Agus Iswanto
Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Semarang

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

PRAKTIK LITERASI BERBASIS ‘MADRASAH RISET’: PELAKSANAAN GERAKAN LITERASI DI MANSA YOGYAKARTA Agus Iswanto
Al-Qalam Vol 24, No 2 (2018)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.808 KB) | DOI: 10.31969/alq.v24i2.468

Abstract

Literasi menjadi istilah yang diperbincangkan seiring dengan beberapa hasil riset yang menunjukkan bahwa tingkat literasi Indonesia rendah. Hal ini mendorong Pemerintah, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah. Namun, penelitian tentang praktik literasi yang dilakukan di sekolah atau madrasah belum banyak dilakukan. Penelitian ini menggali praktik literasi di Madrasah Aliyah Negeri 1 (Mansa) Yogyakarta sebagai sebuah upaya untuk melihat bagaimana gerakan literasi dilaksanakan di lembaga pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama. Penelitian ini menggunakan konsep praktik literasi dan tahapan gerakan literasi sekolah. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi dan studi dokumen. Penelitian ini menunjukkan bahwa praktik literasi di madrasah tidak sepenuhnya mengikuti tahapan atau pandauan yang dibuat oleh Gerakan Literasi Sekolah. Ada kekhasan dan kreatifitas, seperti literasi keagamaan yang menonjol, yakni melalui literasi kitab suci. Praktik literasi di Mansa Yogyakarta berbasis pada visi madrasah sebagai madrasah riset, sehingga peristiwa literasi yang dilakukan adalah yang terkait dengan riset. Praktik literasi di madrasah ini sangat didukung oleh sarana perpustakaan, karena itu perpustakaan menjadi faktor yang mendukung praktik literasi yang berbasiskan aktivitas riset. Namun, tidak semua mata pelajaran menerapkan konsep literasi berbasiskan riset ini, karena alasan keterbatasan waktu belajar dan beban kurikulum yang banyak. 
MEMBACA KECENDERUNGAN PEMIKIRAN ISLAM GENERASI MILENIAL INDONESIA Agus Iswanto
Harmoni Vol. 17 No. 1 (2018): Januari-Juni 2018
Publisher : Research and Development Center for Guidance for Religious Societies and Religious Services, the Research and Development and Education and Training Agency of the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (MORA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.046 KB) | DOI: 10.32488/harmoni.v17i1.299

Abstract

Tulisan ini mengulas buku berjudul "Literatur Keislaman Generasi Milenial: Transmisi, Apropriasi, dan Kontestasi." Fokus buku ini adalah memetakan literatur keislaman yang beredar dan dibaca generasi milenial, khususnya pelajar SMA dan mahasiswa. Buku ini juga melihat tingkat keberterimaan literatur keislaman yang beraneka ragam dalam orientasi ideologis, genre, kecenderungan pendekatan, dan gaya di kalangan generasi milenial. Hal yang membedakan dengan kajian tentang literatur keislaman yang sudah dilakukan, buku ini memeriksa buku-buku yang digunakan dalam Pendidikan Agama Islam, baik di SMA maupun di Perguruan Tinggi. Buku ini ditulis sebetulnya dalam rangka untuk membaca dinamika dan pergeseran Islamisme, terutama di kalangan anak muda. Hal ini dilakukan karena kebanyakan sarjana hanya memerhatikan dinamika ideologi gerakan Islam, sehingga mengabaikan hal yang lebih mendasar menyangkut faktor yang membentuk ideologi tersebut. Buku ini berargumen bahwa peran literatur keislaman dalam persemaian Islamisme di kalangan generasi milenial, khususnya pelajar dan mahasiswa, jelas tidak bisa diabaikan. Buku ini memberikan gambaran tentang pemikiran Islam anak muda melalui literatur keislaman yang tersedia, diakses dan dibaca. Meskipun demikian, buku ini tidak mengulas tentang karakter generasi milenial yang menjadi subyek penelitiannya.
Praktik Literasi Agama pada Masyarakat Indonesia Tempo Dulu: Tinjauan Awal atas Naskah-naskah Cirebon Agus Iswanto
Manuskripta Vol 8 No 2 (2018): Manuskripta
Publisher : Masyarakat Pernaskahan Nusantara (The Indonesian Association for Nusantara Manuscripts, Manassa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.458 KB) | DOI: 10.33656/manuskripta.v8i2.114

