Erlita Tantri
Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

GLOBALISASI DAN MASYARAKAT MENUA TIONGKOK: PARIWISATA DAN POTENSI LANSIA Erlita Tantri
Jurnal Kajian Wilayah Vol 9, No 1 (2018): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.859 KB) | DOI: 10.14203/jkw.v9i1.787

Abstract

China is one of the countries that has a large number of elderly in the world. In 2016, China has 230.8 million elderly people and it is predicted that 40 percent of China's population in 2050 is elderly. Although the elderly are often regarded as a burden for the State and the family, but fortunately the elderly also have substantial potency, especially in the economic realm. One of the Chinese elderly potency is in tourism. In tourism, elderly travel activities are followed by the development of technology and services that related to tourism. This paper tries to observe the potency of Chinese elderly in their leisure time with travel. Filling leisure time with a tour not only can improve the health conditions of the elderly that affect to longer life expectancy, but also stimulate the development of silver hair industry in tourism for China and other countries.Keywords : elderly, leisure time, ChinaAbstrakTiongkok adalah salah satu Negara yang memiliki jumlah lansia yang cukup besar di dunia. Tahun 2016 saja Tiongkok telah memiliki 230,8 juta jiwa lansia dan tahun 2050, diprediksikan 40 persen penduduk Tiongkok adalah lansia. Meskipun lansia kerap dianggap sebagai beban bagi Negara dan keluarga, namun lansia juga memiliki potensi yang cukup besar terutama dalam aspek ekonomi. Salah satu potensi lansia Tiongkok adalah pada sektor pariwisata. Dalam pariwisata, kegiatan berwisata lansia diikuti dengan berkembangnya teknologi dan jasa yang berkaitan dengan turisme. Tulisan ini berupaya melihat potensi lansia Tiongkok dalam mengisi waktu luang dengan berwisata. Mengisi waktu luang dengan berwisata bukan hanya dapat memperbaiki kondisi kesehatan lansia yang berdampak pada harapan hidup yang semakin panjang, namun juga merangsang berkembangnya industri lansia terkait pariwisata di Tiongkok dan Negara lain.Kata kunci : Lansia, waktu luang, pariwisata, Tiongkok
LANJUT USIA (LANSIA) DALAM KEBIJAKAN PARIWISATA DI HONG KONG (TIONGKOK): TAHUN 1978-2016 Erlita Tantri
Jurnal Kajian Wilayah Vol 9, No 2 (2018): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.237 KB) | DOI: 10.14203/jkw.v9i2.797

Abstract

Hong Kong is one of the special administrative regions of China which is very well known as a tourist destination. The increasing number of elderly in someregions ofChinaand the growth of elderly’s interest in tourismhaveencouraged the development of tourism in Hong Kong asthe populartourist destinations for any ages including the elderly. Then, What wasthe tourism policy that had been taken by China, especially the Hong Kong administrationin order to attract tourists from various ages, regions, ethnicities and cultures? What weretourism offers that suppliedby Hong Kongadministrationto tourists including the elderly? Through literature studies and in-depth interviews, this study tries to lookthe tourism policies in China, especially Hong Kong for elderly tourists. China, especially Hong Kongwerevery concerned regarding totourism policiessince the beginning of China's reform or when Hong Kong washeld by the British government. These were related to the role of tourism as one of the money machines for state or regional income. Hong Kong has offereda variety of interesting entertainment for tourists, both young and old. Various offers of tourist entertainment have spoiled visitors, including the elderly. In addition, there are many facilities, tourist infrastructures, and the convenience forgetting any kindsof entertainmentthatintended for elderly tourists. These are that haveled to the increasing number of elderly people to visit Hong Kong tourism.Keywords: elderly, tourism, policy, historyAbstrakHong Kong merupakan salah satu wilayah administrasi khusus Tiongkok yang sangat terkenal sebagai tujuan wisata. Seiring dengan meningkatnya jumlah lansia di sejumlah wilayah di Tiongkok serta berkembangnya minat lansia dalam beriwisata, telah mendorong perkembangan pariwisata di Hong Kong yang menjadi salah satu destinasi wisata favorit bukan hanya bagi kaum muda, anak-anak dan dewasa, namun juga bagi lansia. Lalu, Bagaimana kebijakan pariwisata yang diambil oleh pemerintah Hong Kong dalam rangka menarik wisatawan dari berbagai segmen usia, wilayah, etnis, dan budaya? Bagaimana dengan pariwisata yang ditawarkan Hong Kong kepada wisatawan termasuk lansia? Melalui studi literatur dan wawancara mendalam, studi ini berusaha melihat kebijakan pariwisata di Tiongkok khususnya Hong Kong bagi wisatawan lansia. Tiongkok, khususnya Hong Kong memperlihatkan bahwa pemerintah sangat peduli dengan kebijakan pariwisatanyasejak awal reformasi Tiongkok bahkan sejak di pegang oleh pemerintahan Inggris. Hal ini terkait dengan peran pariwisata sebagai salah satu mesin uang bagi pendapatan negara atau wilayah. Hong Kong sendiri menawarkan beragam hiburan menarik bagi wisatawan, baik muda maupun tua. Berbagai tawaran hiburan wisata telah memanjakan pengunjung termasuk lansia. Selain itu, telah banyak fasilitas, infrastruktur wisata, dan kemudahan untuk mendapatkan jenis hiburan yang ditujukan bagi wisatawan lansia. Hal ini yang mendorong bagi meningkatnya jumlah lansia mengunjungi pariwisata Hong Kong. Kata kunci: lansia, pariwisata, kebijakan, sejarah
Ringkasan Hasil Penelitian ANALISIS BUDAYA DAN IMPLIKASI SOSIAL EKONOMI DALAM PRAKTIK SABUK JALAN TIONGKOK (China’s Belt Road Initiative) Erlita Tantri; Paulus Rudolf Yuniarto; Rita Pawestri Setyaningsih; Wabilia Husnah
Jurnal Kajian Wilayah Vol 12, No 1 (2021): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/jkw.v12i1.889

