This Author published in this journals
All Journal Jurnal Kerugma
Lenny Susi R. Panggabean
Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia Medan

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Jemaat Di Efesus Sebagai Peringatan Kepada Gereja Di Era 4.0 Lenny Susi R. Panggabean
KERUGMA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 2, No 1 (2020): April 2020
Publisher : STT Injili Indonesia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2500/kerugma.v2i1.32

Abstract

Abstract: Abstract: since the birth of the church at Pentecost, the church has been through world history for 2000 years, but it still has to learn from all that experience. The purpose of this writing was emphasized to a reflection or reflection of what had been at the church in Ephesus in the book (Revelation 2:1-7), where the Lord Jesus himself denounced the Ephesians for having abandoned the original love (Revelation 2:4). History experiences brought the church to a closer look at what was happening and what was happening and what would happen to the church in the future. When the apostle Paul began his ministry in Ephesus, it expanded rapidly but after several generations the church of Ephesus had suffered setbacks, and it was not even there anymore. As for the research method used is the use of a literary approach, which leads to a conclusion in which the church in the 4.0 need to anticipate what will happen in the future, by learning from what happened to the Ephesian church, so strong as to guard doctrine and be hard on false doctrine and yet forget the spirit of Gospel preaching as had been done by their predecessors, Paul, Timothy and John. The church should not be caught with the establishment, there are still many souls to be saved, for this is the great commandment of the Lord Jesus (Matthew 18:19-20). The church must give priority to preaching the Gospel as an assignment. Especially, The main one, because without  the gospel world would perished.Keyword: Church; Ephesus; 4.0 era; Gospel Abstrak:Sejak lahirnya gereja pada hari Pentakosta, gereja telah melewati sejarah dunia selama 2000 tahun, namun gereja masih harus belajar dari semua pengalaman yang dialaminya. Tujuan penulisan ini lebih ditekankan kepada sebuah refleksi atau perenungan dari apa yang telah terjadi pada gereja di Efesus dalam kitab Wahyu 2:1-7), dimana Tuhan Yesus sendiri mencela jemaat di Efesus karena mereka telah meninggalkan kasih semula (Wahyu 2:4). Pengalaman sejarah membawa gereja untuk melihat lebih jelas apa yang sudah terjadi dan yang sedang terjadi dan akan terjadi pada gereja di masa depan. Ketika rasul Paulus memulai pelayanan di Efesus, gereja itu berkembang pesat namun setelah beberapa generasi berikutnya gereja Efesus mengalami kemunduran, bahkan gereja itu tidak ada lagi. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan pendekatan literatur, sehingga menghasilkan sebuah kesimpulan dimana  gereja di era 4.0 perlu mengantisipasi apa yang akan terjadi di kemudian hari, dengan belajar dari apa yang sudah terjadi dengan gereja Efesus, yang begitu kuat menjaga doktrin dan keras terhadap ajaran palsu namun lupa kepada semangat pemberitaan Injil seperti yang sudah dilakukan oleh para pendahulu mereka, yaitu Paulus, Timotius dan Yohanes. Gereja jangan terjebak dengan kemapanan, masih banyak jiwa yang harus diselamatkan, karena inilah perintah agung Tuhan Yesus (Matius 18:19-20). Gereja harus memprioritaskan pemberitaan Injil sebagai tugas  yang utama, karena tanpa Injil dunia akan binasa.Kata Kunci : Gereja; Efesus; Era 4.0, Injil
Kristologi Yohanes: Suatu Perlawanan Terhadap Kristologi Docetisme Panggabean, Lenny Susi R.
KERUGMA: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : STT Injili Indonesia Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.2500/kerugma.v6i1.145

Abstract

Salah satu isu yang sampai hari ini selalu masih hangat diperdebatkan adalah mengenai “ke-Manusiaan dan ke-Ilahian Yesus”.  Ada yang mengakui ke-Ilahian Yesus, tetapi menyangkal ke-ManusiaanNya; ada yang menerima ke-ManusiaanNya tetapi menolak ke-IlahianNya; ada yang menerima keduanya yaitu ke-Ilahian dan ke-Manusiaan Yesus, tetapi menyatakan kedua sifat itu bercampur menjadi satu atau menyatakan Yesus setengah Manusia dan setengan Allah.Salah satu bidat yang sangat terkenal yang muncul pada abad pertama dan kedua adalah Gnostisisme yang sangat membahayakan Gereja pada saat itu.  Khususnya Gereja pada waktu pelayanan Yohanes, kira-kira 70 tahun setelah Yesus disalib. Bidat yang dilawan oleh Yohanes ini secara spesifik dikenal dengan nama Docetisme/Doketisme. Aliran ini adalah salah satu aliran yang paling menentang ke-Manusiaan Yesus. Docetisme berasal dari bahasa Yunani dokein yang berarti menyerupakan. Jadi  Docetisme adalah suatu pandangan yang tidak menerima kemanusiaan Yesus. Docetisme mengajarkan bahwa Yesus adalah sosok Ilahi yang hanya seolah-olah menjadi manusia.Doktrin mengenai Kristus mencakup suatu penelitian tentang pribadiNya dan juga karyaNya dengan mempergunakan literature buku-buku dan Alkitab sebagai sumber yang paling tepat dan benar. Maka,  melalui tulisan ini penulis membuktikan bahwa Kristologi Doketis adalah sesat/bidat, dan kebenaran Kristologi Yohanes lah yang benar,