Abstract

The practice of literacy, especially on religious texts, has already exists in Indonesian society based on available written evidence. This paper examines religious manuscripts with the perspective of the study of religious literacy. Analyzed by contextual literacy approach, not an autonomous literacy approach, this paper discusses the practice of local literacy in a specific social context. Furthermore, the contribution of the Indonesia manuscripts to the study of local literacy (indigenous literacy) and religious literacy (faith literacy). Taking the case on several Islamic manuscripts in the Cirebon region which became one of the “granaries” of the Nusantara manuscripts in the West Java, this paper maps important issues in the study of local literacy and religious literacy reflected in these manuscripts, such as the identity negotiated and patron or literacy sponsor and the production of meaning in the literacy practice. This paper argues that the study of religious literacy practice reflected in the Indonesia manuscripts can contribute to the understanding of the production of the contextual meaning of religion that has been practiced by the community that underlies the production of these manuscripts. -- Praktik literasi, terutama terhadap teks keagamaan, sudah ada dalam masyarakat Indonesia (Nusantara) berdasarkan bukti-bukti tertulis yang tersedia. Tulisan ini mengkaji naskah-naskah keagamaan dengan perspektif kajian literasi agama. Pokok bahasannya adalah praktik literasi lokal dalam konteks sosial yang spesifik dengan menggunakan pendekatan praktik literasi kontekstual dan ideologis, bukan dengan pendekatan literasi otonom. Lebih lanjut, kontribusi naskah-naskah Nusantara bagi kajian literasi lokal (indigenous literacy) dan literasi agama (faith literacy). Dengan mengambil kasus pada beberapa naskah keislaman di wilayah Cirebon yang menjadi salah satu “lumbung” bagi khazanah naskah Nusantara di wilayah Jawa Barat, tulisan ini memetakan isu-isu penting dalam kajian literasi lokal dan literasi agama yang terrefleksikan dalam naskah-naskah tersebut, seperti persoalan identitas yang dinegosiasikan dalam naskah dan patron atau sponsor literasi serta produksi makna dalam praktik literasi. Selain itu, kajian praktik literasi agama yang tercermin dalam naskah-naskah Nusantara dapat memberikan kontribusi bagi pemahaman tentang produksi makna agama yang kontekstual yang telah dipraktikkan oleh masyarakat yang melatari produksi naskah-naskah tersebut.
Understanding Hadrah Art as The Living Al-Qur’an: The Origin, Performance and Worldview Agus Iswanto
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 21, No 2 (2019): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.7 KB) | DOI: 10.18860/el.v21i2.7296

Abstract

This article explores hadrah art in Lampung. Hadrah art actually becomes the most played religious music art among Indonesian Muslim in various areas. It focuses on the doctrinal basis of hadrah believed by Indonesian Muslim. By explaining the origin of the hadrah, its performances, tools and poems sung, with the living Qur’an concepts and interpretivism perspective, I found that hadrah is usually performed in religious rituals, then it is always contextual and connotative. Hadrah for Indonesian Muslim can be understood as the living Qur’an phenomenon because the underlying doctrine is shalawat from the Qur’an. As one of the phenomena of the living Qur’an, hadrah group, essentially, is reciting poems praising Allah and the Prophet of Muhammad, and they believe that it is as a command of the Qur’an. Thus, there has been acculturation between the teachings of the Qur’an with the local culture of society. Artikel ini membahas tentang seni hadrah di Lampung. Seni hadrah sebenarnya menjadi seni musik religius yang paling banyak dimainkan di kalangan Muslim Indonesia di berbagai wilayah. Artikel ini fokus pada dasar doktrinal hadrah yang diyakini oleh Muslim Indonesia. Dengan menjelaskan asal mula hadrah, pertunjukannya, alat-alatnya dan puisi-puisinya yang dinyanyikan, dengan menggunakan kerangka konsep Al-Qur’an yang hidup dan perspektif interpretivisme, terungkap bahwa hadrah biasanya dilakukan dalam ritual keagamaan, lalu selalu bersifat kontekstual dan konotatif. Hadrah bagi Muslim Indonesia dapat dipahami sebagai fenomena Al-Qur’an yang hidup, karena doktrin yang melandasinya adalah shalawat dari Al-Qur’an. Sebagai salah satu fenomena dari Al-Qur’an yang hidup, kelompok hadrah, pada dasarnya, melantunkan puisi yang memuji Allah dan Nabi Muhammad, dan mereka percaya bahwa itu adalah sebagai perintah Al-Qur’an. Dengan demikian, telah terjadi akulturasi antara ajaran Al-Qur’an dengan budaya masyarakat setempat.