Abstract

China’s Belt Road Initiative (China’s BRI atau BRI Tiongkok) atau Prakarsa Sabuk Jalan Tiongkok merupakan diplomasi ekonomi dan politik Pemerintah Tiongkok yang bertujuan untuk mengamankan pasokan produksi negara dan devisa, penyebaran modal dan investasi, serta peningkatan hubungan internasional. Selain itu, China’s BRI merepresentasikan peta jalan tentang bagaimana Tiongkok memainkan strategi agar terintegrasi ke dalam ekonomi dunia. Selain itu sekaligus juga memperkuat pokgaruh politik di daerah Sabuk dan Jalan sambil menggabungkan seluruh kepentingan ekonomi, politik, budaya, dan keamanan internal dan eksternal (Mitrovic, 2018). Belt Road Initiative  dikembangkan dari dasar budaya Taoisme, Konfusianisme dan Mohisme yang mengajarkan etika dan hukum dalam bermasyarakat. Budaya Tiongkok menjadi ruh dalam berjalannya Belt Road Initiative. Xi Jinping menyebutkan bahwa Belt Road Initiative memiliki sifat damai, harmoni, terbuka dan makmur yang  sejalan dengan etika yang diajarkan dalam ajaran Konfusianisme, Taoisme, dan Mohisme. Belt Road Initiative  diharapkan membantu negara tersebut mencapai impiannya menjadi negara yang kuat. Dalam perjalanan China’s BRI, Tiongkok melakukan pendekatan sosial budaya dengan negara-negara yang diajak kerjasama. Belt Road Initiative  memberikan manfaat luar biasa bagi Tiongkok sendiri untuk merealisasikan impiannya. Tulisan ini berupaya menggambarkan mengenai ide besar China’s BRI tersebut beserta tantangan dan strategi budaya dan kerjasama lainnya yang dilaksanakan di dalamnya. Pemerintah Tiongkok ingin kerjasama BRI ini tidak berakhir dalam bentuk proyek fisik saja, tetapi juga menciptakan kerjasama bidang sosial dan budaya dan hubungan antar masyarakat. Namun, salah satu masalah yang harus diatasi Tiongkok adalah citra negatif negara tersebut di dunia. Banyak negara yang merasa khawatir terhadap dampak yang ditimbulkan oleh Belt Road Initiative.Kata kunci :China’s Belt Road Initiative (China’s BRI), BRI, BRI Tiongkok, Prakarsa Sabuk Jalan Tiongkok, proyek kerjasama, impian Tiongkok, sosial budaya.