Indartik Indartik
Peneliti pada Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN IMPLEMENTASI PENGURANGAN EMISI DARI DEFORESTASI DAN DEGRADASI HUTAN: STUDI KASUS RIAU Indartik Indartik; Deden Djaenudin; Kirsfianti L. Ginoga
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2009.6.2.83-98

Abstract

Kegiatan tata guna lahan dan perubahan lahan menyumbang 17-20% konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfir dan perubahan iklim. Jumlah ini relatif besar dibandingkan dengan luas hutan global, terutama hutan tropis yang saat ini hanya sekitar 10% dari luas hutan global. Salah satu mekanisme untuk mengurangi GRK adalah melalui mekanisme REDD (Reducing Emissions From Deforestation and Forest Degradation) atau upaya pengurangan emisi melalui pencegahan deforestasi dan degradasi hutan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui infrastruktur yang diperlukan dalam tahap awal mekanisme REDD, termasuk faktor kunci keberhasilan pelaksanaan REDD. Alat analisis yang digunakan adalah Analytical Hierarchy Process (AHP). Penelitian dilakukan di Propinsi Riau yaitu di Kabupaten Rokan Hilir dan Siak, pada tahun 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk menciptakan efektifitas implementasi REDD perlu penekanan lebih terhadap aspek infrastruktur teknis berupa ketersediaan data dasar dan teknologi penghitungan karbon serta aspek institusi berupa keberadaan peraturan perundangan dan sumber daya manusia dengan jumlah memadai dan bermutu. Disamping itu perlu juga diperhatikan aspek sosial berupa peningkatan pemahaman masyarakat berkaitan dengan deforestasi, serta aspek ekonomi berupa peningkatan intensitas lapangan pekerjaan berbasis jasa hutan dan non kayu.
POTENSI PASAR PULAI (Alstonia scholaris) SEBAGAI SUMBER BAHAN BAKU INDUSTRI OBAT HERBAL : STUDI KASUS JAWA BARAT DAN JAWA TENGAH Indartik Indartik
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial, Ekonomi, Kebijakan dan Perubahan Iklim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpsek.2009.6.2.159-175

Abstract

Pulai (Alstonia scholaris) dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku obat herbal, terutama untuk anti hipertensi. Informasi pasar pulai sebagai bahan baku obat herbal belum tersedia, sehingga diperlukan kajian ini. Tujuan penelitian adalah mengetahui (1) prospek pasar pulai sebagai obat hipertensi, dan (2) faktor yang mempengaruhi permintaanya. Penelitian dilakukan di Propinsi Jawa Barat, dengan asumsi penderita hipertensi terpusat di perkotaan, dan Jawa Tengah sebagai daerah industri herbal. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif, analisis saluran pemasaran dan margin pemasaran serta analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pulai memiliki prospek pasar yang tinggi untuk bahan baku obat herbal dilihat dari ketersediaan bahan baku pulai. Di Jawa Tengah pulai tersebar di kawasan konservasi di Jepara, Banjarnegara, dan Cilacap, serta dikembangkan di Wonogiri dan Purworejo. Untuk Jawa Barat, pulai tersebar di TN Gunung Halimun, Ujung Kulon, CA Gunung Jagat (Sumedang), Majalengka, Garut dan Bogor serta propinsi Banten. Pulai juga sudah dibudidayakan oleh Perhutani KPH Bogor. Kulit kayu pulai memiliki manfaat untuk mengobati beragam penyakit, diantaranya : anti diabetes, anti diare, dan anti hipertensi. Dari segi pemasaran, kulit kayu pulai melibatkan 7 (tujuh) lembaga pemasaran mulai dari produsen sampai konsumen akhir dengan 3 (tiga) rantai tata niaga. Permintaan obat anti hipertensi dalam penelitian ini dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu : permintaan anti hipertensi dari bahan baku kimiawi dan bahan baku herbal. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan obat anti hipertensi dari bahan baku kimiawi adalah harga, tetapi faktor utama yang menentukan jenis obat untuk pasien adalah dokter. Sedangkan untuk jamu yang menggunakan bahan baku, permintaan pasar mulai berkurang. Hal tersebut berkaitan dengan perubahan selera konsumen dari produk tradisional menjadi produk modern (dalam bentuk pil atau kapsul, bukan serbuk).