Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

FINANCIAL STATEMENT QUALITY AND INVESTMENT EFFICIENCY Indah Umiyati; Riyanto Riyanto
ACCRUALS (Accounting Research Journal of Sutaatmadja) Vol 3 No 1 (2019): Accruals Edisi Maret 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sutaatmadja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.685 KB) | DOI: 10.35310/accruals.v3i1.45

Abstract

This study aims to analyze the relationship between financial statements quality with reduced over-investment and under-investment. The study was conducted on companies listed on the Indonesia Stock Exchange in 2008-2015 totaling 1,525 years. The analysis was done using an estimation of multinomial logistic regression. The results of the data analysis show that financial statements quality does not have an influence on the reduced opportunities for over-investment or under investment
Should I Bribe? Re-Examining the Greasing-the-Wheels Hypothesis in Democratic Post-Soeharto Indonesia Irfan Kurniawan; Riyanto Riyanto
Economics and Finance in Indonesia Volume 66, Number 2, December 2020
Publisher : Institute for Economic and Social Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.711 KB) | DOI: 10.47291/efi.v66i2.792

Abstract

During the Soeharto Era corruption was considered to grease the wheels of growth in Indonesia, a country once considered to be the most corrupt country in the world. Indonesia began to experience instantaneous decentralization and democratization after the Soeharto Era abruptly ended. While vastly celebrated, these episodes have their unintended consequence: coercive regulation. We employed the extensive firm-level Large and Medium Manufacturing (Industri Besar Sedang/IBS) census data combined with the Indonesian Democracy Index (Indeks Demokrasi Indonesia/IDI) at provincial level spanning from 2009 to 2015 and found that bribery hampered Indonesian firm output and productivity growth by 9.8% and 12.6%, respectively. These results suggest that the greasing effect has now diminished. Interestingly, we also found that firms located in a province with a better democracy index may experience less damaging effects of corruption. In other words, two firms paying the same value of bribe may obtain different effects depending on where they are located.
Dampak Upah Minimum Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja: Studi Kasus Industri Manufaktur Indonesia Jemila Rahmi; Riyanto Riyanto
Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik Vol 13, No 1 (2022)
Publisher : Pusat Penelitian, Badan Keahlian DPR RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22212/jekp.v13i1.2095

Abstract

In the last two decades, the manufacturing industry’s contribution to Gross Domestic Product (GDP) has decreased from 26.4 percent in 2000 to 21.7 percent in 2019. The sinking productivity of the manufacturing industry causes this decline in performance. Therefore, to increase the manufacturing industry’s performance, productivity must be boosted. One way to improve the manufacturing industry’s productivity is to increase labor productivity it self. According to the wage efficiency theory and production theory, wage is one of the factors that can affect labor productivity. Through the spillover effect mechanism, an increase in the minimum wage will increase workers’ wages. Meanwhile, the increase in workers’ wages will affect labor productivity. This study aims to examine the spillover effect using a syllogistic framework, which examines the effect of an increase in minimum wages on wage increases, and the effect of wages on labor productivity in the manufacturing industry. Using the panel data regression model and BPS large medium industry survey data from 2010 to 2015, this study shows that minimum wages are positively and significantly associated with wages, and positively and significantly associated with labor productivity. These results indicate a spillover effect of an increase in the minimum wage on the increase in workers’ wages, which has implications for labor productivity in the manufacturing industry. Thus, the minimum wage policy can be used as an instrument in boosting labor productivity of the manufacturing industry.Keywords: minimum wages, spillover effect, manufacturing industry, labor productivityAbstrakDalam dua dekade terakhir, kontribusi industri manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mengalami penurunan dari 26,4 persen pada tahun 2000 menjadi 21,7 persen pada tahun 2019. Penurunan kinerja tersebut disebabkan oleh menurunnya produktivitas industri manufaktur. Agar kontribusinya terhadap PDB dan pertumbuhannya kembali meningkat, maka produktivitas industri manufaktur harus ditingkatkan. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan produktivitas tenaga kerja industri manufaktur itu sendiri. Menurut teori efisiensi upah dan teori produksi, upah merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi produktivitas tenaga kerja. Melalui mekanisme spillover effect, kenaikan upah minimum akan memengaruhi kenaikan upah pekerja tetap. Sementara kenaikan upah pekerja diduga akan memengaruhi produktivitas tenaga kerja. Penelitian ini bertujuan menguji adanya spillover effect tersebut dengan kerangka silogisme yaitu menguji pengaruh kenaikan upah minimum terhadap kenaikan upah, dan menguji pengaruh upah terhadap produktivitas karyawan/pekerja tetap pada industri manufaktur. Dengan menggunakan panel data regression model dan data survei industri besar-sedang BPS dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2015, penelitian ini menunjukkan bahwa upah minimum berasosiasi positif dan signifikan terhadap upah, dan upah berasosiasi positif dan signifikan terhadap produktivitas tenaga kerja. Hasil ini membuktikan adanya spillover effect kenaikan upah minimum terhadap kenaikan upah pekerja yang berimplikasi pada meningkatnya produktivitas tenaga kerja pada industri manufaktur. Oleh karena itu, kebijakan upah minimum dapat digunakan sebagai instrumen untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja pada industri manufaktur.Kata kunci: upah minimum, spillover effect, industri manufaktur, produktivitas tenaga kerja
ANALISIS HUBUNGAN KOMPLEMENTER DAN KOMPETISI ANTAR WILAYAH DI INDONESIA PADA ERA OTONOMI DAERAH Khairun Nisa; Riyanto Riyanto
JURNAL DINAMIKA EKONOMI PEMBANGUNAN Vol 4, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jdep.4.1.37-50

