Murni Hermawaty Sitanggang
Universitas Jember, Jember, Jawa Timur

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Implementasi Puasa menurut Yesaya 58:1-12 di Wadah Wanita Ester GPdI Ekklesia, Jember Murni Hermawaty Sitanggang; Asatinus Laia
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol 4, No 1: Juli 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/kharis.v4i1.71

Abstract

Since Old Testament times, fasting has been a part of the lifestyle of the Israelites, not least in Isaiah 58. However, this chapter does not contain instructions for implementation but God's stern rebuke of the Israelites' practice of fasting at that time. The Israelites at that time had the mistaken notion that piety only needed to be maintained during fasting and did not involve daily life. They ignored the true meaning of fasting. Therefore, in this paper, the author investigates fasting according to Isaiah 58:1-12 in everyday life. The research was conducted through a qualitative method with a descriptive approach by involving the active fasting participants from the forum of Esther GPdI Ekklesia Women. Data were collected through observation and interviews, which then resulted in the finding that participants had understood that the nature of fasting is not only about piety but also caring for others. They have fulfilled this in their daily life by praying, refraining from oppression, and being just. AbstrakSejak masa Perjanjian Lama, puasa telah menjadi bagian dari gaya hidup umat Israel, tidak terkecuali dalam Yesaya 58. Akan tetapi, pasal ini bukanlah berisi petunjuk pelaksanaan melainkan teguran keras Tuhan terhadap praktik puasa bangsa Israel saat itu. Bangsa Israel saat itu memiliki anggapan keliru bahwa kesalehan hanya perlu dipertahankan saat puasa dan tidak menyangkut kehidupan sehari-hari. Mereka abai akan makna puasa yang sesungguhnya. Oleh sebab itu, dalam tulisan ini penulis menyelidiki bagaimana imple-mentasi puasa menurut Yesaya 58:1-12 tersebut di dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian dilakukan melalui metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan melibatkan parti-sipan yang aktif berpuasa dari Wadah Wanita Ester GPdI Ekklesia. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara yang kemudian menghasilkan temuan bahwa partisipan telah memahami bahwa hakikat puasa bukan hanya soal kesalehan melainkan juga mempedulikan sesama. Mereka telah memenuhi hal ini dalam kehidupan sehari-hari dengan cara berdoa, tidak melakukan penindasan, dan bersikap adil.
Makna Teologis Amanat Agung dan Implementasinya di Indonesia: Perlukah Pemaknaan Ulang? Murni Hermawaty Sitanggang
KHARISMATA: Jurnal Teologi Pantekosta Vol. 7 No. 2: Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Alkitab Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47167/8c3wdc92

Abstract

Theologians generally agree that Jesus' command in Matthew 28:19-20 is a mission for God's people to reach and disciple those who do not yet believe. Discipleship is marked by a person's entry into the Christian community. This is what makes mission or evangelism considered the same as church planting. However, when discussing the implementation of this mandate in a pluralist country like Indonesia, calls emerge to reconstruct the mission from evangelism to dialogue between religious communities to maintain harmony and prevent friction with adherents of the majority religion. This research aims to examine why this happens and then answer the main question of whether this reinterpretation cannot be avoided. The research was carried out using descriptive analysis methods with a literature study approach. The author reviews various literature related to the topic and then analyzes it to produce descriptive and systematic thoughts. The conclusion is that we cannot separate the mission from the context. The majority of Indonesia's population is Muslim and they view evangelization as an effort to Christianize, a threat that needs to be guarded against and suppressed so that it often causes friction. Therefore, considering that believers also have an obligation as citizens to maintain harmony, reinterpretation cannot be avoided. However, we need to ensure that the reinterpretation does not change the essence of the mandate. Para teolog umumnya sepakat bahwa perintah Yesus di dalam Matius 28:19-20 merupakan misi bagi umat Tuhan untuk menjangkau dan memuridkan mereka yang belum percaya. Pemuridan itu ditandai dengan masuknya seseorang dalam komunitas Kristen. Hal inilah yang kemudian menjadikan misi atau penginjilan dianggap sama dengan penanaman gereja. Namun, ketika membahas soal implementasi mandat tersebut di negara pluralis seperti Indonesia, muncul seruan untuk merekonstruksi misi dari penginjilan menjadi dialog antar umat beragama untuk memelihara kerukunan dan mencegah gesekan dengan pemeluk agama mayoritas. Penelitian ini bertujuan mengkaji mengapa hal itu terjadi untuk kemudian menjawab pertanyaan utama apakah memang pemaknaan ulang tersebut memang tidak dapat dihindari. Penelitian dilakukan dengan memakai metode deskriptif analisis dengan pendekatan studi literatur. Penulis mengkaji berbagai literatur terkait topik untuk kemudian dianalisis sehingga menghasilkan pemikiran yang bersifat deskriptif dan sistematis. Kesimpulan yang didapat adalah kita tidak dapat melepaskan misi dari konteks. Mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam dan mereka memandang penginjilan sebagai upaya kristenisasi, ancaman yang perlu diwaspadai dan ditekan sehingga tak jarang menimbulkan gesekan. Oleh sebab itu, mengingat orang percaya juga memiliki kewajiban sebagai warga negara untuk menjaga kerukunan, maka pemaknaan ulang tidak dapat dihindari. Namun, kita perlu memastikan pemaknaan ulang itu tidak mengubah esensi amanat tersebut.