Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

MENALAR KEMBALI HADITS DAN SHALAT TASBIIH Bisri Tujang
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 1 No 1 (2013): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37397/almajaalis.v1i1.8

Abstract

Tasbih prayer is prayer that has been believed by some Muslims, as recommended in Islamic prayer. it is based on the proposition that the hadith narrated by some scholars, such as imam Abu Daud, Tirmidhi and Ibn Majah, but after investigation of the side chains and Matn his law Tasbih prayer hadith is weak, even some scholars categorize into maudhu’ hadith (hadith false), as classified by the imam Ibn al-Jawzi in his book al-Maudhuu'aat, there are also those who say that this hadith, if it is authentic then surely maqluub (other matn confused with another isnaad or matn confused with another matn), as the opinion of Ibn Khuzaimah priest. Even Sheikhul Islam Ibn Taymiyyah said, that no one of the Imams of the four schools that encourage it, precisely imam Ahmad ibn Hanbal stated that the hadith is weak prayer beads.
AL-‘ITRAH DALAM TINJAUAN SUNNI DAN SYI’AH (Studi Perbandingan) Bisri Tujang
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 1 No 2 (2014): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37397/almajaalis.v1i2.17

Abstract

Persoalan 'Itrah adalah bagian besar dari polemik-polemik besar yang sering kali dijadikan bahan pembicaraan antara dua Agama, agama Sunni dan agama Syi'ah. Pembicaraan yang panjang tersebut berjalan seiring berputarnya waktu. Namun tentu manusianyapun datang bergantian berjalan bersamanya waktu. Oleh karenanya persoalan 'itrah senantiasa hangat setiap saat dan susah untuk sampai pada ujung permasalahan. Pada makalah ini penulis akan mencoba menyelesaikan duduk pesoalan dengan menjelaskan apa yang dimaksud dengan ‘itrahti’, apa landasan hukumnya? konteks denotative kalimat tersebut seperti apa? Siapakah mereka? Dan mengapa harus itrahti? Apa keistimewaan mereka?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan segenap kegelisahan yang perlu diselesaikan pada kesempatan kali ini.
HERMENEUTIKA HADIS YUSUF QARDAWI (Studi Analisa Terhadap Metodologi Interpretasi Qardawi) Bisri Tujang
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 2 No 1 (2014): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37397/almajaalis.v2i1.21

Abstract

Penelitian ini membahas kevalidan metode hermeneutika hadits Yusuf Qard}a>wi yang diusung oleh para tokoh “intelek” Islam masa kini yang diafiliasikan kepadanya. Apakah pandangan miring yang diafiliasikan kepada beliau adalah sebuah factual?, bagaimana langkah yang telah di ambil oleh beliau untuk memperlakukan sunah/hadis Nabi ketika memberikan solusi pada umat?. Bagaimana prosesi interpretasi teks-teks hadis Nabi yang dilunakkan oleh beliau untuk bisa melebur bersama konteks kekinian yang disebut metode penafsiran hermeneutik? Penelitin ini merupakan penelitian pustaka yang memusatkan perhatian pada isu-isu penting seputar langkah-langkah dan metodologi interpretasi hadis Syekh Qard}a>wi. Penelitian ini menggunakan metodekualitatif-analisa isi, dengan menganalisa teks-teks yang tertuang pada metode interpretasi yang digagas oleh Syekh Qard}a>wi dalam bukunya “Kayfa Nata'amal ma'a al-Sunnah al-Nabawiyyah” (Bagaimana berinteraksi dengan sunnah) dengan berpijak pada kerangka teori hermeneutic negosiasi teks hadis yang memperhitungkan aspek sosial, politik, sains dan agama, apakah Qardhawi menyentuh salah satu dari semuanya.Penelitian ini menyimpulkan bahwa beliau adalah seorang tokoh Hermeneutika yang “moderat-eklektis”69, beliau dalam sebagian metodenya masih komitmen menelusuri metode dan prinsip interpretasi para ulama clasik yang berkutat pada urusan ibadah. Namun semangat interpretasi kaum liberal telah mendominasi kerangka berpikir beliau. Analisa ini juga menjawab hasil penelitian Mir’atun Nisa’ “Hermeneutika Hadis Yusuf Qard}a>wi dalam Hermeneutika al-Qur’an dan Hadis”, yang menyimpulkan bahwa Qard}a>wi belum menyentuh pada langkah menganalisa pemahaman teks-teks hadis dengan teori social, politik, ekonami, dan sains terkait. Justru dari analisa yang kami temukan Qard}a>wi juga telah menyentuh teori hermeneutika sains, ekonomi, politik apalagi sosial dan agama.
AL-NASIKH WA AL-MANSUKH (Deskripsi Metode Interpretasi Hadis Kontradiktif) Bisri Tujang
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 2 No 2 (2015): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37397/almajaalis.v2i2.28

