Hilmi Ridwan
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Jl. Ragunan No. 19 - Pasar Minggu, Jakarta.

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Sifat Inovasi dan Peluang Adopsi Teknologi Pengelolaan Tanaman Terpadu Krisan dalam Pengembangan Agribisnis Krisan di Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta Ridwan, Hilmi
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk meningkatkan produksi dan mutu bunga krisan di Indonesia, Pusat Peneltian dan Pengembangan Hortikulturatelah melaksanakan program penelitian dan pengkajian penerapan pengelolaan tanaman terpadu krisan di beberapa provinsi sentraproduksi krisan. Pengelolaan tanaman terpadu krisan meliputi (a) penggunaan varietas dan benih bermutu; (b) pembuatan rumahlindung dan sarananya; dan (c) proses budidaya. Tujuan penelitian ialah mengetahui nilai sifat inovasi teknologi pengelolaantanaman terpadu krisan serta kemudahan penerapan dan peluang adopsinya oleh petani. Penelitian dilaksanakan di KabupatenSleman Daerah Istimewa Yogyakarta, dari bulan April hingga Desember 2009, menggunakan metode survei. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa teknologi pengelolaan tanaman terpadu krisan di Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta memilikisifat inovasi yang berkategori nilai tinggi sampai dengan sangat tinggi, sehingga mudah diterapkan dan berpeluang tinggi sampaidengan sangat tinggi untuk diadopsi petani di lapangan.ABSTRACTTo increase production and quality of chrysanthemum flowerin Indonesia, the Indonesian Center for Horticulture Research and Development has conducted research and assessment programimplementation of integrated crop management in several provinces. Integrated crop management for chrysanthemum consistedof (a) the use of varieties and qualified-seedlings; (b) the use of shading house; and (c) agricultural process. The objective of thisresearch was to evaluate characteristics of integrated crop management of innovation technology that affect the adoption of theinnovation by the farmers. The research conducted in Sleman District, Special Province of Yogyakarta from April to December2009 using survey method. The results showed that integrated crop management technology of chrysanthemum have high until veryhigh value category of innovation technology, so it is easy to be implemented with high until very high opportunity the technologyto be adopted by farmers in the field.
KAJIAN SISTEM USAHATANI BUAH KESEMEK (Diosphyros kaki L.f) DAN PERMASALAHANNYA DI KABUPATEN GARUT – JAWA BARAT Ridwan, Hilmi; Ishaq, Iskandar
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005
Publisher : Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research was conducted at Barusuda and Giriawas Villages (Cikajang District), and Cisurupan Village(Cisurupan District), Garut Regency, West Java Province from September to October 2002. Data collection wascarried through a survey using semi-structure questionnaires from 50 respondents (producing-farmer, persimmonhome industry owners, intermediate sellers, local community, and agricultural officers). The research aimed toidentify the persimmon agribusiness system. Persimmon farming was carried out in a simple manner characteristizedby: (1) minimum maintenance (without fertilizer and plant protection effort), (2) manual harvest, and (3) diversifiedplants spacing, cultivars and ages of the tress. Yileds of persimmon varied from 25 –200 kg/tree, and yeild of Kapascultivar was higher than that of Reundeu. Average farmer’s tree ownership was 101 trees/farmer. Post-harvestactivities were carried by local intermediate sellers. Benefits of the producing-farmers were 1/43 of thoseagroindustries’owners (Rp 2,283,300.00/year vs. Rp 98,942,500.00/year), and 1/34 times benefit of the localintermediatae-sellers (Rp 2,283,300.00/year vs. Rp 77,931,00.00/year). The producing-farmers were lack of extensionin plants practice. The intermediate sellers and owners of persimmon home industry were lack of knowledges onharvest and post-harvest processes, and processed-fruit products diversification.Key word : Diospyros kaki, farming system, post-harvest, home industry, GarutPenelitian ini di laksanakan di Desa Barusuda dan Desa Giriawas (Kecamatan Cikajang), serta DesaCisurupan (Kecamatan Cisurupan), Kabupaten Garut, Jawa Barat dari Bulan September sampai dengan Oktober 2002,dengan metode survai menggunakan kuesioner semi terstruktur pada 50 responden : (petani-produsen; pengrajinindustri pengolahan kesemek; pedagang-pengumpul; tokoh masyarakat; dan petugas pertanian) untuk dua kecamatan.Teknik pengambilan data dilakukan melalui wawancara; pengamatan langsung, dan pengukuran. Tujuanmengidentifikasi sistem budidaya pada tingkat petani dan sistem pemasarannya, serta permasalahan dan upayapenanggulangannya. Hasil penelitian menunjukan, bahwa budidaya kesemek di tingkat petani masih dilakukan secarasederhana, dengan karakteristik : (1) pemeliharaan minimum (tanpa pupuk dan upaya proteksi tanaman); (2)pemanenan dengan cara manual (dipetik), serta (3) jarak tanam, kultivar dan umur tanaman beragam. Hasil kesemek25-200 kg/ph, kultivar Kapas lebih tinggi dibandingkan kultivar Reundeu. Pemilikan pohon petani rata-rata 101,3ph/org, Penanganan fungsi pascapanen sudah ada, namun dilakukan oleh pedagang-pegumpul (Bandar Lokal) danpengrajin industri pengolahan bukan oleh petani-produsen. Keuntungan petani-produsen setara dengan 1/43keuntungan pengrajin industri pengolahan sale (Rp 2.283.300,00/th-B/C rasio 3,40 vs Rp 98.942.500,00/th-B/C rasio2,14), dan 1/34 dari keuntungan pedagang-pengumpul desa/kecamatan (Bandar Lokal) (Rp 2.283.300,00/th-B/C rasio3,40 vs Rp 77.931.000,00/th-B/C rasio 0,94). Permasalahan pada petani-produsen adalah kurangnya upaya pembinaanpetugas dalam teknik budidaya, terutama dalam rangka peningkatan kuantitas hasil panen dan produksi. Sedangkanpada pedagang-pengumpul dan pengrajin industri pengolahan umumnya mengharapkan bimbingan dan introduksiteknologi alat dan proses pada aspek panen dan pascapanen, serta diversifikasi produk olahan kesemek. Upayapelatihan tentang berbagai aspek dari sistem produksi kesemek juga diperlukan bagi petugas lingkup pertaniansetempat.Kata kunci : kesemek, usahatani, pascapanen, industri pengolahan, Garut