Siti Mariatul Kiptiyah
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KYAI SELEBRITI DAN MEDIA BARU siti mariatul kiptiyah
Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol. 19 No. 3 (2017)
Publisher : LIPI Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jmb.v19i3.495

Abstract

Tulisan ini menganalisis munculnya kyai selebriti di Indonesia utamanya pada K.H. Anwar Zahid yang ceramahnya banyak diunggah di media YouTube. Model dakwah dari waktu ke waktu terus berubah, dan ceramah di YouTube adalah salah satu bentuk bagaimana dakwah disebarluaskan melalui media baru. Studi ini akan menguji seberapa besar peran YouTube sebagai media baru dalam menciptakan otoritas baru bagi seorang kyai melalui pengajiannya. Kajian ini penting untuk melihat bagaimana kehadiran media baru memperkuat otoritas kyai sebagai pemimpin agama di masyarakat. Pertanyaan yang hendak saya jawab dalam penelitian ini adalah seperti apakah otoritas kyai di era media baru?. Bagaimana K.H. Anwar Zahid membangun otoritasnya?, serta, bagaimana K.H. Anwar Zahid menggunakan otoritas tersebut dalam ceramahnya?. Penelitian ini mengkombinasikan data empiris dan teoritis terhadap ceramah K.H. Anwar Zahid yang bersifat online (YouTube) dan offline (langsung). Hasil studi ini menunjukkan bahwa media baru tidak menggeser otoritas tradisional seorang kyai sebagai pemimpin agama, tetapi justru otoritas tersebut semakin diperkuat dengan otoritas selebriti dari media baru yang mendapat pengakuan secara konsensus oleh masyarakat. This paper analyses the xin Indonesia, mainly on K.H. Anwar Zahid whose are widely uploaded in the YouTube. The model of has changed over time, and on YouTube is one of the models in which xis disseminated through new media. This study will examines how far the roles of YouTube as a new media in creating new authority for a . This study is important to see how the existence of new media strengthens the 's authority as a religious leader in society. The questions to be answered in this research are the following: How is ’s authority in the era of new media? How did K.H. Anwar Zahid builds his authority? How did K.H. Anwar Zahid use that authority in his dakwah? This research combines empirical and theoretical data on K.H. Anwar Zahid which explore the online (YouTube) and offline (direct) data. The results of this study indicate that the new media does not shift the traditional authority of a as a religious leader, but rather the authority is further strengthened with the celebrity’s authority of a new media that gets consensus recognition by the public.
Tradisi Penulisan Tafsir Al-Qur’an Bahasa Jawa Cacarakan: Studi Atas Kur’an Jawen Muhammadiyah dan Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi Siti Mariatul Kiptiyah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.47 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.531

Abstract

The article discusses the writing of Qur’anic commentary in Javanese language or Cacarakan, especially in the Kur’an Jawen Muhammadiyah and Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi. My focus is to explore the writing tradition of Qur’anic commentaries and interpretative context of the books. Considering both were published in 1927 and 1928, this study seeks to explain how the tradition of writing of the Qur’anic commentary in Java, especially in the era of colonialism before the event of Sumpah Pemuda in 1928. In my analysis, Kur’an Jawen Muhamma­diyah and Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi although written  in the same language that is aksara cacarakan, they have different issues. The interpretation about jihad in Kur’an Jawen Muhammadiyah was a response to the Christian missionary activity and the tafsir was raising the issue of harmony among religious people. On the other hand, Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi discusses more about how to make solidarity in Muslim society.Keyword:  cacarakan, Qur’anic commentary, Javanese, Muslim solidarity Artikel ini membahas tentang penulisan tafsir Al-Qur’an bahasa Jawa Cacarakan, utamanya pada Kur’an Jawen Muhammadiyah dan Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi. Fokus saya adalah mengeksplorasi tradisi penulisan dan konteks penafsiran kedua kitab tafsir tersebut. Mengingat keduanya terbit pada tahun 1927 dan 1928, studi ini penting untuk melihat bagaimana geliat penulisan tafsir Al-Qur’an di Jawa, khususnya pada era kolonialisme menjelang diikrarkannya Sumpah Pemuda tahun 1928. Dari pembacaan saya, meski Kur’an Jawen Muhamma­­diyah dan Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi ditulis dengan bahasa yang sama, keduanya memiliki pola penulisan yang berbeda dan menyasar konteks penafsiran yang berbeda pula. Kur’an Jawen Muhammadiyah (1927) secara penulisan berbentuk terjemah tafsiriyah dan merespon massifnya gerakan zending atau kristenisasi oleh pemerintah kolonial, dengan memberi penekanan pada dakwah secara damai untuk mencapai kerukunan antar umat beragama. Sedangkan Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi (1928) secara penulisan menggunakan pola kitab tafsir sesuai dengan namanya, ia lebih banyak menyinggung perdebatan seputar furu’iyah dan menekankan pada kerukunan internal umat Islam.Kata kunci: cacarakan, tafsir Al-Qur’an, Bahasa Jawa, solidaritas Muslim