Stella Nita Lontolawa
Universitas Mulawarman

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Rasa Bersalah dan Strategi Coping Pada Mahasiswa yang Putus Hubungan Setelah Melakukan Seks Pranikah Stella Nita Lontolawa
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 4, No 4 (2016): Volume 4, Issue 4, Desember 2016
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v4i4.4236

Abstract

Penelitian tentang strategi rasa bersalah dan koping pada siswa yang putus setelah hubungan seks pranikah menggunakan penelitian kualitatif berdasarkan pendekatan studi kasus, metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi dan wawancara mendalam pada keempat subjek. Responden diambil berdasarkan purposive sampling, yaitu pemilihan subyek dan informan dalam penelitian berdasarkan karakteristik yang memenuhi tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis dinamika rasa bersalah dan strategi koping pada siswa yang putusu hubungan setelah melakukan hubungan seks pranikah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada keempat subjek memiliki rasa bersalah dan strategi koping yang berbeda dalam menghadapi seks pranikah yang pernah mereka lakukan. Mengenai masalah AR, ia merasa bersalah karena melakukan hubungan seks pranikah, tetapi rasa bersalah yang ia rasakan dapat mengubah dirinya menjadi lebih baik dari sebelumnya karena didukung oleh strategi koping yang digunakan oleh AR. Pada subjek kedua, yaitu WA, ia memiliki rasa bersalah ia merasa menyesal telah melakukan hubungan seks pranikah dan menganggap tidak ada lagi pria yang mau menerima jika bukan perawan lagi. Karena subjek putus dengan pacarnya ia punya ide bahwa semua lelaki hanya mengininkan perempuan yang masih perawan.  Subjek selanjutnya MM, yang memiliki rasa bersalah, ia merasa menyesal telah memberikan keperawanannya kepada pacarnya sekali. Pada saat ia ditipu oleh pacarnya yang berpacaran dan itulah yang membuat subjek pria begitu dibenci ditambah ia memiliki hubungan perkawinan dengan pacarnya. Pada subjek CJ ia memiliki rasa bersalah, ia merasa jijik dengan dirinya sendiri dan dianggap sebagai yang paling bersalah melakukan aborsi. Subjek masih setengah hati menerima situasi tersebut karena subjek tidak bisa takut punya anak karena aborsi.