p-Index From 2021 - 2026
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal JPS
Rustam Awat
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

BENTENG TAWULAGI SEBAGAI PUSAT PERTAHANAN KERAJAAN MORONENE KABAENA Rustam Awat
Jurnal Pendidikan Sejarah Volume VII, No 2, November 2021
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Apa yang melatarbelakangi berdirinya benteng Tawulagi, (2) Bagaimana fungsi benteng Tawulagi pada masa Kerajaan Moronene Kabaena, (3) Mengapa benteng Tawulagi menjadi pusat pertahanan Kerajaan Moronene Kabaena, (4) Peninggalan apa saja yang terdapat di benteng Tawulagi. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian sejarah, yang prinsipnya memiliki empat tahapan yaitu: (1) heuristik (teknik pengumpulan data), (2) kritik (teknik analisis data), (3) interpretasi (penafsiran), dan (4) historiografi (penulisan kisah sejarah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Latar belakang berdirinya benteng Tawulagi disebabkan kondisi keamanan pulau Kabaena yang tidak menjamin keselamatan penduduknya dengan makin gencarnya serangan bajak laut Tobelo. Oleh karena itu dengan segera Da motu’a di Rahadopi menghadap Mokole Sugilara di E’e Mpu’u (Ibu Kota Kerajaan Kabaena) untuk mengusulkan dibuat benteng pertahanan. (2) Fungsi benteng Tawulagi pada masa Kerajaan Moronene Kabaena adalah sebagai pusat pertahanan masyarakat Kabaena dan tempat tinggal Mokole (raja), hal ini dapat dilihat dari letak geografis Benteng Tawulagi yang berada di atas bukit dengan ketingian 1000 mdpl. (3) Benteng Tawulagi menjadi pusat pertahanan Kerajaan Moronene Kabaena dikarenakan benteng Tawulagi adalah benteng pertama yang dibuat oleh Kerajaan Moronene Kabaena. Benteng Tawulagi didirikan oleh Mokole III yaitu Mokole Sugilara pada abad XVI M. Selain itu tempatnya yang sangat starategis untuk berlindung jika masyarakat Kabaena merasa terancam dari pihak luar, dalam hal ini bajak laut Tobelo. Di benteng Tawulagi dikeluarkan perintah oleh Mokole (raja) untuk membuat sistem pertahanan dan keamanan, maka dibuatlah benteng penunjang di antaranya yaitu benteng Tuntuntari di bagian timur, benteng Ventumo dan benteng Tondowatu di bagian barat, benteng Doule dan benteng Nangkaea bagian utara, dan benteng Mata Evolangka di bagian selatan. Dengan demikian maka benteng Tawulagi berada di tengah-tengah benteng penunjang tersebut yang dijadikan sebagai pusat pertahanan dan pemerintahan. (4) Peninggalan yang terdapat di benteng Tawulagi adalah struktur benteng, pintu gerbang (wamba), bastion, meriam, tempat pelantikan Mokole (raja), makam, dan sampah dapur.
RITUAL SIKLUS TANAM PADA MASYARAKAT KATOBENGKE Rustam Awat
Jurnal Pendidikan Sejarah Volume VIII, No 1, Mei 2022
Publisher : Jurnal Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana proses pelaksanaan ritual siklus tanam pada masyarakat Katobengke. (2) Apa makna yang terkandung dalam proses ritual siklus tanam pada masyarakat Katobengke. (3) Fungsi sosial apa yang terdapat dalam proses ritual siklus tanam pada masyarakat Katobengke. Jenis penelitian ini adalah penelitian budaya yang berkaitan dengan ritus (upacara adat) dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedowan wawanacara (interview guide). Sumber tertulis terdiri dari buku-buku, artikel, dan jurnal. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan wawancara, studi kepustakaan, dan observasi lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Proses pelaksanaan ritual siklus tanam pada masyarakat Katobengke dimulai dari tedai (meminta izin kepada makhluk halus), mecika’a kastela (menanam jagung), waa’o (memberi sesaji kepada makhluk halus), fonisi’a liwu yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu fonisi’a liwu pertama (songkawi’a), dimana parabela mancuana naik ke liwu, dan fonisi’a liwu kedua (bongkaana tao) yaitu acara pada saat masa panen tiba, dan mehambisi’a (acara panen yang dikhususkan untuk sesama petani, bisa dilakukan dan tidak dilakukan). (2) Makna yang terkandung pada ritual siklus tanam terdiri atas tedai yang bermakna meminta izin kepada makhluk halus yang mendiami lahan, mecika’a kastela bermakna menanam bibit jagung untuk hasil yang memuaskan, waa’o bermakna memberi makan mahluk halus yang mendiami lahan, fonisi’a liwu pertama songkawi’a bermakna ungkapan rasa syukur karena selama menanam diberi kelancaran, fonisi’a liwu kedua bongkaana tao bermakna ungkapan rasa syukur masyarakat pada hasil panen, dan mehambisi’a bermakna ungkapan rasa syukur para petani pada hasil panen mereka. (3) Fungsi sosial yang terkandung dalam ritual siklus tanam yaitu nilai kebersamaan (berkumpulnya beberapa sanak keluarga, tetangga untuk membantu proses penanam jagung hingga proses panen jagung), nilai gotong-royong (keterlibatan berbagai pihak dalam penyelanggaraan upacara), dan nilai religi (doa atau mantra yang dilantunkan untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, kesehatan dan terhindar dari gangguan makhluk halus selama proses ritual siklus tanam dilaksanakan.