This Author published in this journals
All Journal Sebatik
Abdul Aziz
Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Pendidikan Agama Islam, STAI Nurul Ilmi Tanjung Balai

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KESANTUNAN BERBAHASA PARA PASANGAN CALON DALAM DEBAT CALON GUBERNUR-WAKIL GUBERNUR DKI JAKARTA KAJIAN SOSIOPRAGMATIK Abdul Aziz
Sebatik Vol 25 No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : STMIK Widya Cipta Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (436.451 KB) | DOI: 10.46984/sebatik.v25i1.969

Abstract

Penelitian ini menjelaskan tingkat kesantunan berbahasa para pasangan calon gubernur dan wakil gubernur dari segi, jenis tindak tutur, gaya dan majas yang dituturkan, strategi bertutur, dan penerapan prinsip kesantunan oleh para paslon tersebut dalam Debat Pilkada DKI Jakarta. Berdasarkan hasil analisis data, didapat empat simpulan. Pertama, ditemukan lima jenis tindak tutur oleh para paslon dalam debat Pilkada DKI Jakarta, yaitu jenis tindak tutur ekspresif, dalam bentuk menyindir, mengkritik, mengeluh, mengecam; jenis tindak tutur representatif, dalam bentuk menyatakan, melaporkan, membual, menyebutkan, menjelaskan, memberitahukan; jenis tindak tutur direktif, dalam bentuk mempengaruhi, mengajak, menghimbau, memaksa, meyakinkan, meminta, menawarkan; jenis tindak tutur komisif, dalam bentuk menjanjikan; dan jenis tindak tutur deklaratif, dalam bentuk melarang. Jenis tindak tutur yang paling dominan digunakan adalah tindak tutur ekspresif dengan bentuk menyindir. Kedua, ditemukan tiga jenis majas sebagai pengungkap gaya berbahasa oleh para paslon, yaitu majas sarkasme, majas sinisme, dan majas ironi. Majas yang paling dominan digunakan adalah ironi. Ketiga, ditemukan empat strategi bertutur yang digunakan oleh para paslon, yaitu strategi bertutur, terus terang tanpa basa-basi, kesantunan negatif, kesantunan positif, dan strategi samar-samar. Strategi yang dominan digunakan oleh parapaslon adalah bertutur terus terng tanpa basa-basi (strategi bertutur langsung).Keempat, ditemukan pelanggaran secara dominan terhadap penggunaan enam prinsip kesantunan berbahasa dalam Debat Pilkada DKI Jakarta, yaitu pelanggaran terhadap prinsip kebijaksanaan, kedermawanan, pujian, kerendahan hati, kesepakatan, dan prinsip kesimpatikan, sedangkan pematuhannya sedikit sekali digunakan. Berdasarkan persentase temuan tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan unsur kesantunan para paslon dalam Debat Pilkada DKI berada dalam tingkat keterancaman muka ‘agak tinggi’ dengan kategori ‘kurang santun”.