhi kebutuhan interpersonal jika merasa sedih atau gelisah, maka membutuhkan sebuah percakapan dengan orang lain untuk memberikan sebuah kenyamanan, persahabatan dan bahkan kehangatan.Dalam perspektif Islam, potensi berkomunikasi pada manusia merupakan pemberian Allah yang sudah otomatis ada sejak dia diciptakan. Allah berfirman : “Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Alquran, Dia menciptakan manusia, mengajarkan pandai berbicara”. (QS. Al-Rahmān : 1-4). Setelah unsur jasad dan ruh berpadu dalam dirinya di hari ke-120, Dalam sebuah hadis disebutkan : “Sesungguhnya kalian diciptakan di perut ibunya empat puluh hari fase ‘nutfah’, kemudian fase ‘alaqah’ juga 40 hari, kemudian fase ‘mudghah’ 40 hari, dan setelah itulah ruh diciptakan…” (HR.Bukhari, no.2969, dan Muslim no.4781). Manusia harus berkomunikasi secara sehat dan berkualitas dngan tujuan untuk menghindari rusaknya suasana karmonisasi  antar manusia bahkan terhadap Allah SWT