Abstract

Penelitian ini hendak mencari jawaban beberapa persoalan, di antaranya; yaitu bagaimana penerapan metode na>sikh dan mansu>kh untuk interpretasi hadis dan mengapa harus dengan metode tersebut? Apakah ia menjadi solusi harmonisasi hadis-hadis yang bertentangan? Bagaimana model naskh yang terjadi pada sebuah hadis?Kajian ini merupakan jenis penelitian pustaka, berinduk pada tulisan-tulisan ulama klasik. Selanjutnya, metode deskriftif adalah metode penelitian yang akan digunakan oleh penulis pada penelitian ini. Sebuah metode pendekatan yang dipakai untuk menjelaskan persoalan tertentu yang bersifat apa adanya. Pada prakteknya, penulis dalam pembahasan ini berusaha mengemukakan beberapa metode interpretasi hadis yang berstatus naskh(nasikh dan mansukh) disertai pemilihan dan pengelompokan hadits sebagai hadits nasikh mansukh dengan penjelasannya.Penelitian ini berhasil menjawab bahwa nasikh dan mansukh digunakan oleh sebagian ahli hadits apabila mereka kesulitan dalam menggabungkan dua hadits yang bertabrakan dan tidak dapat diharmoniskan, serta di antara keduannya diketehui mana hadits yang muncul belakangan. Mengidentifikasi hadis-hadis naskh dapat dilakukan melalui penelusuran pada pernyataan terang dari Nabi, perkataan dan penjelasan sahabat Nabi. mengetahui sejarah, seperti hadits Syaddad bin ‘Aus dan Ijma’ ulama’. Dan ditinjau dari model naskh pada teks(redaksi dan hukum), substansi nasikh/mansukh berlaku pada tiga keadaan;(1)hukum sebuah redaksi dihapus, namun redaksinya tetap. (2)redaksisnya dihapus, namun hukumnya tetap. (3) hukum dan redaksinya dihapus.
EKSISTENSI A COMMON LINK DALAM SANAD HADIS STUDI KRITIK TERHADAP TEORI JOSEPH SCHACHT Bisri Tujang
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 3 No 1 (2015): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37397/almajaalis.v3i1.32

Abstract

Teori-teori tentang otentisitas hadis masih menitipkan banyak keraguan di pikiran para "pemikir-pemikir" hadits dari para orientalis di era kontemporer. Kemudian mereka dan terkhusus Joseph Schach menuangkan pikiran-pikarannya dalam teori a common link, teori yang propokatif untuk merekonstruksi teori sanad yang sudah baku, yang kemudian membuat ulama dan umat Islam terusik, karena menurut teori tersebut seorang common link adalah indikasi kepalsuan hadis. Setumpuk masalah ini, maka kajian ini akan mencoba menjawab teori a common link dan eksistensinya dalam sanad hadis dan menawarkan teori normative tentang kritik sanad hadis. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif normative. Pendekatan deskriftif normative yang penulis maksudkan adalah bagaimana sejatinya para peneliti hadis mampu menjelaskan masalah system isna>d dengan apa adanya dan mengkritik serta memahami hadits secara komperhensif, merujuk pada konsep kullu ha>mil ha>dza al-di>n 'adl (seluruh pengemban agama ini berkredibilitas dan ber-otoritas tinggi). Setelah kajian ini berjalan; menyimpulkan bahwa teori common link terbentuk dengan pikiran kosong, karena kekosongan pikiran tersebut, maka justifikasi kepalsuan sebuah hadis pun salah, karena dibangun di atas hipotesa yang meragukan. Hasil kajian dari cara kerja teori common link menyingkap bahwa Joseph keliru dalam banyak hal; kesalahan beliau memahami hadis yang dijadikan sebagai objek kajiannya, sebagaimana kesalahan menjustifikasi a common link adalah indikasi pemalsu hadis, termasuk kesalahan memprediksi masa polemic pada hadis yang dikaji, kesalahan membandingkan hadis yang dikaji dengan hadis lain dan keliru menisbatkan hadis lawan kepada perawi aslinya, beliau tidak obyektif dan konsisten, selanjutnya beliau memiliki kesalahan pada keyakinan dan kesalahan menentukan referensi penelitian.
PENGARUH PEMIKIRAN IBNU TAIMIYAH TERHADAP PEMIKIRAN IBNU ABDULWAHHAB TENTANG SYIRIK (STUDI KOMPARASI) Bisri Tujang
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 3 No 2 (2016): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37397/almajaalis.v3i2.41

