Diyah Wara Restiyati
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

BANGUNAN CAGAR BUDAYA BERLANGGAM TIONGHOA DI MADIUN [THE HERITAGE OF TIONGHOA HOUSE STYLE IN MADIUN] Diyah Wara Restiyati
Kindai Etam : Jurnal Penelitian Arkeologi Vol. 6 No. 1 (2020): KINDAI ETAM
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/ke.v6i1.62

Abstract

Kota Madiun merupakan salah satu kota di Jawa Timur sebagai tempat masyarakat Tionghoa bermukim sejak abad ke-15 Masehi (M), dan memiliki peran penting dalam menghidupkan perekonomian kota sebagai pedagang perantara. Masyarakat Tionghoa tersebut meninggalkan jejak budaya material berupa bangunan dengan kekhasan yang jarang ditemukan di kota lain di Jawa. Tulisan ini berdasarkan penelitian untuk mengidentifikasi kondisi existing bangunan, dan persepsi masyarakat mengenai pelestarian dan pemanfaatan bangunan berlanggam Tionghoa sesuai dengan UU Cagar Budaya No.11/2010 dan prinsip-prinsip pelestarian. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif berfokus pada tiga rumah tinggal keluarga Tionghoa dengan menggunakan teknik pengambilan data berupa penelitian pustaka, pengamatan, wawancara, dan diskusi terarah, dengan para informan utama merupakan masyarakat lokal Kota Madiun. Hasil penelitian memberikan gambaran bahwa ketiga bangunan berlanggam Tionghoa tersebut cukup terawat, dan layak untuk dijadikan bangunan cagar budaya dan dilestarikan, dengan perawatan yang intensif. Pelestarian cagar budaya ini juga sebaiknya dengan melibatkan masyarakat lokal terutama dalam proses perencanaan pelestarian, pelaksanaan pelestarian, dan promosi pelestarian sekaligus sebagai destinasi wisata. The Tionghoa (Indonesia Chinese) community has settled down in Madiun since 15th centuries, and has had important role in economy life as middle trader. This Tionghoa community has given of typical building heritage which is rare found out in other cities of East Java. The research has a purpose to identified existing building, and community perception of Tionghoa conservation and management building based on Cultural Heritage Laws No.11/2010, and conservation principles. This qualitative description focuses on three Tionghoa buildings by applicating the literature study, observation, interview, and focus group discussion methods of primary informants who are member of local community in Madiun. The research result gives the picture of three of Tionghoa building in good condition enough, and deserve to be conserve as heritage building with intensive conservation. The heritage building conservation should involve the local community mostly in the planning, implementation, and promoting the heritage building as tourism destination.
FUNGSI RAGAM HIAS TEMPAYAN MARTAVAN PADA MASYARAKAT TIONGHOA JAKARTA Diyah Wara Restiyati
Kindai Etam : Jurnal Penelitian Arkeologi Vol. 6 No. 2 (2020): KINDAI ETAM
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/ke.v6i2.68

Abstract

Tempayan martavan merupakan warisan budaya yang merepresentasikan identitas budaya Tionghoa terutama dengan ragam hias yang digambarkan pada permukaan wadah tersebut. Penelitian ini mengangkat permasalahan tentang fungsi ragam hias tempayan martavan. Apakah masyarakat Tionghoa memfungsikan tempayan martavan sesuai dengan makna nilai-nilai luhur dari ragam hiasnya? Berdasarkan dari pertanyaan tersebut, penelitian dilakukan untuk mengetahui fungsi dan makna ragam hias yang terkait dengan kepercayaan leluhur masyarakat Tionghoa di Jakarta. Penelitian mengenai tempayan martavan ini menggunakan pendekatan antropologi simbolik untuk mengetahui motif, pola, ragam hias, nilai filosofi dan fungsi martavan di dalam masyarakat Tionghoa di Jakarta. Teknik pengambilan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam dan pengamatan terlibat serta kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masyarakat Tionghoa di Jakarta, ragam hias ini mengandung makna nilai-nilai luhur dalam kepercayaan, yaitu Buddha, Khong Hu Cu dan Tao (disebut dengan Tridharma/Sam Kauw). Martavan as a cultural heritage represent cultural identity of Chinese, mostly with the motifs in its surface. This research problem appoint the function of ornamental variety on martavan jars. Did the Chinese put into function the martavan jars according to the meaning of the noble values of the decoration? Based on these questions, the research was conducted to determine the function and meaning of decorative styles associated with the ancestral beliefs of the Chinese community in Jakarta. This research used a symbolic anthropological approach to confirm the motives, patterns, decorations, philosophical values and functions of martavan in Chinese society in Jakarta. The data collection technique in this study used in-depth interview, observation and literature review. The results showed that in the Chinese community of Jakarta, this decoration contains the meaning of noble values in belief, namely Buddha, Confucianism and Taoism (called Tridharma/Sam Kauw).
TRADISI MINUM TEH ETNIS TIONGHOA DI JAKARTA DULU DAN SEKARANG Diyah Wara Restiyati
Kindai Etam : Jurnal Penelitian Arkeologi Vol. 7 No. 1 (2021): KINDAI ETAM: JURNAL PENELITIAN ARKEOLOGI VOLUME 7 NOMOR 1 MEI 2021
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/ke.v7i1.86

Abstract

Abstrak. Minum teh sudah menjadi tradisi etnis Tionghoa di Batavia secara turun-temurun. Etnis Tionghoa juga mengenalkan tradisi minum teh kepada masyarakat lain di Batavia, yang saat ini dikenal sebagai Jakarta. Pembahasan mengenai tradisi minum teh yang dilakukan oleh etnis Tionghoa di Batavia pada masa lalu dan di Jakarta saat ini merupakan hal yang menarik. Penelitian ini membahas tentang bagaimana tradisi minum teh dilakukan oleh etnis Tionghoa pada masa lalu, apa maknanya, dan adakah pergeseran makna yang terjadi saat ini. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyebarkan pengetahuan tradisi minum teh etnis Tionghoa di Jakarta sebagai bagian dari budaya Indonesia agar dapat dilestarikan oleh generasi berikutnya. Kajian ini menggunakan pendekatan etnohistori dengan kajian pustaka, pengamatan dan wawancara dengan masyarakat Tionghoa di Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi minum teh merupakan representasi nilai luhur masyarakat Tionghoa yang menganut agama Budha, Konghucu, dan Tao. Namun, tradisi minum teh saat ini sudah mengalami pergeseran makna dan tidak lagi dilakukan sesuai dengan nilai-nilai luhur masa lalu. Sebagian besar masyarakat Tionghoa di Jakarta sekarang meminum teh sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari tanpa melihat tata cara dan maknanya. Abstract. Drinking tea has been a Chinese tradition in Batavia for generations. They also introduced this tradition to other communities in Batavia, which is now known as Jakarta. Talking about the drinking tea tradition carried out by Chinese people in old Batavia and in Jakarta recently is quite interesting. This study discusses how this tradition carried out in the past, means, and is there a shift in meaning today. The research aimed to spread the Chinese drinking tea tradition in Jakarta as part of Indonesian culture so could be preserved by the next generation. This study uses an ethnohistorical approach with literature review, observations and interviews with the Chinese community in Jakarta. The results showed that the Chinese drinking tea tradition is a representation of the noble values ​​of the Chinese community who adhere to Buddhism, Confucianism, and Taoism. However, this tradition today has experienced a shift in meaning and no longer carried out with values. Recently, most Chinese people in Jakarta drink tea as part of their daily habits regardless of the rites and meanings.