Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

LINGUISTIC NATIONALISM IN THE BIPA 1 TEXTBOOK: REPRESENTATION OF LANGUAGE AND NATIONAL IDENTITY Nirmalasari, Yohanna
JURNAL KONFIKS Vol 12, No 2 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/konfiks.v12i2.18712

Abstract

Textbooks are an important component of BIPA learning. In this textbook, the use of language can reflect Indonesian nationalism. Indonesian nationalism must be introduced to BIPA 1 learners because BIPA 1 learners need to obtain initial schemata and perceptions about Indonesia. This study aims to reveal the representation of the Indonesian language and the construction of national identity in the BIPA 1 textbook: Sahabatku Indonesia through the Critical Discourse Analysis (CDA) approach modeled after Norman Fairclough. This textbook not only functions as a medium for language learning but also as an ideological tool that shapes the discourse of linguistic nationalism. This study uses a qualitative approach with data analysis of verbal and visual texts, and learning tasks in five main units. The data source in this study is the BIPA level 1 textbook. This book was chosen because it is the first learning material for foreigners who want to learn Indonesian, so it must represent Indonesian values. The data in this study are dialogues, texts, and practice questions. The results of the study show two major themes: (1) Indonesian is represented as a homogeneous and official national identity, and (2) language is used as an instrument of social regulation and power relations. This representation shows that Indonesians in the BIPA 1 textbook are not neutral but ideologically charged, reflecting linguistic nationalism and Indonesia's unique social value system. Based on these findings, it can be concluded that language is part of ideological construction, not merely a tool for communication. These results reinforce the notion that the BIPA 1 textbook can serve as a space for the production of discourse that constructs specific social identities.
Gastronomi sebagai Media Diplomasi Budaya dalam Pembelajaran BIPA: Kajian Persepsi, Motivasi dan Minat Yohanna Nirmalasari; Lilis Lestari Wilujeng
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 4 (2025): Penulis dari 3 negara (Indonesia, Jerman dan Turki)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i4.7048

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menganalisis data kuantitatif dan kualitataif mengenai pengalaman dan persepsi pemelajar BIPA terhadap pembelajaran bahasa Indonesia berbasis gastronomi. Pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua menjadi pembelajaran yang semakin dikenal oleh masyarakat di luar Indonesia. Hal ini memberikan peluang besar untuk semakin mengenalkan citra Indonesia ke kancah internasional. Salah satu bentuk pengenalan ini adalah dengan mengenalkan gastronomi ke dalam pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bentuk soft diplomasi berkelanjutan. Pembelajaran ini bahasa Indonesia ini dikenal dengan pembelajaran BIPA. Pembelajaran BIPA berbasis gastronomi dapat memberikan pengalaman belajar bahasa yang kontekstual dan interaktif. Hal ini berpotensi memengaruhi persepsi, motivasi, dan minat belajar terhadap bahasa dan budaya Indonesia sehingga penelitian ini penting untuk dilakukan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian campuran atau yang biasa dikenal dengan mix methods karena di dalam penelitian ini mengeksplorasi persepsi, motivasi, dan minat pemelajar yang mengintegrasikan data wawancara untuk memperkuat temuan kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dapat diperoleh hasil bahwa berdasarkan uji validitas ditemukan ada dua soal yang tidak valid dan 34 soal yang valid dengan rata-rata skor di atas 3.0. Artinya ialah bahwa responden cenderung memberikan penilaian yang positif terhadap aspek yang diukur. Berdasarkan uji reliabilitas diperoleh bahwa pada konstruk persepsi menunjukkan nilai α = 0,86, pada konstuk motivasi menunjukkan nilai α = 0,84, pada konstruk minat mneunjukkan α = 0,88, artinya bahwa semua butir pernyataan memiliki konsistensi internal yang tinggi untuk mengukur variable penelitian. Berdasarkan uji analisis deskriptif diperoleh bahwa (1) dalam hal persepsi diperoleh nilai rata-rata 3,92, (2) dalam hal motivasi diperoleh nilai rata-rata 3,78, dan (3) dalam hal minat diperoleh nilai rata-rata  3,84. Hasil uji analisis deskriptif ini didukung dengan data wawancara yang menunjukkan bahwa  BIPA berbasis gastronomi terbukti efektif meningkatkan keterampilan bahasa, motivasi, dan minat pemelajar, sekaligus kesadaran dan pemahaman budaya Indonesia yang berkelanjutan.  
Kesalahan Bunyi Simakan Pemelajar BIPA Tingkat Pemula Asal Tiongkok Nirmalasari, Yohanna
Tabasa: Jurnal Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pengajarannya Vol. 1 No. 2 (2020)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/tabasa.v1i2.2692