Abstract

Di antara polemik pemikiran pada tubuh umat Islam adalah persoalan tauhid ibadah yang diserukan oleh seorang ulama dan penasehat pertama negara Arab Saudi, beliau adalah Muhammad bin Abdulwahha>b(selanjutnya Ibnu Abdulwahha>b). Pemikiran-pemikiran beliau diasumsikan oleh kebanyakan umat Islam telah “meresahkan” ideologi mereka yang telah bertahun-tahun dijalani. Pasalnya tipologi pemikiran beliau secara keseluruhan adalah baru, diadopsi dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah. Bertitik tolak dari motivasi-motivasi ini, penulis akan meneliti dua persoalan mendasar; pertama, seberapa besar dominasi pemikiran Ibnu Taimiyah terhadap pemikiran Ibnu Abdulwahab tentang syirik? Kedua, apakah interpretasi syirik yang diyakini dan dijalani Ibnu Abdulwahab tersebut murni adopsi pemikiran Ibnu Taimiyah ataukah ada pendahulunya? Penulis dalam penelitian ini menggunakan metode komparasi, mengomparasikan pemikiran Ibnu Taimiyah pada persoalan syirik dengan pemikiran Ibnu Abdulwahab. Kemudian mengkorelasikan dengan pemikiran-pemikiran ulama pendahulu mereka terkait persoalan-persoalan tersebut untuk menguji porsi pemikiran Ibnu Abdulwahab yang diasumsikan diwarnai oleh pemikiran Ibnu Taimiyah. Setelah ditelaah, penulis sampai kepada sebuah fakta bahwa sangat sedikit dominasi pemikiran Ibnu Taimiyah terhadap pemikiran Ibnu Abdulwahha>b tentang masalah ini. Bahkan bisa dipastikan bahwa Ibnu Abdullwahha>b tidak menjadikan induk pemikirannya kepada Ibnu Taimiyah. Oleh karena itu, interpretasi syirik yang diyakini dan dijalani Ibnu Abdulwahab tersebut bukan adopsi pemikiran imam Ibnu Taimiyah, sebab telah ada pendahulunya.
KONSEP BID’AH PERSPEKTIF IBNU TAIMIYAH DAN IBNU ABDULWAHHAB (STUDI KOMPARASI) Bisri Tujang
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 4 No 1 (2016): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37397/almajaalis.v4i1.51

Abstract

Di antara polemik yang selalu hangat pada tubuh umat Islam adalah konsep bid’ah seperti definisi, konteks dan macam-macamnya yang digagas oleh Muhammad Ibnu Abdulwahha>b. Pemikiran atau konsep beliau diasumsikan oleh kebanyakan umat Islam telah “meresahkan” ideologi mereka yang telah bertahun-tahun dijalani. Pasalnya, bid’ah yang beliau konsep secara keseluruhan adalah baru, diadopsi dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah. Bertitik tolak dari motivasi-motivasi di atas, maka persoalan akademik yang muncul kemudian adalah: Seberapa besar dominasi konsep bid’ah Ibnu Taimiyah terhadap pemikiran Ibnu Abdulwahab? Apakah ada pendahulu Ibnu Abdulwahab pada interpretasi bid’ah yang diyakini dan dijalani sebelum Ibnu Taimiyah?. Dengan mengomparasikan pemikiran Ibnu Taimiyah tentang konsep bid'ah; definisi, konteks dan macam-macam bid’ah dengan pemikiran Ibnu Abdulwahab. Kemudian mengkorelasikan dengan pemikiran-pemikiran ulama pendahulu mereka terkait persoalan-persoalan tersebut penulis berupaya mencari jawabannya. Setelah ditelaah, penulis sampai kepada sebuah fakta bahwa sangat sedikit dominasi pemikiran Ibnu Taimiyah terhadap pemikiran Ibnu Abdulwahha>b tentang masalah ini. Bahkan bisa dipastikan bahwa Ibnu Abdullwahha>b tidak menjadikan induk pemikirannya kepada Ibnu Taimiyah. Oleh karena itu, konsep bid’ah yang diyakini dan dijalani Ibnu Abdulwahab tersebut bukan adopsi pemikiran imam Ibnu Taimiyah, sebab telah ada pendahulunya.
INTENSITAS PENGARUH PERIWAYATAN PERAWI PROPAGANDIS TASYAYYU’, SYI’AH DAN RAFIDAH TERHADAP PEMAHAMAN BUKHARI ATAU SUNNI (Studi Analisis Terhadap Riwayat Perawi-perawi Sahih Bukhari) Bisri Tujang
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 4 No 2 (2017): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37397/almajaalis.v4i2.84