Abstract

Interaksi horizontal antar wilayah merupakan isu penting dalam pembangunan wilayah, terutama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan horizontal antar wilayah yaitu hubungan komplementer dan kompetisi antar wilayah pada era otonomi daerah di Indonesia. Analisis komplementer dan kompetisi antar regional dilakukan terhadap 6 wilayah di Indonesia dengan menggunakan model Dendrinos-Sonis yang diestimasi menggunakan Ordinary Least Square (OLS) estimator dan Seemingly Unrelated Regression (SUR) estimator. Hasil analisis menunjukkan bahwa interaksi antara Wilayah Jawa dan Sumatera tetap bersifat komplementer, dan menjadi pendorong perekonomian wilayah lain, namun pengaruh wilayah Jawa mengecil dibandingkan wilayah Sumatera. Penelitian ini juga menemukan bahwa pola interaksi antar wilayah setelah era otonomi daerah cenderung menguntungkan secara ekonomi bagi wilayah Indonesia bagian Timur.
Dampak Program LTSHE Tahun 2017 Terhadap Peningkatan Banyaknya Usaha Rumah Tangga Desa Terpencil di Papua Khairun Nisa; Riyanto Riyanto
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 3, No 3 (2022): Oktober 2022
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2022.16240

Abstract

Program Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) merupakan program elektrifikasi nasional kepada rumah tangga yang belum menggunakan listrik, khususnya yang berada di Papua mengingat sebagian besar desa yang belum menggunakan listrik berada di pulau ini. Dengan program ini, masyarakat mendapatkan penerangan dengan tingkat pencahayaan yang jauh lebih baik tanpa harus mengeluarkan biaya bahan bakar. Hal ini berdampak pada peningkatan peluang masyarakat untuk melakukan kegiatan di malam hari, salah satunya dengan melakukan kegiatan usaha skala rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menganalisis dampak program LTSHE terhadap peningkatan banyaknya usaha skala rumah tangga di desa, yaitu usaha rumah tangga anyaman, toko kelontong dan warung makanan di desa terpencil di Papua. Dengan menggunakan data PODES 2014 dan 2020 serta menggunakan metode Difference in Difference, penelitian ini menemukan bahwa program LTSHE tidak berdampak terhadap peningkatan banyaknya usaha rumah tangga toko kelontong dan warung makanan. Bahkan dampaknya terhadap banyaknya usaha rumah tangga berbasis anyaman, malah negatif dan signifikan.
Analisis Dampak Program Bantuan Sosial Covid-19 Terhadap Kesejahteraan Keluarga: Studi Kasus Belanja Bantuan Sosial Dki Jakarta Tahun 2021 Yustina Lita Sari; Riyanto Riyanto
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.56 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i11.12045

Abstract

Untuk memutus penyebaran Covid-19, pemerintah menerapkan kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat. Kebijakan tersebut membawa dampak ekonomi bagi masyarakat baik yang bekerja di sektor formal maupun informal. Pemberian bantuan sosial Covid-19 diberikan untuk memitigasi dampak tersebut. Selama pandemi Covid-19, terdapat peningkatan signifikan belanja bantuan sosial namun angka kemiskinan justru meningkat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seberapa besar peranan bansos Covid-19 dalam mempertahankan taraf kesejahteraan keluarga. Data utama penelitian diperoleh melalui survei kepada keluarga. Analisis Difference-in-Difference (DID) digunakan untuk menilai pengaruh pemberian dan pencabutan bansos Covid-19 terhadap kesejahteraan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian uang tunai sebesar Rp300 ribu sebanyak enam kali belum mampu mempertahankan taraf kesejahteraan keluarga yang menurun akibat pandemi Covid-19. Peningkatan nilai bantuan dan kombinasi bantuan dengan barang yang dibutuhkan masyarakat, efektif dalam meningkatkan kesejahteraan namun hal ini sangat dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga. Pencabutan bansos Covid-19 berupa uang ditambah barang signifikan menurunkan kesejahteraan karena perekonomian keluarga belum sepenuhnya pulih.
The Effect of Government-Borne Value Added Tax (VAT) Incentives on Electric Car Sales in Indonesia Surya Adi Putra; Riyanto Riyanto
Jurnal Ekonomi, Teknologi dan Bisnis Vol. 4 No. 4 (2025): Jurnal Ekonomi, Teknologi dan Bisnis
Publisher : Al-Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/jetbis.v4i4.180

Abstract

Indonesia is a significant contributor to global greenhouse gas emissions, which contribute to global warming. To reduce emissions and achieve the net-zero emission target by 2060, Indonesia encourages the use of electric vehicles. However, sales of battery-based electric cars remain low. To increase sales, the Government provides Government-Borne Value Added Tax (VAT DTP) incentives, in addition to other fiscal and non-fiscal incentives. This study aims to analyze the influence of the VAT DTP incentive policy on electric car sales in Indonesia. The methods employed are Difference-in-Differences (DID) and Propensity Score Matching (PSM) with monthly electric car sales data from the Indonesian Motor Vehicle Industry Association (Gaikindo) for the period January 2022 to September 2024. The results of this study demonstrate that the implementation of VAT DTP incentives since April 2023 has had a significant positive effect on electric car sales. Other factors, such as first-mover advantage, promotional events, price, brand, and car specifications, also affect sales.