Abstract

Keterampilan menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang berpengaruh terhadap perkembangan pembelajaran bahasa, khususnya bagi pemelajar bahasa kedua. Pada proses pembelajaran keterampilan menyimak sering terjadi kesalahan. Hal ini bisa terjadi karena adanya pengaruh bahasa pertama pada proses pembelajaran bahasa kedua. Penelitian ini bertujuan untuk memaparkan kesalahan bunyi simakan pemelajar BIPA tingkat pemula asal Tiongkok yang tidak menggunakan alfabet dalam bahasa pertama mereka. Penelitian ini merupakan penelitian analisis kajian teks yang menganalisis kesalahan bunyi simakan tulis pemelajar BIPA. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat diperoleh hasil bahwa ada tiga kategori kesalahan bunyi simakan, yakni perubahan bunyi di awal kata, tengah kata, dan akhir kata. Masing-masing kategori tersebut memiliki perubahan, penghilangan, dan bahkan penambahan bunyi. (1) Pada kesalahan di awal kata, pemelajar banyak melakukan kesalahan pada bunyi bilabial, dental, dan hambat velar. (2) Pada kesalahan di tengah kata, pemelajar banyak melakukan kesalahan pada bunyi hambat, nasal, getar, dan lateral, serta penghilangan bunyi nasal dan penambahan bunyi konsonan getar. (3) Pada kesalahan di akhir kata, pemelajar melakukan penghilangan konsonan akhir bunyi hambat dan frikatif, serta perubahan bunyi nasal, bunyi frikatif menjadi getar, dan bunyi frikatif glotal menjadi bunyi dental plosif.
Representasi Ekologi dalam Teks Bertema Lingkungan oleh Pemelajar BIPA Tingkat Tinggi: Pendekatan Linguistik Fungsional Nirmalasari, Yohanna
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8032