Abstract

Ulama ahli hadis menjelaskan bahwa pemahaman Tasyayyu’, Syi’ah atau Rafidah dalam konteks periwayatan hadis merupakan bagian dari perilaku-perilaku bid’ah. Perilaku bid’ah merupakan salah satu sebab yang mencoreng dan merusak ‘ada>lah (kredibilitas) seorang perawi hadis. Hal itu karena seorang mubtadi’ (pelaku bid’ah) dikatakan telah meyakini atau melakukan perilaku yang dikategorikan telah menyelisihi ajaran Islam yang murni dari Nabi. Unsur penyelisihan tersebut, lebih dikhawatirkan jika perawi mubtadi’ adalah seorang da’iyah (propagandis kepada sektenya). Deretan masalah yang diperdebatkan, diskursus periwayatan mubtadi’ propagandis masih menyisahkan pertanyaan besar bagi peneliti hadis, yaitu sejauh mana tingkat pengaruh periwayatan perawi mubtadi’ khususnya Tasyayyu’, Syi’ah atau Ra>fid}ah apalagi propagandis terhadap ajaran sektenya sendiri atau merusak ajaran Islam? Apakah ada pengaruh ajaran perawi mubtadi’ Syi’ah terhadap tipologi pemikiran imam Bukhari pada tema-tema hadis yang beliau buat?. Pada penelitian ini penulis berusaha menelusuri para perawi mubtadi’ yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar sebagai perawi yang dipakai oleh Bukhari dalam kitab Sahih beliau, terkhusus pada perawi yang berpemahaman Syi’ah, Tasyayyu’ dan Rafidah dalam karya beliau “Taqrib al-Tahdzib” dan “Tahdzib al-Tahdzib” disertai riwayat-riwayat mereka untuk kemudian dianalisis. Penulis akhirnya berkesimpulan bahwa pada riwayat-riwayat para perawi propagandis berpemahaman Tasyayyu’, Syi’ah dan Rafidah tidak ada pengaruhnya kepada pemahaman imam Bukhari dalam membuat tema-tema kajian yang beliau kehendaki. Demikian juga tidak ada pengaruh yang hendak disampaikan oleh perawi-perawi tersebut untuk merusak pemahaman umat Islam, ahlussunah waljamaah.
INTENSITAS PENGARUH PERIWAYATAN PERAWI PROPAGANDIS TASYAYYU’, SYI’AH DAN RAFIDAH TERHADAP AJARAN SYI’AH ATAU SUNNI (Studi Analisis Terhadap Riwayat Perawi-perawi Dalam Shahih Muslim) Bisri Tujang
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 5 No 1 (2017): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37397/almajaalis.v5i1.85

