Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Metode Pemberongsongan Buah Terhadap Produksi Jambu Kristal Di Desa Wergonayan Kecamatan Mirit Kabupaten Kebumen Umi Barokah; Nurul Arifin
PUCUK : Jurnal Ilmu Tanaman Vol 2 No 2 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Ratu Samban

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58222/pucuk.v2i2.151

Abstract

Tanaman jambu kristal merupakan tanaman yang saat ini sedang menjadi primadona para petani di Kabupaten Kebumen sehingga banyak sekali petani yang menanamnya dalam skala luas seperti di daerah Kecamatan Mirit. Desa Wergonayan, Kecamatan Mirit membudidayakan tanaman jambu kristal seluas 23 Hektar secara monokultur yang justru berdampak tidak baik pada perkembangan hama tanaman tersebut. Hama yang patut diwaspadai oleh petani jambu kristal yaitu lalat buah. Serangan lalat buah pada buah jambu kristal dapat menyebabkan penurunan hasil panen hingga 90%. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk yaitu untuk mengetahui pengaruh metode pemberongsongan buah pada produksi buah jambu kristal di Desa Wergonayan, Kecamatan Mirit, Kabupaten Kebumen. Adapun perlakuan penelitian yang diberikan yaitu P0 (tidak dibungkus), P1 (dibungkus hanya menggunakan plastik), P2 (dibungkus menggunakan plastik dan dilapisi kertas). Setiap tanaman jambu kristal minimal dilakukan pembrongsongan sebanyak 5 buah dan diulang sebanyak 6 kali tanaman sehingga total jumlah tanaman yang digunakan sebanyak 18 tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pembrongsongan tidak berpengaruh terhadap berat buah(BB), Berat buah pertanaman (BTL), ukuran buah (UB), warna buah (WB), dan kemanisan buah (KB). Namun demikian buah yang diberongsong dengan menggunakan plastik PP menunjukkan berat buah per sampel paling tinggi yaitu sebesar 0.31 kg jika dibandingkan dengan bauh yang diberongsong dengan menggunakan plastik PP yang dilapisi kertas minyak (P2) yaitu sebesar 0.29 kg dan bauh yang tidak diberongsong (P0) dengan berat buah per sampel sebesar 0.18 kg. Perlakuan P1 yaitu pemberongsongan dengan plastik PP juga memberikan ukuran buah paling tinggi yaitu 7.63 cm jika dibandingkan dengan perlakuan P2 dan P0 yaitu 7.38 cm dan 6.12 cm. Variabel berat buah per tanaman paling tinggi ditunjukkan oleh perlakuan P1 yaitu dengan pembrongsongan plastik PP yaitu 3.85 kg dibandingkan dengan perlakuan yang lainnya. Namun demikian perlakuan P0 yaitu tanpa pemberongsongan menunjukkan kemanisan buah paling tinggi yaitu 8.12 yang diukur dengan menggunakan alat Brix refraktometer dibandingkan dengan perlakuan P1 dan P2 yang hanya 7.95 dan 7.63. Warna buah terbaik ditunjukkan oleh perlakuan P0 yaitu tanpa pemberongsongan.
PENYULUHAN MANFAAT SINAR MATAHARI PADA PEMBUATAN PUPUK PSB (PHOTHOSINTETYC BACTERIA) BERSAMA SISWA SEKOLAH INDONESIA KUALA LUMPUR Umi Barokah; Sri Rahayu; Sri Widayati; Mastsani Durrotul Jannah
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2026): Inpress Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i2.51111

Abstract

Pupuk Photosynthetic Bacteria (PSB) merupakan biofertilizer berbasis bakteri fotosintetik yang memanfaatkan sinar matahari sebagai sumber energi dalam proses produksinya. Penggunaan pupuk ini berpotensi meningkatkan produktivitas tanaman serta menjaga kesehatan lingkungan dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia. Pengabdian masyarakat ini dilakukan dengan metode penyuluhan di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur dengan melibatkan 33 siswa dari kelas 10 hingga kelas 12 sebagai peserta. Kegiatan penyuluhan terdiri dari pemaparan materi oleh narasumber ahli, Ibu Umi Barokah, M.P. dari UMNU Kebumen, serta sesi tanya jawab interaktif yang mengedepankan transfer pengetahuan secara partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta tentang pentingnya sinar matahari dalam produksi pupuk PSB dan motivasi tinggi untuk menggunakan teknologi ramah lingkungan ini. Penyuluhan ini memberikan kontribusi signifikan dalam membekali generasi muda dengan ilmu praktik pertanian berkelanjutan sekaligus mendorong adopsi biofertilizer yang efektif dan ekonomis. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model edukasi pengabdian masyarakat yang berkelanjutan dalam mengembangkan teknologi pertanian ramah lingkungan.