Abstract

This study aims to describe how ecological representations are manifested through processes in the ideational meaning of written texts by advanced BIPA learners. This study uses a qualitative method with Halliday's systemic functional linguistics (SFL) approach. The data in this study are learners' written sentences containing ideational processes in argumentative texts written by learners. Data collection techniques were carried out through documentation of learners' writings on the theme of ecology in response to environmental issues in Indonesia. Data analysis techniques were carried out through the stages of identification, classification, and interpretation. First, each clause in the learners' texts was identified to find the type of ideational process used based on Halliday's theory. This included material, raw, verbal, behavioral, relational, and existential processes. Second, the clauses were classified according to the type of process to see the tendency of ecological meaning representation. Third, the classification results are interpreted tol reveal how BIPA learners represent ideas and attitudes towards environmental issues through their choice of linguistic processes. The results show that learners often use material processes when arguing about environmental issues. In addition to material processes, learners also use mental, existential, and relational processes. This study found that learners do not use verbal and behavioral processes. Based on these findings, it can be concluded that learners demonstrate fairly good language skills in conveying ecological ideas, even though they do not yet fully utilize all types of processes in the Indonesian language transitivity system. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana representasi ekologi diwujudkan melalui proses-proses dalam makna ideasional pada teks tulis pemelajar BIPA tingkat tinggi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan linguistik fungsional sistemik (LFS) Halliday. Data dalam penelitian ini adalah kalimat tulis pemelajar yang mengandung proses ideasional dalam teks argumen yang ditulis oleh pemelajar. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi terhadap hasil tulisan pemelajar dengan tema ekologi yang menanggapi permasalahan lingkungan di Indonesia. Teknik analisis data yang dilakukan melalui tahapan identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi. Pertama, setiap klausa dalam teks pemelajar diidentifikasi guna menemukan jenis proses ideasional yang digunakan berdasarkan teori Halliday. Hal ini mencakup proses material, mental, verbal, behavioral, relasional, dan eksistensial. Kedua, klausa tersebut diklasifikasi menurut jenis prosesnya untuk melihat kecenderungan representasi makna ekologi. Ketiga, hasil klasifikasi diinterpretasi untuk mengungkap bagaimana pemelajar BIPA merepresentasikan ide dan sikap terhadap isu lingkungan melalui pilihan proses linguistik yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemelajar banyak menggunakan proses material dalam berargumen terkait dengan isu lingkungan. Selain proses material, pemelajar juga menggunakan proses mental, eksistensial, dan relasional. Di dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa pemelajar tidak menggunakan proses verbal dan proses behavioral. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemelajar menunjukkan kemampuan berbahasa yang cukup baik dalam menyampaikan gagasan ekologi meskipun belum sepenuhnya memanfaatkan seluruh jenis proses dalam sistem transitivitas bahasa Indonesia.
Representasi Ekologi dalam Teks Bertema Lingkungan oleh Pemelajar BIPA Tingkat Tinggi: Pendekatan Linguistik Fungsional Yohanna Nirmalasari
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 14, No 2 (2025): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v14i2.8032

Abstract

This study aims to describe how ecological representations are manifested through processes in the ideational meaning of written texts by advanced BIPA learners. This study uses a qualitative method with Halliday's systemic functional linguistics (SFL) approach. The data in this study are learners' written sentences containing ideational processes in argumentative texts written by learners. Data collection techniques were carried out through documentation of learners' writings on the theme of ecology in response to environmental issues in Indonesia. Data analysis techniques were carried out through the stages of identification, classification, and interpretation. First, each clause in the learners' texts was identified to find the type of ideational process used based on Halliday's theory. This included material, raw, verbal, behavioral, relational, and existential processes. Second, the clauses were classified according to the type of process to see the tendency of ecological meaning representation. Third, the classification results are interpreted tol reveal how BIPA learners represent ideas and attitudes towards environmental issues through their choice of linguistic processes. The results show that learners often use material processes when arguing about environmental issues. In addition to material processes, learners also use mental, existential, and relational processes. This study found that learners do not use verbal and behavioral processes. Based on these findings, it can be concluded that learners demonstrate fairly good language skills in conveying ecological ideas, even though they do not yet fully utilize all types of processes in the Indonesian language transitivity system. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana representasi ekologi diwujudkan melalui proses-proses dalam makna ideasional pada teks tulis pemelajar BIPA tingkat tinggi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan linguistik fungsional sistemik (LFS) Halliday. Data dalam penelitian ini adalah kalimat tulis pemelajar yang mengandung proses ideasional dalam teks argumen yang ditulis oleh pemelajar. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi terhadap hasil tulisan pemelajar dengan tema ekologi yang menanggapi permasalahan lingkungan di Indonesia. Teknik analisis data yang dilakukan melalui tahapan identifikasi, klasifikasi, dan interpretasi. Pertama, setiap klausa dalam teks pemelajar diidentifikasi guna menemukan jenis proses ideasional yang digunakan berdasarkan teori Halliday. Hal ini mencakup proses material, mental, verbal, behavioral, relasional, dan eksistensial. Kedua, klausa tersebut diklasifikasi menurut jenis prosesnya untuk melihat kecenderungan representasi makna ekologi. Ketiga, hasil klasifikasi diinterpretasi untuk mengungkap bagaimana pemelajar BIPA merepresentasikan ide dan sikap terhadap isu lingkungan melalui pilihan proses linguistik yang digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemelajar banyak menggunakan proses material dalam berargumen terkait dengan isu lingkungan. Selain proses material, pemelajar juga menggunakan proses mental, eksistensial, dan relasional. Di dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa pemelajar tidak menggunakan proses verbal dan proses behavioral. Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemelajar menunjukkan kemampuan berbahasa yang cukup baik dalam menyampaikan gagasan ekologi meskipun belum sepenuhnya memanfaatkan seluruh jenis proses dalam sistem transitivitas bahasa Indonesia.
Pengembangan Komik Strip Digital Berbasis Isu-Isu Kebahasaan di Sekitar untuk Meningkatkan Literasi Siswa Yohanna Nirmalasari
Bahtera: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 25 No. 2 (2026): BAHTERA: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, Volume 25 Nomor 2 Juli 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/bahtera.252.04