Abstract

Perilaku bid’ah seperti, Tasyayyu’, Syi’ah atau Rafidah merupakan salah satu sebab yang mengganggu dan merusak ‘adalah (kredibilitas) seorang perawi hadis. Hal itu karena seorang mubtadi’ (pelaku bid’ah) dikatakan telah meyakini atau melakukan perilaku yang dikategorikan telah menyelisihi ajaran Islam yang murni dari Nabi, walaupun perawi tersebut adalah rijal al-sanad imam Muslim dalam S{ahi>h beliau. Unsur penyelisihan tersebut, lebih dikhawatirkan jika perawi mubtadi’ adalah seorang da’iyah (propagandis kepada sektenya). Maka sejauh manakah tingkat pengaruh periwayatan perawi mubtadi’ khususnya Tasyayyu’, Syi’ah atau Ra>fid}ah apalagi propagandis terhadap ajaran sektenya sendiri untuk merusak ajaran Islam? Apakah ada pengaruh ajaran perawi mubtadi’ Syi’ah terhadap tipologi pemikiran imam Muslim pada tema-tema hadis yang beliau buat?. Pada penelitian ini penulis berusaha menelusuri para perawi mubtadi’ yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar sebagai perawi yang dipakai oleh Muslim dalam kitab Sahih beliau, terkhusus pada perawi yang berpemahaman Syi’ah, Tasyayyu’ dan Ra>fidah dalam karya beliau “Taqrib al-Tahdzib” dan “Tahdzib al-Tahdzib” disertai riwayat-riwayat mereka untuk kemudian dianalisis. Penulis akhirnya berkesimpulan bahwa pada riwayat-riwayat para perawi propagandis berpemahaman Tasyayyu’, Syi’ah dan Ra>fid}ah tidak ada pengaruhnya kepada pemahaman imam Muslim dalam membuat tema-tema kajian yang beliau kehendaki. Demikian juga tidak ada pengaruh yang hendak disampaikan oleh perawi-perawi tersebut untuk merusak pemahaman umat Islam, ahlussunah waljamaah.
PENOLAKAN IMAM MALIK PERIWAYATAN PERAWI MUBTADI’; ANTARA TEORI DAN TERAPAN (Studi Analisis Para Perawi Mubtadi’ Guru Imam Malik Dalam Kitab Muwatta’) Bisri Tujang
Al-Majaalis : Jurnal Dirasat Islamiyah Vol 5 No 2 (2018): AL-MAJAALIS : JURNAL DIRASAT ISLAMIYAH
Publisher : Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi'i Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37397/almajaalis.v5i2.87

Abstract

Pada konsep Imam Malik terkait perawi mubtadi’ beliau berpendapat bahwa tidak boleh meriwayatkan hadits dari (sahib al-hawa yadu’ ila hawahu) seorang propagandis bid’ah yang membuat propaganda kepada bid’ahnya. Pandangan tersebut membuktikan bahwa imam Malik tergolong ulama ahli hadits yang menolak riwayat perawi mubtadi’ secara mutlak. Sebagaimana dijelaskan imam Ibnu Rajab, hal tersebut dilatar belakangi oleh karena perilaku hawa nafsu dan bid’ah tidak menjamin pelakunya jujur dalam periwayatannya, apalagi jika riwayatnya menguatkan sektenya sendiri”. Muncul kemudian pertanyaan, sejauh mana konsistensi penerapan teori imam Malik untuk menolak periwayatan perawi mubtadi’ dalam kitab al-Muwatt}a? Seperti apakah alasan imam Malik yang dapat diberikan jika ditemukan perawi mubtadi’dalam kitab al-Muwatta? Penelitian ini difokuskan pada kajian pustaka, dengan mengumpulkan dan menganalisis data dari literature-literatur hadis. Teknis mengumpulkan data, pada penelitian ini dilakukan dengan menelusuri para perawi guru-guru imam Malik dalam kitab al-Muwatta, selanjutnya penulis akan melakukan pelacakan dan pemilahan guru-guru beliau yang telah mendapatkan penilaian mubtadi’ oleh salah satu ulama kritikus dan ahli dalam al-jarh wa al-ta’dil(kritik negative dan positif). Maka pembacaan ulang pada status para perawi di atas penulis menyimpulkan bahwa imam Malik sedikit tidak konsisten dengan teori yang beliau sebutkan, teori tidak boleh mengambil ilmu/hadis dari shahib hawa>(pengikut hawa nafsu/bid’ah) yang melakukan propaganda kepada bid’ahnya terbukti tidak mutlak. Pada penerapanya penulis menemukan beberapa perawi pelaku bid’ah seperti Sofwan ibn Sulaim, Daud ibn Husain dan Tsaur ibn Yazid, walaupun mereka tidak diketahui melakukan propaganda kepada bid’ah mereka dan tidak diketahui berdusta atas nama Nabi. Maka alasan yang dapat diberikan kepada imam Malik adalah semua perawi tersebut adalah para perawi yang tsiqah menurut beliau, disebabkan mereka tidak diketahui berdusta atas nama Nabi.