Veydy Yanto Mangantibe
Sekolah Tinggi Teologi Yerusalem Baru Manado

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGINJILAN TERHADAP MASYARAKAT PLURAL BERDASARKAN SURAT EFESUS Erna Ngala; Veydy Yanto Mangantibe
Excelsis Deo: Jurnal Teologi, Misiologi, dan Pendidikan Vol 5, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Excelsius

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51730/ed.v5i1.58

Abstract

This article discusses evangelism to plural societies based on the epistle of ephesians. Evangelism is god’s program, design and work that bring for himself, people to fellowship, worship / praise and serve him in wholeness and harmony. Evangelism is established by god from eternity, because all things are designed by god from eternity in his omniscience and power in evangelism (eph. 1: 4-14). God wants his people to have fellowship with him, become his worshipers and serve him, the true god. The challenge in evangelism is that every religion is different, all religions have objects that are worshiped, therefore it will not be possible to be completely equated between one religion and another. Plural society equates christian faith with other beliefs by looking for loopholes to align christianity with other religions. The duty of the believer is to preach the gospel so that unbelievers hear and believe in the lord jesus and are saved, not compromising the gospel or juxtaposing christian faith with other beliefs. Keywords: Evangelism; Plural Society; Ephesians Letter  AbstrakArtikel ini membahasa mengenai penginjilan terhadap masyarakat plural berdasarkan surat Efesus. Penginjilan merupakan program, rancangan dan karya Allah yang membawa bagi diriNya sendiri suatu umat untuk bersekutu, menyembah/memuji dan melayani Dia dalam keutuhan dan keserasian. Penginjilan ditetapkan Allah sejak kekekalan, sebab segala sesuatu dirancang Allah dari kekal dalam kemahatahuanNya dan kuasaNya didalam penginjilan (Ef.  1:4-14). Allah menghendaki agar umatNya bersekutu dengan Dia, menjadi penyembahNya dan melayani Dia, Allah yang benar. Tantangan dalam penginjilan adalah setiap agama berbeda, semua agama memiliki objek yang disembah, oleh sebab itu tidak akan mungkin dapat disamakan secara keseluruhannya antara agama satu dengan yang lain. Masyarakat plural, menyamakan iman Kristen dengan kepercayaan lain dengan mencari celah untuk dapat menjajarkan kekristenan dengan keagamaan lain. Tugas dari orang percaya ialah memberitakan Injil agar orang-orang yang belum percaya mendengar dan menjadi percaya kepada Tuhan Yesus serta diselamatkan, bukan mengkompromikan Injil atau menjajarkan iman Kristen dengan kepercayaan lain. Kata Kunci: Penginjilan; Masyarakat Plural; Surat Efesus
Pembinaan Pastoral Konseling Terhadap Kelompok “Wanita-Pria” Veydy Yanto Mangantibe; Olyvia Yusuf
Jurnal Teologi Gracia Deo Vol 3, No 2 (2021): Januari 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46929/graciadeo.v3i2.61

Abstract

This article discusses pastoral counseling for shemale groups. In the time of creation, Genesis 1:27 “So God created man in His own image, in the image of God He created him; male and female He created them”. This verse provides clear evidence that in terms of sex or gender, there are actually contrasting differences between men and women. Men and women are two different individuals, there is no mixing of both or shemale. However, in reality, it was found that they were male but felt that they were women. In general, shemale experienced errors in identifying their gender. This mistake is caused by a psychological disorder called gender identity disorder. It appears that in society, shemale behavior is seen as abnormal or deviant behavior. They often experience rejection, mockery, insults and even become targets of various acts of violence. In the midst of the negative response from the general public to the existence of transgender women. Abstrak Artikel ini membahasa mengenai pembinaan pastoral konseling terhadap kelompok waria. Dalam masa penciptaan, Kejadian 1: 27 “menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakakan-Nya mereka.” ayat tersebut, memberikan bukti nyata bahwa dari sisi seks atau jenis kelamin, sesungguhnya terdapat perbedaan yang kontras antara laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki maupun perempuan adalah dua pribadi yang berdiri sendiri, tidak ada pencampuran dari keduanya atau Wanita pria, atau yang disingkat waria, namun pada kenyataannya didapati mereka yang berjenis kelamin laki-laki tetapi merasa dirinya adalah perempuan, Secara umum, waria mengalami kekeliruan dalam mengidentifikasi jenis kelaminnya. Kekeliruan tersebut disebabkan oleh gangguan psikologi yang disebut gender identity disorder, Nampak persoalan Dalam masyarakat umum, perilaku waria dipandang sebagai perilaku yang abnormal atau menyimpang. Mereka kerapkali mengalami penolakan, dijadikan bahan ejekan, hinaan bahkan sering menjadi sasaran berbagai tindakan kekerasan. persoalan ini juga tentunya menjadi tanggung jawab bagi kekristenan dalam pelayanan maka perlu adanya tindakan nyata untuk menyikapi persoalan kelompok waria.