Abstract

ABSTRACT   Comic strips are a concise narrative form using images to convey messages briefly. They help students understand concepts and increase learning motivation, particularly in addressing contemporary linguistic issues. While comic strips are commonly used in subjects like science, history, and religion, their use in language learning, especially at the student level, is still rare. However, comics are effective and enjoyable for learners of all ages. This research aims to develop comic strip learning media for Indonesian language education. The ADDIE development method was applied, with the media covering eight chapters: the position and function of Indonesian language, language variety, spelling, punctuation, effective sentence construction, discourse, scientific writing, and citation and reference formatting. Based on the research findings, it was concluded that comic strips can help students better understand literacy activities, especially in critically analyzing linguistic issues in their environment. This study highlights that incorporating comic strips into language education can boost student engagement and comprehension, making the learning process both enjoyable and effective.  Keywords: Comic Strips; Linguistic Issues; Literacy; Media Development
Optimalisasi Pelafalan Nada Bahasa Mandarin pada Siswa SD YBPK Ngaglik melalui Teknik Drill dan Permainan Anggrah Diah Airlinda; Dhatu Sitaresmi; Yohanna Nirmalasari
Abdimas Indonesian Journal Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Civiliza Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59525/aij.1972

Abstract

  Accurate training in Mandarin language’s tones from an early stage is essential for first and second-grade elementary school students. Through optimizing effective tone pronunciation practice using the drill technique combined with enjoyable game-based activities, students are expected to develop a strong foundation for their subsequent Mandarin language learning. This community service program aimed to improve the ability of students at SD YBPK Ngaglik to pronounce Mandarin tones accurately. The program consisted of three main activities: an introduction to the four Mandarin language tones followed by tone drills using Chinese tongue twisters (raokouling), individual games, and group games. The pre-test and post-test results demonstrated improvements across all assessment aspects. The average score for tone difference increased from 64,5 to 87,8. The average score for accurate tone production improved from 61,8 to 85,6. The average score for clear tone pronunciation increased from 68,2 to 89,1, while the average score for rapid tone production improved from 66,0 to 84,2. This activity successfully resulted in a positive impact by enhancing students' ability to differentiate and correctly pronounce the four tones of Mandarin language.
Hubungan Kecenderungan Penggunaan Input Pinyin dengan Kemampuan Menulis Hanzi Manual Mahasiswa Pendidikan Bahasa Mandarin Semester 4 Universitas Ma Chung   Grace Angelica; Yohanna Nirmalasari; Anggrah Diah Airlinda
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 3 (2026): in Progress
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i3.10802

Abstract

Penelitian ini meneliti hubungan antara penggunaan input pinyin dengan kemampuan menulis hanzi manual mahasiswa Pendidikan Bahasa Mandarin Semester 4 Universitas Ma Chung. Permasalahan yang diteliti adalah bagaimana kecenderungan penggunaan input pinyin mahasiswa, bagaimana kemampuan menulis hanzi manual mahasiswa tanpa bantuan input pinyin, dan apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kecenderungan penggunaan input pinyin dengan kemampuan menulis hanzi manual pada mahasiswa Pendidikan Bahasa Mandarin semester 4 Universitas Ma Chung. Tujuan penelitian bagi mahasiswa dan dosen adalah memahami bahaya negatif kecenderungan penggunaan input pinyin tanpa diimbangi dengan latihan menulis hanzi manual. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan instrumen angket dan tes. Pertama-tama dilakukan uji validitas dan reliabilitas kedua instrumen. Setelah itu dilakukan uji normalitas Shapiro-Wilk, uji linieritas dan uji outlier. Hasil dari uji korelasi menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kecenderungan penggunaan input pinyin dengan kemampuan menulis hanzi manual mahasiswa. Penyebabnya adalah karena jumlah responden yang terlalu sedikit, hasil data tes yang kurang bervariasi dikarenakan soal tes yang terlalu mudah, dan mahasiswa memperoleh banyak latihan menulis hanzi secara manual melalui berbagai mata kuliah sehingga kemampuan menulis mereka tetap terjaga.
Analisis Gaya Bahasa Kiasan dalam Film Komedi 爱情公寓 大电影 (Love Apartmen) sebagai Media Pembelajaran Listening Samuel Hoggy Martono; Dhatu Sitaresmi; Yohanna Nirmalasari
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 3 (2026): in Progress
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i3.10850

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi dan menganalisis gaya bahasa kiasan yang terdapat dalam film komedi 爱情公寓大电影 (Love Apartmen), serta mengkaji potensinya sebagai media pembelajaran ketrampilan listening bahasa Mandarin. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian analisis isi. Data peneliitan merupakan dialog berbahasa Mandarin dalam film yang mengandung gaya bahasa kiasan. Hasil penelitian menunjukan bahwa setiap gaya  bahasa kiasan yang telah ditemukan memiliki fungsi komunikatif, makna kontekstual yang beragam seperti, menciptakan humor, mengekspresikan emosi, memperkuat karakter tokoh, dan menyampaikan pesan moral secara langsung. Melalui penelitian ini menunjukan film Love Apartmen bisa menjadi media pembelajaran listening bahasa Mandarin menyajikan penggunaan gaya bahasa yang kontekstual dan kaya akan kiasan  yang dapat membantu pelajar memahami bahasa dan budaya penutur asli lebih mendalam.
Listening Difficulties in Mandarin Tone Identification among Non-Chinese Language Education Students Francesca Imma Culata; Yohanna Nirmalasari; Anggrah Diah Arlinda
INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 13 No. 3 (2026): INTERACTION: Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36232/interactionjournal.v13i3.6078

Abstract

Tones are an essential feature of Mandarin Chinese because differences in tone can distinguish word meanings. However, learners from non-tonal language backgrounds often experience difficulties in identifying tones. This study aims to describe the profile of difficulties in listening to Mandarin tones among second semester Non-Chinese Language Education Students at Ma Chung University. A mixed methods approach was employed involving 16 second semester non-Chinese Language Education Students at Ma Chung University. Data were collected through a tone identification test covering vocabulary, sentence, and paragraph levels, as well as semi-structured interviews. The results showed that Tone 2 had the highest percentage of identification errors at the vocabulary (50%), sentence (59%), and paragraph (56%) levels. Meanwhile, the neutral tone ranked second, with error rates of 47%, 56%, and 50%, respectively. These findings were supported by the interview results, which revealed that the difficulties were related to distinguishing the contour of Tone 2, recognizing the neutral tone, and maintaining attention to tones while listening to longer utterances. These findings suggest that Mandarin tone instruction should be conducted progressively through listening practice, beginning with the vocabulary level, followed by the sentence and paragraph levels, to help improve learners' tone identification ability.